Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Masalah Lainnya Muncul 2


__ADS_3

“Alea, kenapa?!” teriak seorang lelaki paruh baya, yang adalah Ayah dari Alea.


Dengan cepat, Alea segera membekap mulutnya dengan matanya yang mendelik kaget karena kejadian ini.


“Gak apa-apa, Yah!” teriak Alea dari dalam kamar, yang membuat ayahnya kebingungan karenanya.


Alea masih tinggal bersama dengan ayahnya di rumah yang terbilang sederhana. Ia masih memiliki rumah untuk pulang, tetapi tidak keluarga untuk bernaung. Rumah baginya, hanyalah sekadar tempat untuk beristirahat dan berteduh dari hujan saja.


Alea hidup dalam keluarga yang broken home. Sudah lama Ayah dan Ibu mereka bercerai, dan ibunya memutuskan untuk menikah kembali dengan lelaki lain. Ayahnya memutuskan untuk merawat Alea, dan tidak ingin membangun rumah tangga lagi karena khawatir akan berantakan lagi seperti pengalamannya bersama Ibu dari Alea.


Alea adalah gadis yang kurang kasih sayang, sehingga apa pun yang ia lakukan sama sekali tidak diketahui oleh orang tuanya. Ayahnya juga sangat sibuk, sehingga tidak bisa meluangkan waktu untuk Alea. Walaupun sudah meluangkan waktunya, tetapi Alea yang sudah beranjak dewasa, membatasi dirinya dari ayahnya, dengan tembok yang kokoh. Ia sangat menjunjung privasinya.


Sementara itu di sana, Azka pun sedang melamunkan soal Alea. Ia merasa sangat bersalah, karena sudah melakukan hal yang tidak baik bagi Alea. Perkataannya sangat bersumbu pendek, sehingga membuatnya semakin merasa bersalah dengan Alea.


“Belum habis permasalahan pagi tadi, sudah ada permasalahan baru. Kenapa hari pertama bersekolah, justru aku malah dapat permasalahan seperti ini, yah?” gumam Azka, sembari memandang ke arah langit-langit kamarnya.


TOK ... TOK ... TOK!

__ADS_1


Seseorang mengetuk pintu ruangan kamar Azka, membuat lamunan Azka seketika buyar karenanya. Azka pun bangkit dari ranjangnya, dan duduk di pinggir ranjang sembari mengambil buku novel miliknya yang berada di atas dadanya.


“Azka, boleh Bunda masuk?” tanya seorang wanita, yang ternyata adalah Ibu dari Azka.


“Silakan, Bunda!”


Mendengar persetujuan dari Azka, wanita paruh baya itu pun masuk ke dalam ruangan kamar Azka. Ia datang membawakan segelas susu, seperti yang biasa ia lakukan pada Azka sebelum Azka tidur.


Kebalikan dari kehidupan Alea, kehidupan Azka sangat sukses di mata siapa pun. Kekayaannya, kasih sayang yang orang tuanya berikan padanya, pendidikan dan konseling setiap harinya, membuat Azka menjadi pribadi yang tumbuh dengan sangat baik di bawah didikan kedua orang tuanya.


Wanita itu meletakkan gelas yang ia bawa, di atas meja yang berada di sebelah ranjang tidur Azka. Setelahnya, ia memandang dengan lekat putranya itu.


“Kamu belum tidur?” tanya ibunya.


Azka tersenyum singkat, “Belum, Bunda.”


“Apa yang membuat kamu masih terjaga?” tanyanya lagi.

__ADS_1


“Aku sedang membaca novel, Bunda. Mungkin sebentar lagi akan tidur,” ujar Azka, yang sangat lembut menjawab pertanyaan dari ibu yang telah melahirkannya.


Ibunya tersenyum di hadapannya, “Baiklah, jangan sampai terlalu larut. Besok kamu sekolah.”


Mendengar ucapan ibunya, Azka hanya bisa mengangguk mendengarnya.


“Terima kasih susunya, Bunda.”


Ibunya tersenyum, “Sama-sama. Bunda keluar ya.”


“Ya, selamat malam Bunda.”


“Selamat malam.”


Wanita itu pun pergi dari ruangan kamar Azka, sehingga membuat Azka bisa menghela napasnya dengan lega.


***

__ADS_1


__ADS_2