Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Bertemu Kembali


__ADS_3

"Anakku, sudah tidak ada di dunia," jawab Alea, seketika Ariel pun menunduk, paham dengan apa yang ia katakan.


Anak seperti Ariel tergolong sangat cerdas. Akan tetapi, ia juga masih seorang anak berusia 5 tahun, yang masih memiliki sisi kanak-kanaknya.


"Jika dia masih ada, mungkin usianya tak beda jauh denganmu," tambah Alea, semakin membuat Ariel menunduk saja mendengarnya.


Sisi kemanusiaan Ariel tersentuh, ia terlihat sangat sedih ketika mendengar Alea mengatakan seperti itu.


Alea memandangnya dengan bingung, "Ada apa, Ariel? Kenapa kamu kelihatan sedih?" tanyanya.


Ariel memandang ke arah Alea dengan dalam, "Aku kehilangan adikku, baru-baru ini."


Ucapan Ariel membuat Alea mendelik kaget, karena ternyata Ariel mengalami hal seperti itu. Alea turut berdukacita, dengan yang Ariel ceritakan.


"Aku turut bersedih," ujar Alea, yang benar-benar tahu rasanya kehilangan.


Di sela perbincangan mereka, Ariel tak sengaja melihat ke arah pintu masuk ruangan. Ia hanya bisa memandang, tak bisa berkata-kata. Alea yang penasaran, lantas memandang juga ke arah pintu ruangan tersebut.


Alea terkejut, saking terkejutnya karena melihat seseorang yang ada di hadapannya, obat dan plester yang ia pegang sampai terjatuh dari genggamannya.


Matanya mendelik, tangannya gemetar, dengan lidah yang kelu, karena melihat seseorang yang sangat ia kenali.


"Arga?" Gumam Alea yang terkejut karena melihat Arga yang ada di hadapannya.


Tak hanya Alya, Arga pun terkejut melihat keberadaan Alea di hadapannya saat ini. Namun Ia hanya bisa memandangnya saja, tanpa bisa berkata apa pun.


Mereka sama-sama bergeming, dengan hanya saling memandang satu sama lain, dengan tatapan yang sangat bingung dan juga tidak percaya.


"Alea ...," gumam Arga.


Ariel yang melihat mereka yang terlihat terkejut, menjadi sangat heran dibuatnya.

__ADS_1


"Mis Alea, apa kamu mengenal ayahku?" tanya Ariel dengan sangat polos.


Mendengar pertanyaan dari Ariel, Alea hanya bisa diam tanpa berekspresi apa pun.


Alea memandang Ariel masih dengan tatapan tidak percaya, "Dia ayahmu?" tanyanya, membuat Ariel mengangguk.


Sungguh tak disangka, seorang anak yang sangat membuatnya penasaran, ternyata adalah anak dari mantan kekasihnya yang sangat membuatnya hancur. Sekian lama Alea berusaha untuk merapikan perasaan dalam hatinya, seketika hanya dalam waktu 1 detik perasaan tersebut muncul kembali.


Rasa sakit yang ia derita sungguh sangat luar biasa, sampai-sampai harus kehilangan anak yang ia kandung, dari benih mantannya tersebut. Namun, belum sempat Alea memberitahu tentang hal ini, ia sudah tidak bisa menemukan Arga lagi.


Setelah kejadian tentang Alea yang keguguran itu, ia tidak bisa menemukan lagi keberadaan Arga. Ia juga tidak bisa menghubungi Arga lagi, karena semua akses untuk menghubunginya sudah tidak bisa digunakan.


Alea kehilangan dirinya.


Namun tak disangka, saat ini Alea malah bertemu lagi dengan seseorang yang sudah membuat kehidupannya hancur. Tanpa disangka dan diduga, Alea benar-benar sangat tidak mengerti dengan kehidupan ini.


Semakin ia mengejarnya, semakin ia pergi. Semakin ia melupakannya, semakin ia muncul di hadapannya.


"Apa yang kau lakukan di sini Alya?" tanya Arga.


Untuk menjawab pertanyaan Arga,.butuh effort yang sangat besar dari Alea. Untuk berbicara pun ia sangat sulit, apalagi menjawab pertanyaan dari Arga.


'Aku ingin menjawab pertanyaanmu, tapi aku tidak bisa berbicara saat ini. Entah mengapa lidah ini tak kuasa,' batin Alea, yang benar-benar tidak bisa berbincang dengan Arga.


Ariel masih memandangi mereka dengan perasaan heran dan juga kebingungan. "Mis Alea adalah guruku, Ayah. Tadi aku tidak sengaja jatuh, lantas dia menolongku," ujar Ariel menjelaskan.


Mendengar ucapan dan penjelasan dari Ariel, Arga pun semakin tidak percaya dengan kebetulan seperti ini. Sudah sangat lama ia tidak melihat sosok Alea. Dia juga sudah menghindari Alea sebisa mungkin, tetapi hari ini ia kembali bertemu dengan orang yang pernah ia cintai.


'Bagaimana bisa?' batin Arga yang tidak percaya dengan apa yang ia hadapi ini.


Karena tidak bisa menjawab apa pun, Alea segera bangkit untuk mengambil obat yang terjatuh tadi. Dengan salah tingkah, Alea pun berusaha menatap ke arah Arga.

__ADS_1


"Permisi, Tuan. Saya pamit," ujar Alea yang masih sangat hati-hati untuk berbincang dengan Arga.


Alea pun pergi dari sana, tetapi tangan Arga menahannya sehingga membuat Alea kembali menatap ke arah Arga.


Karena melihat Ariel yang ada di hadapan mereka, Alea menjadi tidak senang dengan apa yang ia lakukan. Ia pun lantas melepaskan diri dari tangan Arga, yang menahan tangannya itu.


"Maaf Tuan, ada anakmu di hadapan kita," ujar Alea, yang lalu segera pergi dari sana.


Arga tidak bisa menahannya, karena Ariel yang ada di hadapannya sedang menatap dan memerhatikan mereka.


'Kenapa bisa sekebetulan ini? Jauh aku meninggalkan kota A untuk pergi ke kota ini, tapi pada akhirnya aku bertemu lagi dengan dia di sini. Sia-sia aku melupakannya,' batin Arga.


"Kenapa Ayah yang jemput? Kenapa gak suruh Arnold aja?" tanya Ariel, penasaran dengan keadaan yang tak biasanya.


Arga memandang ke arah Ariel, "Ayah cuma khawatir. Jadi, harus memastikan sendiri," ujarnya menjelaskan, tetapi masih membuat Ariel penasaran.


"Apa yang Ayah khawatirkan?" tanyanya lagi, masih dengan nada yang polos.


'Seseorang yang dekat denganmu, yang sering Arnold ceritakan,' jawab Arga, yang tak bisa ia ungkapkan di hadapan Ariel.


Karena pelayan itu sudah memberikan informasi mengenai hal ini, Arga pun memastikan sendiri dengan apa yang pelayannya katakan padanya.


Namun, tak disangka, ternyata orang yang sudah mendekati Ariel adalah mantan kekasihnya sendiri.


Arga memandang tegas ke arah Ariel, seperti pandangannya yang biasa ia lontarkan pada Ariel. "Tolong tunggu di mobil, ada yang harus Ayah lakukan," ujarnya, membuat Ariel mengangguk kecil tanpa banyak bertanya.


Dengan langkah yang kecil, Ariel pun berhati-hati melangkah menuju ke arah mobilnya. Kakinya yang masih terasa sakit, membuatnya harus berhati-hati melangkah agar rasa sakit itu tidak terasa sangat berarti.



__ADS_1


__ADS_2