
Alea memandang Arga dengan pandangan yang begitu dalam. Ia merasa sangat senang, melihat keberadaan Arga di hadapannya saat ini.
“Arga ... aku rindu kamu,” ujar Alea, yang sudah kehilangan sedikit kesadarannya, karena obat yang Arga masukkan ke dalam minumannya.
Inilah yang Arga inginkan. Ia merasa sangat bosan dengan Azura, dan ingin mengulang kembali hal ini dengan Alea.
Alea yang juga sudah lama tidak melakukannya, hanya bisa pasrah dengan keadaannya sekarang, karena reaksi obat tersebut.
“Apa kamu mau kita kembali mengulang masa lalu, Al? Ingatlah, sebentar lagi aku akan menikahimu,” ujar Arga, yang semakin membuat Alea terpacu mendengarnya.
Karena memang keinginannya untuk menikah bersama dengan Arga, Alea pun mengangguk kecil, mengiyakan ucapan Arga dan semakin membuat Arga senang.
Arga kembali mendaratkan kecupannya pada Alea. Kali ini, ia mendaratkannya pada kening Alea. Hanya sedikit saja sentuhan dari Arga, ternyata sudah membuat Alea merinding, sampai tidak kuasa menahan perasaan ini.
Hawa panas yang ia rasakan semakin menjadi, karena obat itu semakin membuatnya merasa sangat tertekan.
“Ayo, kita ke apartemenmu. Biarkan aku melakukan hal yang terbaik, yang bisa aku berikan padamu,” ujar Arga, Alea hanya bisa mengangguk pasrah, saking bingungnya dengan perasaan yang ingin ia lampiaskan itu.
‘Rasanya sangat ... sesak. Ada apa denganku?’ batin Alea, yang merasakan keanehan pada dirinya sendiri.
Mereka pun bergegas menuju ke arah apartemen Alea, untuk melakukan sesuatu yang sangat mengairahkan hasrat mereka.
Setibanya di sana, mereka pun masuk ke dalam ruangan apartemen Alea, dan menguncinya dengan rapat.
Tanpa banyak basa-basi, Alea pun segera membuka kemejanya, karena merasa sangat kegerahan. Mungkin efek obat tersebut semakin terasa, sehingga membuat Alea sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
“Aduh ... kenapa gerah sekali?” gumam Alea, dengan kasarnya membuka satu per satu kancing kemeja yang ia kenakan.
Arga memandang lekuk tubuh Alea, yang sama sekali tidak berubah dari sejak saat ia masih gadis. Bahkan, saat ini tubuh Alea terlihat semakin menggairahkan.
‘Tubuhnya semakin elok saja. Aku tidak salah pilih, aku juga tidak salah ambil keputusan untuk kembali lagi dengan Alea,’ batin Arga, yang memang sudah sangat mengincar tubuh sexy itu.
Perlahan tapi pasti, Arga pun segera melucuti pakaiannya sendiri, dan segera bersiap untuk memberikan sentuhan-sentuhan kecil untuk Alea.
__ADS_1
Arga melangkah mendekat ke arah belakang tubuh Alea. Ia meraup dua gundukan kenyal Alea dari arah belakang, sehingga membuat Alea sangat terkejut mengetahuinya.
Sentuhan itu benar-benar membuat Alea terpancing. Sedikit sentuhan saja bisa membuat Alea menginginkan hal yang lebih daripada itu.
“Uh ....”
Baru saja Arga menyentuhnya sekali, tetapi Alea sudah mengeluarkan lenguhan yang membuat hasrat Arga semakin naik saja karenanya.
Mereka menikmati setiap sentuhan, dengan Alea yang juga tak tinggal diam. Ia juga menyentuh bagian tubuh Arga yang bisa ia jangkau, seperti rambut, wajah, leher milik Arga.
Mereka sama-sama kalut dalam balutan cinta satu malam, yang pernah mereka rasakan dulu.
Setengah sadar, Alea berpikir bahwa kenikmatan ini sangat membuatnya ketagihan. Arga selalu bisa membuatnya bahagia, dan selalu bisa mengenyangkan perasaan laparnya akan sentuhan.
“Arga ... kamu benar mau nikahin aku?” tanya Alea, di tengah ketidaksadarannya mengatakan hal seperti itu.
“Aku sungguh-sungguh ingin menikah denganmu,” ujar Arga, yang masih melakukan sentuhan-sentuhan nakalnya pada Alea.
Malam ini, Alea melepaskan kembali apa yang harusnya tidak ia lepas. Ia membuat semuanya terasa sangat indah, dengan permainan jemari yang membuatnya semakin menginginkan lagi dan lagi. Perasaan itu seketika semakin jelas terasa, ketika Arga sudah berhasil melucuti semua bagian pakaian yang Alea kenakan.
Namun, Alea yang sedang melakukan hal panas itu dengan Arga, tak mengindahkan dering handphone-nya tersebut. Ia masih tetap melanjutkan hal itu, karena ia masih memberikan fokusnya kepada Arga.
Sejenak Arga menghentikan permainan panasnya pada Alea. Ia memandang ke arah handphone Alea, kemudian segera memandang ke arah Alea kembali.
“Ada yang menghubungimu,” ujar Arga, Alea membuka matanya yang baru saja memejam.
“Aku tidak peduli,” ujar Alea, yang masih tetap memeluk erat tubuh Arga.
Sedikitnya Arga merasa penasaran, dengan orang yang sudah menghubungi Alea di waktu yang tidak tepat ini. Ia melirik sedikit ke arah handphone Alea, yang berada di dekat ranjangnya.
Matanya membulat, ketika mengetahui kalau yang menghubunginya adalah Azka. Seketika Arga pun segera mendorong pelan tubuh Alea, sampai akhirnya Alea terpental ke atas ranjangnya.
Alea terkejut menerima perlakuan ini dari Arga, “Kamu kenapa, Ga?” tanyanya.
__ADS_1
Arga mendelik kesal ke arah Alea, “Kamu masih berhubungan sama dia?” pekiknya kesal, membuat Alea merasa sangat tersiksa.
Rasa cemburu Arga terhadap Alea sedang tidak pada waktunya. Kali ini, Alea sedang merasakan hal yang sangat membuatnya tersiksa. Namun, Arga membuatnya merasa tambah tersiksa, dengan menyudahi sentuhan yang ia lakukan padanya.
“Arga ... bukan waktunya kita berdebat. Jangan sekarang,” ujar Alea, dengan napas yang memburu.
Sudah hilang nafsu Arga pada Alea, hanya karena seseorang yang membangkitkan amarah dan rasa cemburunya itu.
“Persetan! Aku sudah tidak nafsu!” bentak Arga kesal, lalu segera keluar dari ruangan tersebut.
Alea merasa sangat kesal, karena ternyata ia tidak bisa merasakan hal yang sangat menggugah kenikmatannya itu.
“Argh!” pekik Alea, yang merasa kesal, sembari menutupi tubuhnya dengan selimut yang ada di atas ranjangnya.
Di sana, Arga teringat dengan efek obat yang ia berikan pada Alea. Jika tidak terlampiaskan, Alea pasti akan melakukan segala macam cara, agar semua yang ia rasakan tuntas seketika.
“Jika aku tidak melakukannya bersamanya, dia pasti akan menghubungi lelaki itu untuk melakukannya bersamanya. Aku tidak akan biarkan!” bentak Arga, yang lalu segera kembali ke arah Alea yang berada di kamarnya.
Di tengah rasa kesalnya, Arga kembali dengan sentuhannya yang lebih lembut dari sebelumnya. Alea terkejut, sampai memandang ke arah wajah Arga yang sangat dekat di hadapannya.
“Kamu kembali?” tanya Alea bingung, Arga kembali membuka kemejanya dan juga celana panjang yang ia kenakan itu.
Seperti tidak ingin membicarakan apa pun, Arga segera mengambil ancang-ancang untuk melakukan hal tersebut bersama dengan Alea.
Dengan sedikit gesekan pada masing-masing bagian inti mereka, Alea seakan lupa dengan permasalahan yang sedang mereka alami.
Mereka kembali memulai adegan panas itu, membuat hawa nafsu keduanya kembali bangkit.
Alea merasa sangat menginginkan yang lebih, membuatnya terpaksa harus melakukannya dengan naluri yang ia miliki.
Mereka pun meluapkan semuanya bersama, dan menyatu dengan perasaan yang sangat bahagia. Tentu saja karena nafsu.
Mereka sama-sama tidak menahan semuanya, dan meluapkannya dengan emosi yang membabi buta.
__ADS_1
***