Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Tidak Enak Badan


__ADS_3

Sepulang sekolah, Azka tak sengaja melihat Alea yang sedang berjalan menyusuri lorong sekolah mereka. Terlihat wajah Alea yang sangat pucat, sehingga membuat Azka menjadi sangat penasaran dengan kondisi yang dialami Alea saat ini.


Matanya mengerenyit, “Alea pucet banget?” gumam Azka, sembari tetap memperhatikan ke arah Alea.


Alea berjalan dengan gontai, sembari memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit. Ia merasa ada yang aneh dari dirinya, karena saat ini ia menjadi sangat lemas dan juga sakit kepala. Belum lagi rasa mual yang selalu membuatnya merasa sangat terganggu.


Masih tak habis pikir, dengan sikap Arga yang menurutnya sangat jahat padanya. Sebelum sampai ke lorong tadi, Alea menghampiri Arga ke kelasnya. Selain ada masalah mengenai kesalahpahaman mereka tadi, Alea juga sudah tidak kuat dengan keadaannya dan hendak meminta Arga untuk mengantarkannya pulang ke rumah.


Alea berdiri di hadapan Arga, yang saat ini sedang merapikan bukunya ke dalam tas.


“Arga,” sapa Alea, aktivitas Arga terhenti sejenak karena Alea yang kini berada di hadapannya.


Rasa malas itu kemudian muncul kembali di benak Arga, karena teringat dengan permasalahan mereka sebelum jam pelajaran dimulai tadi. Arga kembali memasukkan bukunya ke dalam tas dengan keadaan sangat malas, dan segera meninggalkan Alea di sana.


“Arga, tunggu! Aku mau ngomong sebentar!” pekik Alea, sembari menahan tangan Arga.


Beberapa temannya melewati mereka, dan menyenggol bahu Arga dengan sengaja untuk memberikan kode padanya.


“Duluan ya Ga,” ujar temannya.


“Oke, hati-hati.”


Mereka pun berlalu pergi meninggalkan Alea dan Arga di sana. Saat ini, kelas mereka sudah sangat sepi dari para murid. Hanya ada mereka di dalam kelas tersebut. Hal itu membuat suasana menjadi sangat mencekam.


“Ada apa, sih? Kenapa kamu nyamperin aku ke kelas? Udah aku bilang, ‘kan? Jangan deketin aku kalau lagi di sekolah!” bentak Arga sinis, membuat Alea merasa sangat sedih menerima bentakan yang Arga berikan padanya.


Hati siapa yang tak sakit, ketika kekasihnya membentaknya seperti itu. Begitulah yang Alea rasakan saat ini, sampai hatinya merasa sangat perih berhadapan dengan Arga.


“Kenapa kamu marah-marah terus sih sama aku? Aku minta maaf, kalau aku ada salah sama kamu,” ujar Alea yang merendah serendah mungkin di hadapan Arga saat ini.


Arga hanya membalas tatapan Alea dengan tatapan yang menyeleneh, “Huh, kalau kamu ada salah? Jelas-jelas kamu ada salah karena udah ke kelas aku! Udah aku bilang, jangan deketin aku di sekolah. Gimana kalau ada yang ngadu ke Azura?”


Karena merasa sangat bersalah, Alea hanya bisa pasrah dan diam mendengarnya.


Arga menghempaskan tangan Alea dengan kasar, membuat Alea merasa sangat kaget ketika mendapatkan perlakuan kasar dari Arga.


“Ya ampun, kamu kasar banget sih, Ga!” bentak Alea, yang sudah tidak tahan dengan sikap Arga yang kasar.

__ADS_1


Bukannya merasa bersalah, Arga malah menatap Alea dengan sangat sinis.


“Emangnya kenapa kalau aku kasar? Kamu mau apa, hah? Mau kita putus?” tantang Arga dengan sinis, membuat Alea menjadi sangat terkejut dengan apa yang Arga katakan.


“Apa, Ga? Putus? Kenapa kamu seenaknya bilang putus, sih? Kenapa sih, Ga? Aku berjuang mati-matian sampai rela ngelakuin apa aja buat kamu, kenapa kamu malah seenaknya ngomong putus sama aku?” ujar Alea, yang tak habis pikir dengan apa yang ada di pikiran Arga.


Arga tak memedulikan apa yang Alea bicarakan. Yang ia tahu, hanyalah perasaannya yang sedang tidak mood dengan Alea.


“Udahlah, aku masih gak mood sama kamu!” ujar Arga, yang lalu meninggalkan Alea di sana.


Alea sangat tidak terima dengan Arga yang meninggalkannya di sana, “Tunggu, Ga! Paling enggak, kamu anter aku pulang sekarang! Aku gak kuat!” teriak Alea, yang sudah mencapai puncaknya.


Air matanya berlinang seketika, tak tertahan lagi dengan pelupuk matanya yang sudah sangat lemah.


Langkah Arga terhenti, tanpa membalikkan tubuhnya ke arah Alea, ia hanya bisa diam sejenak mendengarkan ucapan Alea di sana.


“Anter aku pulang, aku gak enak badan.”


“Maaf, aku gak bisa anter kamu pulang. Aku harus antar Azura pulang,” tolak Arga, sontak membuat air mata Alea spontan keluar kembali dengan sangat derasnya.


Arga meninggalkan Alea di sana, membuat hati Alea terluka berkali-kali karena perkataan dan perbuatan Arga yang sangat menyiksanya. Hatinya mulai goyah, tetapi lagi-lagi ia menghela napasnya berusaha untuk sabar menghadapi Arga yang sedang tidak terkendali emosinya.


“Alea,” sapa Azka, membuat langkah Alea terhenti sejenak dan memandang ke arah Azka yang kini sudah berdiri di hadapannya.


Terlihat gerak-gerik Azka yang sangat khawatir dengan Alea, membuat Alea merasa agak risih karenanya.


‘Kenapa dia keliatannya care sama aku, ya?’ batin Alea yang merasa sangat bingung karena melihat ekspresi Azka yang seperti itu di hadapannya saat ini.


“Muka kamu kok pucet? Kamu sakit? Gak enak badan?” tanya Azka, Alea hanya bisa memandangnya dengan datar.


“Apa pedulimu?” tanya balik Alea dengan sinis, membuat Azka menghela napasnya dengan panjang.


Sudah secara terang-terangan seperti ini Azka memedulikan Alea, tetapi Alea sama sekali tidak mau dipedulikan oleh Azka.


‘Di saat seperti ini, masih aja dia gak mau terbuka!’ batin Azka, yang merasa kesal dengan keadaan ini.


“Tentu aku peduli banget sama kamu. Gimana kalau kamu sampai pingsan di jalanan?” ujarnya, membuat Alea memandangnya dengan sinis.

__ADS_1


“Gak usah peduliin aku, ya! Urus aja urusan kamu sendiri!” bentak Alea, yang berjalan melewati Azka.


Azka menghela napasnya dengan panjang, lalu segera membalikkan tubuhnya ke arah Alea yang sudah melewatinya.


“Aku peduli sama kamu, sama seperti kamu peduliin aku tadi pagi!” teriak Azka, sontak membuat Alea menghentikan langkahnya dengan cepat.


Alea hanya bisa terdiam, mendengar ucapan Arga yang sepertinya sangat mengusik hatinya.


‘Kenapa aku peduli sama dia tadi pagi? Aku juga gak sadar, saking bingungnya harus ngomong apa,’ batin Alea, yang baru sadar dengan apa yang ia lakukan kepada Azka.


Hal itu yang memicu Azka untuk menjadi lebih perhatian padanya. Alea tidak ingin sampai Arga mengetahui hal ini, karena biar bagaimanapun juga, semua permasalahan yang terjadi pada mereka, berasal dari kesalahpahaman Arga dengan Azka.


Azka melangkah menghampiri Alea dan berdiri di sebelahnya, “Aku antar kamu pulang, ya?” ujarnya, sontak membuat Alea mendelik kaget mendengarnya.


Terngiang ucapan Arga saat ia menemuinya di kelas tadi, “Maaf, aku gak bisa anter kamu pulang. Aku harus antar Azura pulang.”


Hal itu membuat Alea bertambah kesal dengan keadaan.


‘Kenapa Arga yang jelas-jelas pacar aku, gak bisa anter aku pulang? Kenapa malah Azka yang mau nganterin aku pulang?’ batin Alea yang sudah sangat kesal dengan keadaan ini.


Azka bosan menunggu Alea berbicara, atau merespon apa yang ia katakan.


“Mau jalan sendiri, atau mau dituntun? Sepertinya kamu lemas banget,” ujar Azka, membuat wajah Alea seketika merona malu mendengarnya.


“Apaan, sih? Lagian, siapa juga yang setuju kamu anter pulang?” bantah sinis Alea, Azka hanya bisa memandangnya dengan datar.


“Kamu udah nolongin aku waktu di ruangan UKS. Aku cuma mau balas budi aja kok ke kamu.”


“Gak perlu balas budi, memang tugas aku sebagai ketua PMR yang baik, buat ngerawat kamu waktu itu!” bentak Alea, Azka masih tidak mau kalah dengannya.


“Sekarang juga udah tugas aku sebagai teman yang baik, untuk antar kamu sampai rumah!”


Mendengar hal itu, Alea merasakan kesal yang lebih dahsyat daripada tadi.


Alea memandang Azka dengan sinis, “Heh, siapa juga yang mau temenan sama kamu?!” bentak Alea, Azka hanya bisa tersenyum sembari terkekeh mendengar ucapan Alea yang sangat sadis itu.


“Gak usah galak-galak, kali! Biar aku antar kamu pulang! Aku gak tega ngelihat kamu kenapa-kenapa di jalan.”

__ADS_1


Mendengar ucapan Azka yang terdengar sangat tulus, Alea hanya bisa memandangnya dengan sinis tanpa bisa membalas ucapannya. Ia berjalan mendahului Azka, sebagai isyarat ia menyetujui permintaan Azka untuk mengantarkannya kembali ke rumah.


‘Gak ada pilihan lain lagi. Daripada aku pingsan di jalan pulang nanti, lebih baik aku ikut sama dia!’ batin Alea, sembari melangkah mendahului Azka di sana.


__ADS_2