
Alya menunduk karena bingung harus mengatakan apalagi kepada Azka. Sementara itu Aska merasa gusar karena ia sudah tahu niat buruk yang akan Arga lakukan pada Alea.
Karena tidak mendapat jawaban dari Alea, Azka pun menggenggam tangan Alea sembari memandangnya dengan lekat.
“Al, percayalah. Dia pasti akan bersikap buruk kepadamu, jika kamu menerimanya kembali. Kamu harus ingat masa lalu kamu dan dia sangatlah perih. Ia bahkan sudah memiliki anak dan juga sudah memiliki istri, untuk apa lagi dia menemuimu, kalau bukan ingin mengajakmu kembali menjalin hubungan bersamanya?” ujar Azka menjelaskan apa yang sedari tadi menjadi beban di dalam pikirannya.
Memang benar apa yang Azka katakan. Alea juga merasakannya, tetapi hal itu masih dipertimbangkan oleh Alea, karena ia merasa Arga benar-benar tulus ingin memintanya untuk kembali bersamanya lagi.
“Aku nggak tahu Azka. Biarlah kehidupan ini mengalir seperti air. Aku tidak bisa menentukannya sekarang. Ibarat sebuah batu, air yang menetes pada batu itu masih terlalu sedikit, sehingga tidak bisa membuat batu tersebut pecah,” ujar Alea membuat Azka hanya bisa pasrah mendengarnya.
Sedikit banyaknya Azka merasa kesal dengan ucapan yang Alea katakan padanya. Namun kembali lagi, itu semua adalah pilihan Alea. Ia sama sekali tidak bisa melarang Alea, karena ia menyadari bahwa ia bukanlah siapa-siapa bagi Alea.
Azka menarik kembali tangannya dari tangan Alea, “Ya sudahlah, terserah apa katamu saja. Aku tidak mau ikut campur. Yang jelas, aku akan selalu ada di belakang kamu dan terus mendukung apa pun yang kamu ambil!” ujar Aska membuat Alea merasa sangat tersentuh mendengarnya.
Sebenarnya Alea merasa tidak enak hati dengan Azka. Namun ini adalah pilihan hidup yang ia ambil. Memang sudah lama ia bersama dengan Azka, tetapi perasaan dan hati Alea tidak bisa dipaksakan begitu saja.
‘Maafin aku, Azka,’ batin Alea, yang benar-benar tidak bisa melakukan apa pun lagi saat ini.
Azka melihat sikap Alea yang terlihat bingung dan gusar. Ia merasa perkataannya sangat membuat Alea terganggu.
“Maaf, kali ini aku tidak akan tinggal diam. Aku tidak akan menghalangimu, tapi aku juga tidak akan tinggal diam, kalau terjadi sesuatu hal yang tidak baik denganmu. Aku tidak mau kejadian 6 tahun lalu harus terulang lagi, dan membuatmu merasa sakit terpuruk seperti itu lagi,” ujar Azka membuat Alea mengerti ketika mendengarnya.
Sebenarnya Alea juga sedang mempertimbangkannya, apakah akan menerima Arga lagi atau tidak. Iaa hanya bisa menunggu, dan hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi nantinya dengan mereka.
Tiba-tiba saja keresahan itu membuat Alea merasa penasaran. Ia sangat penasaran dengan perasaan yang Azka miliki untuknya.
Alea memandangnya dengan dalam, “Aku masih bingung suatu hal,” ujarnya.
“Apa yang kau bingungkan?” tanya Azka.
Sejenak mereka saling pandang, membuat suasana menjadi sangat kaku saat ini.
__ADS_1
“Sebenarnya, apa sih yang kamu pikirkan tentang aku? Aku yang sudah seperti ini, apa kamu memikirkan hal yang buruk tentang aku?” tanya Alea yang merasa penasaran dengan jawaban Azka.
Azka menghela napasnya dengan panjang, “Aku sama sekali nggak pernah berpikiran buruk tentang kamu, Alea. Justru sebaliknya, aku terus memikirkanmu dan takut terjadi sesuatu hal yang buruk kepadamu,” ungkapnya menjelaskan.
Perasaan Alea menjadi goyah. Ia merasa Azka sangat memerhatikannya dengan maksimal, berbeda dengan yang Arga lakukan padanya dulu.
“Apa kamu menyimpan perasaan untuk aku?” tanya Alea, yang masih benar-benar penasaran dengan perasaan yang Azka rasakan.
Mendengar pertanyaan dari Alea, Azka pun mendelik bingung, karena ternyata selama ini hal baik yang ia lakukan tidaklah bermakna di mata Alea. Alea sama sekali tidak mengerti hal baik yang sudah Azka lakukan untuknya.
“Jadi, selama ini kamu sama sekali nggak ngerti?” tanya Azka tak menyangka.
Alea hanya bisa memandangnya dengan bingung, karena perasaannya pada Azka hanya sebatas perasaan terhadap sahabatnya saja, tidak lebih dari itu.
Melihat gelagat Alea yang kebingungan, Azka pun merasa kesal dan segera bangkit di hadapan Alea.
“Aku pulang dulu,” pamit Azka, yang lalu segera keluar dari ruangan apartemen Alea dengan sangat cepat.
Alea memandang ke arah kepergiannya, merasa ada hal yang aneh yang terjadi pada Azka.
Sampai detik ini, Alea pun masih belum mengerti perasaan Azka kepadanya. Salah Azka sendiri, karena Azka tidak mengungkapkannya secara langsung kepada Alea, sehingga Alea tidak bisa mengetahui dan mempertimbangkan perasaan Azka untuknya.
Hanya berbekal mendekati Alea saja, dan sama sekali tidak mengungkapkan semua perasaan yang ia miliki pada Alea.
Handphone-nya berdering, membuat Alea segera memeriksa siapa yang menghubunginya itu.
Terlihat nomor asing yang tidak Alea ketahui. Matanya menajam ke arah layar handphone, karena merasa bingung dengan siapa yang menghubunginya saat ini.
“Siapa ini?” gumam Alea lagi, bertanya-tanya dengan siapa yang menghubunginya.
Karena rasa penasaran Alea sangat tinggi, ia pun segera menerima telepon tersebut yang tidak ia ketahui siapa yang menghubunginya.
__ADS_1
Telepon pun terhubung, Alea merasa sangat ragu untuk menyapanya.
“Halo?” sapa Alea, yang merasa sangat berhati-hati berbicara dengannya.
“Halo, Alea.”
Terdengar suara yang sangat Alea kenal, membuatnya mendelik kaget mendengarnya.
“Arga? Apa kamu Arga?” tanyanya, spontan bertanya seperti itu pada orang yang menghubunginya.
“Ya, Al. Ini aku,” jawab Arga, membuat seketika Alea menjadi gemetaran.
Alea sangat tidak menyangka, kalau ternyata Arga mendapatkan nomor handphone-nya.
“Kamu ... dapat nomor telepon aku dari mana?” tanya Alea, membuat Arga menghela napasnya dengan panjang.
“Kamu gak perlu tau, Al. Yang penting sekarang, aku bisa berhubungan lagi dengan kamu,” ujar Arga, membuat Alea merasa sangat risih mendengarnya.
“Kamu sudah memiliki istri dan juga anak, Arga. Kamu gak bisa seperti ini sama aku!” bentak Alea, merasa sangat kesal dengan Arga, yang menghalalkan segala macam cara, agar bisa bersama dengannya kembali.
“Aku akan menceraikannya, Al. Setelah itu kita akan hidup bahagia bersama,” ujar Arga, berusaha untuk membuat Alea kembali dengannya lagi.
Namun, Alea yang merasa sudah muak, hanya bisa diam mendengar ucapan Arga yang terdengar sangat asal itu.
Mereka sejenak saling diam, karena tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Arga merasa sangat bosan menunggu Alea mengatakan sesuatu.
“Al, kamu masih di sana?” tanya Arga.
“Masih.”
“Bagaimana jawabannya, Al? Apa kamu mau menerima aku kembali? Aku benar-benar sangat ingin bersama kamu,” ujar Arga, Alea merasa sangat kesal mendengarnya.
__ADS_1
“Untuk apa aku mengganggu hubungan pernikahan orang lain?” ujar Alea dengan sinis, membuat Arga kembali menghela napasnya dengan panjang.