
Tangannya gemetaran, ia tidak kuasa melihat Alea yang sudah tidak sadarkan diri, dengan sudah bersimbah darah seperti ini.
Azka menghela napasnya dengan panjang, berusaha untuk mendapatkan kembali kesadarannya.
‘Enggak, bukan waktunya buat takut atau kesel! Sekarang yang penting, Alea selamat dulu!’ batin Azka, yang mengesampingkan perasaannya yang sebelumnya sempat rapuh.
Walau sangat gemetar, Azka menepiskan semua itu demi menyelamatkan Alea dan juga bayi yang ada di dalam kandungannya. Darah Alea menempel pada baju putih Azka, tetapi itu tidak menjadi permasalahan yang besar untuk Azka.
Sekuat tenaga ia menggendong Alea, dan tidak menghiraukan siapa pun yang memerhatikan ke arahnya.
Azka berlarian ke arah ruangan UKS, dengan pandangan mereka yang kaget, bahkan semua orang penasaran dan ingin sekali melihat dari jarak yang dekat.
Azka mendobrak kasar pintu ruangan UKS. Di sana, ada banyak sekali anggota PMR yang tak lain adalah junior dari Alea.
“Ada mobil ambulans gak? Cepet, Alea sedang gawat!!” pekik Azka, sontak membuat semua orang yang ada di ruangan, merasa sangat terkejut.
Mereka segera melakukan apa yang menjadi tugas mereka. Mereka mengatur ambulans, agar bisa segera mengantarkan Alea untuk pergi ke rumah sakit.
***
Azka berhasil membawa Alea ke rumah sakit, untuk mendapatkan pertolongan di IGD. Tak hanya Alea, dirinya juga sudah mendapatkan pertolongan untuk kedua kakinya yang sudah berdarah tidak keruan itu, terkena pecahan beling dan juga paku payung.
Bajunya pun sudah ia buang, saking banyaknya darah yang menempel pada baju putinya itu. Beruntung seorang junior Alea meminjamkan kausnya pada Azka, sehingga Azka tidak terlalu malu.
Azka masih tetap setia menunggu Alea, sampai akhirnya dokter pun keluar karena sudah menangani Alea.
Azka bangkit, kemudian menghampiri dokter yang juga sedang menghampiri ke arahnya. Tak hanya Azka, junior Alea pun ikut bersamanya.
“Gimana keadaan Alea, dok?” tanya Azka, yang tak kuasa bertanya pada sang dokter.
Sang dokter pun menatap ke arah Azka dengan dalam, “Kamu ... siapanya pasien?” tanyanya sinis, mereka saling melemparkan pandangan.
Azka kembali memandang ke arah dokter, “Kami ... temannya pasien, dok.”
“Di mana keluarganya?” tanya dokter, Azka kembali memandang ke arah sang junior.
“Keluarganya gak ada, dok. Tinggal ada ayahnya, tapi ayahnya sekarang lagi di luar kota,” jawab sang junior, yang kelihatannya lebih tahu Alea dibandingkan Azka.
__ADS_1
Azka memandangnya heran, tetapi rasa herannya ia pendam karena yang terpenting adalah Alea.
“Ada yang bisa saya ajak bicara?” tanya dokter, Azka segera memandangnya dengan tegas.
“Saya bisa, dok!” ujar Azka dengan suara yang lantang, membuat sang dokter memandangnya semakin dalam.
“Oke, ke ruangan saya sebentar,” ujarnya, yang langsung melangkah pergi ke arah ruangannya.
Azka memandang ke arah temannya, “Tunggu di sini sebentar,” ujarnya, membuat temannya mengangguk kecil.
Azka mengikuti sang dokter, untuk berbicara di ruangannya. Ia merasa hal yang tidak baik, tetapi ia berusaha untuk berbaik sangka dengan kejadian ini.
Sang dokter membuka pintu ruangannya, dan mempersilakan Azka masuk.
“Silakan masuk,” ujarnya, Azka mengangguk kecil kemudian masuk dan duduk di kursi yang berada di hadapannya.
Kini, mereka saling bertatapan, dengan pandangan yang terasa sangat kaku.
“Benar, keluarganya tidak ada?” tanya sang dokter, Azka mengangguk mantap.
Sedikitnya Azka tahu, dari perkataan Alea kemarin yang mengatakan tidak ada siapa pun di rumahnya. Walau tak sampai mengetahui dengan jelas, setidaknya ia membenarkan ucapan temannya itu, mengenai Alea.
Sang dokter menghela napasnya dengan panjang, “Baiklah. Sebelumnya saya ingin bertanya. Apa benar, pasien sedang mengandung?” tanyanya, Azka mendadak gemetar mendengarnya.
Pikirannya sudah kalut, ketika mendengar pertanyaan sang dokter yang membuatnya memikirkan hal-hal aneh.
‘Ada apa? Apa yang terjadi? Untung saja tadi bukan si junior yang masuk ke sini,’ batin Azka, merasa bertanya-tanya, sebelahnya lagi lega karena bukan sang junior yang masuk ke dalam ruangan ini, untuk berbicara dengan sang dokter.
Dengan segera, Azka menepiskan pemikiran anehnya itu. Ia memandang tegas ke arah sang dokter.
“Ya, benar. Dia sedang mengandung, dok,” jawab Azka, dengan pandangannya yang sangat tegas.
Sang dokter menghela napas panjang, “Dia ... sudah keguguran. Benturannya terlalu keras, sehingga membuat kandungannya luruh,” ujarnya, membuat Azka menghela napasnya dengan panjang.
Ternyata ketakutannya itu menjadi kenyataan. Apa yang ia takutkan dari Alea, benar-benar terjadi.
Alea kehilangan anak yang ia kandung.
__ADS_1
Tubuhnya bergetar, ia bahkan hampir tidak bisa memandang ke arah sang dokter.
“Sore nanti kamu bisa bawa dia pulang, istirahat dan jangan melakukan hal yang berat. Jangan lupa, minum vitamin,” ujar sang dokter.
Azka memandang ke arah sang dokter, “Baik, dok. Terima kasih.”
Setelah selesai berbicara empat mata dengan dokter yang menangani Alea, Azka pun segera keluar dari ruangan itu, kemudian segera menemui temannya yang masih menunggu di depan ruang IGD.
Temannya itu menatap nanar ke arah Azka, membuat Azka terus menghela napasnya untuk mempersiapkan diri, menjawab berbagai macam pertanyaan dari temannya itu.
“Gimana? Alea kenapa?” tanyanya.
“Alea pendarahan biasa. Istirahat cukup, biar bisa pulih lagi seperti biasa,” jawab Azka, yang tidak memberitahu kebenarannya pada temannya itu.
Anehnya, si temannya percaya dengan apa yang Azka katakan. Ia hanya bisa mengangguk-angguk kecil, percaya dengan apa yang Azka jelaskan padanya.
“Ya sudah, gimana Alea udah boleh pulang?”
“Nanti sore dia udah boleh pulang. Tolong simpan barang-barang Alea, ya. Besok saya ambil. Kamu kembali aja ke sekolah, biar saya yang jaga Alea dan antar dia pulang,” ujar Azka, membuat lelaki itu menganggukkan kepalanya mendengarnya.
“Sip.”
“Oh ya, tolong minta Pras buat bawa motor saya,” ujar Azka, yang lalu memberikan kunci motor itu ke arah temannya.
Temannya menerima kunci motor tersebut, “Oke deh. Nanti saya sampaikan,” ujarnya, Azka mengangguk dan menepuk bahu temannya itu.
“Makasih.”
Mereka pun berpisah, Azka melihat ke arah ruang IGD. Mereka sedang bersiap memindahkan Alea ke ruangan rawat, untuk bergantian dengan pasien lainnya.
Azka bangkit, mengikuti mereka yang sedang membawa Alea pada ranjang dorong itu.
“Mau di bawa ke mana, Sus?” tanya Azka, sembari menyamai langkah mereka.
“Mau dipindahkan ke ruangan rawat. Ruangan IGD akan dipakai pasien lain,” jawab sang perawat, membuat Azka mengangguk kecil tanda mengerti dengan maksudnya.
Mereka tiba di sebuah ruangan, dan segera menyiapkan semuanya untuk Alea. Infusan dan lain sebagainya, mereka siapkan dengan benar-benar telaten.
__ADS_1
Azka hanya bisa memandangnya saja, karena ia yang tidak bisa berbuat apa pun.