
Alea benar-benar tidak bisa menahan emosinya lagi. Ia bangkit di hadapan Arga, dan menampar keras wajah Arga, sekeras yang ia mampu.
Semua itu membuat Arga hampir terpental, saking kuatnya Alea menampar wajah Arga.
“Gila kamu, Arga!” pekik Alea, yang benar-benar sangat kesal dengan yang Arga lakukan padanya itu.
Hubungan mereka sangat rancu, dengan terus menambal lubang yang terjadi di dalam hubungan mereka. Namun, kali ini mereka sama sekali tidak bisa menambal lubang tersebut.
Mereka sama-sama terdiam sejenak, sampai akhirnya kemarahan Arga terpacu, ketika ia merasa terluka dengan ucapan Alea yang mengatakan bahwa ia sudah gila.
Matanya mendelik ke arah Alea, “Jaga mulut kamu, Alea! Dasar wanita ******!” pekik Arga dengan kesal, membuat Alea mendelik kaget mendengar ucapan Arga yang seperti itu padanya.
Ini adalah kali pertama Arga mengatakan Alea dengan sebutan yang tidak pantas seperti itu. Alea merasa sangat kesal, karena ia telah terluka berulang kali, dengan orang yang sama.
“Benar kata Azka, kamu gak akan pernah bisa bersama denganku! Kamu freak!!” pekik Alea kesal.
Arga lalu bangkit di hadapan Alea, dan hendak melayangkan tangannya ke arah wajah Alea.
“Dasar ******!”
Alea ketakutan, dan hanya bisa menunduk untuk menhindari terkena tamparan Arga di wajahnya.
Seketika pandangan Arga mendelik, ketika mendapati tangannya yang tertahan oleh seseorang.
Ya, orang itu adalah Azka. Ia tidak serta-merta meninggalkan Alea begitu saja, karena ia tahu akan terjadi hal seperti ini pada mereka.
“Cukup, Arga!” bentak Azka, dengan kesabaran yang sudah habis.
Alea memandang ke arah Azka, dengan deraian air mata pada pipinya. Ia merasa sangat terkejut, karena ternyata Azka datang pada waktu yang tepat, saat ia membutuhkannya.
“Azka!” pekik Alea, tetapi Azka sama sekali tidak memandang ke arah Alea.
Azka malah fokus kepada Arga, dan segera menekuk lengan tangan Arga, sampai Arga merasa kesakitan.
“Ahh!” pekik Arga, yang benar-benar merasa sakit pada lengan kanannya.
Tentu saja Azka tidak akan membiarkan Arga melukai wanita yang ia cintai. Meskipun wanita itu menolak cintanya, tetapi ia sama sekali tidak memedulikannya. Yang ia pedulikan hanyalah keselamatan Alea. Itu saja.
__ADS_1
“Gak akan gue terima, perkataan lo tentang Alea! Gue juga akan habisin lo sekarang juga!” pekik Azka, yang benar-benar sudah kerasukan sesuatu, yang membuatnya sangat marah kepada Arga.
Terjadi perkelahian di sini. Azka benar-benar tidak akan melepaskan Arga begitu saja, karena ia merasa sangat kesal dan sudah lewat dari batas toleransi yang ia miliki.
Setiap tinjuan melesat ke arah wajah dan juga sekitar tubuh Arga. Arga hanya mengerang kesakitan, tak mampu lagi menolak serangan Azka yang membabi buta.
Sementara itu, Alea sama sekali tidak habis pikir dengan apa yang mereka lakukan di hadapannya. Mereka seperti anak-anak, yang terlalu memperdebatkan permasalahan di antara mereka.
“Azka, cukup! Jangan dilanjutin lagi!” teriak Alea, yang berusaha untuk melerai mereka.
Namun, Azka semakin menarik Arga agak menjauh dari hadapan Alea. Ia tidak ingin Alea sampai terkena pukulannya, karena mungkin itu akan membuatnya sangat mereka bersalah, seandainya terjadi.
“Bajingan ini, gak akan gue lepasin!” pekik Azka, yang benar-benar sudah kehabisan kesabarannya di hadapan Arga dan juga Alea.
Sedikitnya Alea masih sangat khawatir dengan keadaan Arga, tetapi akal sehatnya menyadarkannya dengan apa yang sudah Arga lakukan padanya.
‘Dia sudah buat kesengsaraan dalam hidupku. Dia sudah membuangku berulang kali, dan aku masih peduli dengannya?’ batin Alea, yang benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang terjadi padanya.
Mereka sudah sepenuhnya mengeluarkan emosi mereka, sampai akhirnya Arga tertunduk lemah, dan Azka pun sangat puas akan hal itu.
Arga tersungkur di bawah kaki Azka, dan Azka yang meletakkan kakinya di atas kepala Arga.
Ketika hendak menghajarnya lagi, Alea menahan tangan Azka, agar tidak melanjutkan apa pun yang ia lakukan pada Arga.
“Jangan lanjutin lagi, Azka! Jangan! Aku mohon!” pinta Alea, yang benar-benar tidak ingin terjadi sesuatu pada keduanya.
Azka yang sudah terbakar emosi, segera memandang sinis ke arah Alea. “Biarin lelaki bajingan ini mati, Al! Aku gak akan pernah rela ngelihat kamu disakiti lagi sama dia!” ujarnya, tersulut emosi dengan keadaan.
“Kalau kamu lanjutkan, nanti kamu bisa kena masalah. Kamu bisa dipenjara!” ujar Alea, berusaha untuk menahan Azka lagi.
Azka yang tidak ingin menyiakan waktunya di dalam jeruji besi, menyudahi untuk melakukan tindakan kriminalnya terhadap Arga. Ia tidak mau meninggalkan Alea, hanya karena masalah seperti ini.
Dengan berat hati, Azka pun menyudahi semuanya. Ia segera merapikan kemejanya yang sudah berantakan, dan juga merapikan rambutnya yang sudah tidak tertata.
Alea memandang ke arah Arga, “Pergi dari sini, Arga! Jangan pernah kembali lagi di hadapan aku! Aku gak akan pernah mau masuk ke dalam perangkap kamu lagi! Sudah cukup dua kali, aku tidak mau kali ketiga lagi!” ujarnya dengan perasaan dan emosi yang sudah sepenuhnya keluar dari hatinya.
Arga berusaha bangkit, dan berdiri di hadapan Alea dengan bersusah payah.
__ADS_1
“Al, maafin aku,” ujar Arga, yang benar-benar menyesal dengan apa yang ia lakukan terhadap Alea.
“Aku udah maafin kamu, tapi untuk kembali sama kamu, aku rasa aku gak bisa. Ini sudah cukup, jangan sampai permasalahan ini berlanjut sampai nanti,” ujar Alea, masih dengan penuh emosi di dalam hatinya.
Arga memandang ke arah Azka dengan nanar, “Lo suka sama Alea?” tanyanya.
“Kalau iya, apa urusan lo?” jawab Azka dengan ketus, membuat Arga membuang pandangannya darinya.
“Cih ....” Arga merasa sangat kesal mendengarnya.
“Pergi sekarang dari sini! Gue gak mau lihat lo lagi di sini! Kalau lo atau suruhan istri lo berani datang lagi, gue gak akan segan buat habisin nyawa lo!” ancam Azka, membuat Arga merasa takut dengan ancamannya.
‘Kali ini, dia gak main-main,’ batin Arga, yang menganalisis semua yang Azka katakan.
“Simpan aja duit lo yang gak berseri itu! Gue masih sanggup dan mampu buat biayain hidup Alea! Jangan pernah lo sentuh Alea lagi! Gue beneran gak akan pernah maafin lo, kalau itu semua beneran sampai terjadi!” ujar Azka lagi, yang membuat Alea memandangnya dengan sendu.
‘Azka, segitu sayangnya kamu sama aku?’ batin Alea, yang merasa sudah terbuka pemikirannya tentang Azka, yang benar-benar mencintainya.
Kini, Alea berusaha memikirkan tentang perasaan Azka padanya. Namun, ia benar-benar tidak habis pikir, mengapa Azka memendam perasaannya selama ini?
‘Kenapa dia sangat kuat memendam perasaannya itu? Apalagi dia tahu, kalau aku sudah tidak memiliki kehormatan lagi. Aku sudah dua kali kehilangan anakku, dan dia masih menginginkanku. Apa hatinya terbuat dari baja?’ batin Alea, yang benar-benar sangat tidak mengerti dengan yang Azka pikirkan tentangnya.
Karena sudah merasa malu, Arga pun segera pergi dari sana. Ia segera meninggalkan Alea dan juga Azka, dan berpikir tidak akan pernah menemuinya lagi.
Sementara itu, Azka dan Alea benar-benar sangat kaku saat ini. Alea memandang Azka dengan tatapan nanar, merasa sangat bingung harus mengatakan apa lagi pada Azka.
“Mmm ... Azka. Aku—”
Alea mendelik seketika, karena Azka yang tiba-tiba saja memeluknya dengan erat. Ia tidak habis pikir, dengan apa yang terjadi pada Alea itu.
“Sudah, jangan bicara apa pun. Yang penting kamu gak apa-apa,” ujar Azka, membuat Alea merasa sangat sendu mendengarnya.
Mereka sejenak berpelukan, meleburkan perasaan yang sama-sama mereka rasakan saat ini.
Karena kejadian seperti ini, Alea pun mempertimbangkan tentang perasaan Azka padanya.
‘Azka benar-benar sayang sama aku. Apakah aku bisa menerima dia?’ batin Alea, yang benar-benar tidak mengerti dengan hal ini.
__ADS_1
Mereka sejenak meleburkan perasaannya melalu pelukan, dengan Alea yang juga sudah menyerah dengan amarahnya terhadap Azka.
***