Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Teduh


__ADS_3

“Gak apa-apa, Azka. Ini memang udah jalannya. Aku juga gak akan sanggup kalau menanggung anak ini sendirian. Biarlah masalah ini berlalu,” ujar Alea, yang terdengar sangat pasrah.


Azka hanya bisa menghela napasnya dengan panjang, merasa sangat kaget melihat Alea yang terlihat pasrah di hadapannya.


Setelah kejadian itu, Alea benar-benar merawat dirinya agar pulih kembali seperti semula. Alea tak sendiri, Azka juga membantu dirinya untuk merawatnya, dengan cara datang ke rumah Alea bersama temannya, dan membelikan keperluan Alea yang tidak bisa ia beli sendiri.


Sejak saat itu, Alea menjauh dari Arga, karena perasaan dan hatinya yang harus ia tata ulang. Ia sama sekali tidak ingin, membuat perasaan dan hatinya hancur kembali, ketika ia kembali dengan Arga, dan juga cintanya yang suram itu.


Sampai tiba waktu perpisahan sekolah mereka, Arga dan Alea sama sekali tidak pernah berbincang lagi. Jangankan untuk berbincang, bertemu saja mereka tidak pernah lagi.


Azka terus menemani Alea, sampai mental health Alea kembali normal seperti sedia kala. Tak jarang Azka memberikan pundak dan sandaran, untuk sekadar mendengarkan Alea bercerita.


Karena kedekatan mereka pula, Azka memberanikan diri untuk mengajak Alea ke rumahnya, untuk ia perkenalkan dengan kedua orang tuanya.


Seminggu sekali, Azka rutin mengajak Alea untuk datang ke rumahnya. Ia merasa harus membuat Alea bahagia, dengan cara mendekatkan dirinya dengan keluarganya, yang sangat sayang dengan dirinya.


Beberapa tahun berlalu, Alea dan Azka sudah menyelesaikan sekolah tingkat menengah, kemudian sama-sama memulai perkuliahan di kampus yang sama.


Alea menunggu Azka lulus SMA, agar mereka bisa sama-sama mengemban ilmu di kampus yang sama.


Kedekatan mereka semakin terjalin, dengan Azka yang terus menempel pada Alea. Tak jarang mereka hunting bersama di luar, untuk mencari sesuatu yang mereka butuhkan.


Hari-hari mereka lewati bersama, Alea dan Azka sudah menyelesaikan perkuliahan mereka.


Kini, mereka merayakan kelulusan mereka bersama, di rumah Azka, bersama dengan ayah dan ibu Azka, yang juga sudah mengenal dekat pribadi Alea.


Azka dan Alea sampai di rumah kediaman Azka, dan segera masuk ke dalam.


Di dalam rumah Azka, orang tuanya sudah menyiapkan makan malam spesial, untuk merayakan kelulusan mereka bersama.


“Sudah siap,” gumam Bunda, yang saat ini baru selesai menyiapkan makan malam untuk mereka.


Azka datang bersama dengan Alea, dari arah pintu masuk rumah mereka.


“Halo, Bunda,” sapa mereka bersamaan, membuat Bunda lantas menoleh dan tersenyum di hadapan mereka.

__ADS_1


“Halo, anak-anak. Cepat sekali sampai di rumah?” sapa balik Bunda dengan senyumannya yang sangat ramah.


Senyumannya itu yang membuat Alea jatuh hati dengan keluarga ini. Keluarga ini yang sudah membuat Alea bangkit dari keterpurukan yang pernah ia alami.


Bertahun-tahun Alea menjadikan ibu dari Azka, sebagai tempat ia mengadu. Ia merasa memiliki ibu, setelah sekian lama kehilangan semua itu, karena ia tidak memiliki figure seorang ibu, sejak ia kecil.


“Iya, banyak yang merayakan di kampus, tapi kami gak ikut,” jawab Azka, sembari duduk pada kursi makan yang tersedia.


Alea ikut duduk di kursi sebelah Azka, sembari meletakkan kudapan yang baru saja ia beli untuk makan bersama di rumah ini.


“Oh, kenapa gak ikut merayakan bareng di kampus?” tanya Bunda lagi, tangannya masih sibuk mempersiapkan makanan, yang baru saja Alea bawa.


Bunda melangkah menuju ke arah rak piring, untuk mengambil piring baru sebagai wadah makanan yang Alea beli itu.


“Ah, kita mau di sini aja rayainnya, bareng sama Bunda dan ayah,” ujar Azka, membuat Alea mengangguk kecil mendengarnya.


Bunda tersenyum, “Ya sudah, cuci tangan kalian dulu. Kita makan bareng, sembari nunggu ayah selesai mandi,” suruhnya, Azka mengangguk kecil mendengarnya.


“Ya, Bunda,” jawab mereka bersamaan, kemudian segera menuju ke arah wastafel yang berada di depan pintu masuk kamar mandi.


Mereka membasuh tangan mereka, memastikan seluruh kuman hilang, dan tangan mereka menjadi steril.


Bunda sudah selesai melakukan persiapan. Ia juga duduk di hadapan Alea dan juga Azka, sembari memandang mereka dengan lekat.


“Gimana hasil ujian kalian kemarin?” tanya Bunda.


“Lumayan, walaupun gak bagus-bagus banget,” jawab Azka, sembari tertawa renyah karena dirinya yang tidak mendapatkan nilai lebih baik daripada Alea.


Alea hanya bisa tersenyum, karena ia tidak ingin merendahkan Azka di hadapan orang tuanya.


“Emm ... pasti kamu gak belajar dengan benar. Kalau Alea gimana?”


Alea menunduk malu, “Alea cumlaudge, Bunda!” ujarnya malu, tetapi tegas, membuat Bunda bertepuk tangan mendengarnya.


“Wah ... hebat! Bunda bangga sama kamu!” ujar Bunda, sembari mengelus punggung Alea dengan sangat lembut.

__ADS_1


Alea memandang mereka dengan teduh, karena bersama mereka, ia bisa mendapatkan kehangatan keluarga yang sempat sirna dari hidupnya.


‘Aku sangat menyayangi mereka,’ batin Alea, yang benar-benar sangat menyayangi Bunda dan juga Azka.


Bunda melirik ke arah Azka, “Tuh, masa kalah sama Alea,” selorohnya, Azka hanya bisa memanyunkan bibirnya saja.


“Gak apa-apa, deh. Lelaki memang tugasnya mengalah sama wanita,” ujar Azka, semakin membuat Bunda tertawa renyah mendengarnya.


“Ah, itu mah emang kamunya aja yang gak mau berusaha,” seloroh Bunda lagi, membuat Alea tertawa kecil mendengar Bunda yang menggoda Azka sampai seperti itu.


“Ih, Bunda. Gak apa-apa, lagian yang penting ‘kan kuliah. Soal hasilnya bagus atau enggak, yang penting bisa lulus,” ujar Azka melakukan pembenaran dengan apa yang ia lakukan.


Alea dan Bunda tertawa renyah mendengarnya.


Ayah mereka pun datang, dengan wajahnya yang terlihat sangat bahagia.


“Wah ... sudah pada sampai rumah,” ujar Ayah, membuat Alea dan Azka memandang ke arahnya dengan senyuman.


“Sudah, dong!” jawab Alea dan Azka serempak, membuat mereka tertawa kecil karena kekompakan mereka yang tidak mereka rencanakan.


“Ya sudah, yuk kita makan sama-sama!” ujar Ayah, sembari duduk pada kursi yang masih tersedia di sana.


Mereka pun menyantap makanan bersama, sebagai rasa syukur mereka karena sudah lulus dengan nilai yang cukup memuaskan.


Setelah ini, mereka harus memikirkan tentang pekerjaan yang pantas untuk mereka jalani ke depannya.


“Setelah ini, kalian mau kerja apa?” tanya Ayah, penasaran dengan apa yang mereka ingin lakukan.


“Aku mau coba lamar posis manajer di Epson Group. Siapa tau keterima,” jawab Azka, dengan nada yang sangat percaya diri.


Bunda tertawa renyah, “Ah, nilai kamu aja pas-pasan!” selorohnya, Azka juga tertawa renyah mendengarnya.


“Gak apa-apa, Bunda. Namanya juga coba-coba,” ujar Azka, membuat Bunda tersenyum mengalah.


“Iya, deh ....”

__ADS_1


“Kalau Alea mau kerja apa?” tanya Ayahnya lagi.


Alea memandang ke arah mereka dengan tegas, “Saya ingin mencoba melamar menjadi guru TK,” jawabnya lantang.


__ADS_2