
Sinar mentari memaksa menembus ke dalam gorden kamar apartemen milik Azka. Sinar itu membuat pandangan mata Alea menjadi silau, saking cerahnya sinar yang mengenai matanya itu.
Karena merasa terusik dengan sinar itu, Alea pun membuka matanya dan melihat perlahan ke sekeliling tempat ia berada.
Pandangan matanya kabur, tetapi ia berusaha untuk membuatnya fokus kembali. Ia menoleh ke segala arah, sampai ia tersadar dengan seseorang yang bertelanjang dada, yang tepat berada di sebelahnya itu.
Matanya mendelik, batinnya terkejut sampai tak bisa mengeluarkan suara sama sekali. Ia mendapati Azka yang berada di sebelahnya, tanpa mengenakan busana sama sekali. Sebagian tubuhnya hanya tertutup dengan selimut yang juga ia kenakan bersama-sama.
Alea melirik ke arah tubuhnya, dan menemukan kesamaan seperti Azka. Ia melihat tubuhnya yang juga tidak menggunakan pakaian. Ia merasa sangat terkejut, tetapi ia tidak bisa mengeluarkan suaranya, saking shock dan terkejutnya ia.
‘Apa yang terjadi antara kami?!’ batin Alea yang sangat kaget melihatnya.
Alea bergeser sedikit ke arah hadapannya, sehingga membuat area intimnya terasa sangat sakit.
“Aww ....” Alea merintih, saking sakitnya ia rasakan di daerah intimnya.
__ADS_1
Matanya membulat jelas, ketika ia melihat darah dan juga sebuah gumpalan kecil yang ada di sana. Ia mendelik kaget, karena ia merasa ada yang tidak beres dengan dirinya saat ini.
Tangannya menutup mulutnya, saking takutnya dan kagetnya ia. Keadaannya kini dipertaruhkan, karena ia tiba-tiba saja teringat dengan kondisi dirinya yang sedang mengandung.
Kepalanya menggeleng terus-menerus, tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya sudah kehilangan anak yang ia kandung itu.
“Tidak!!” pekik Alea sembari menutup kedua telinganya dengan tangannya.
Azka terkejut mendengar teriakan Alea, sehingga ia mendelik dan bangkit dari tempat ia tertidur. Ia mendapati Alea yang sepertinya sedang ketakutan, dan hanya meringkuk sembari meremas rambutnya.
Tangis Alea pecah seketika, ketika mendengar suara dan pertanyaan yang Azka lontarkan padanya. Ia memandang sinis ke arah Azka, sehingga membuat Azka tersadar dengan apa yang sudah ia perbuat.
‘Oh tidak! Aku sampai lupa kejadian semalam!’ batin Azka, yang merasa sangat lupa dengan kejadian yang ada.
“Al, kamu tidak apa-apa ‘kan--”
__ADS_1
“Jangan sentuh aku!!” bentak Alea, sehingga membuat Azka terdiam menatapnya dengan tatapan bingung.
Azka berusaha untuk menenangkan Alea, tetapi Alea sama sekali tidak ingin disentuh oleh Azka. Rasa takut Alea karena kehilangan anaknya, membuatnya merasa sangat hancur saat ini.
Alea kembali meremas rambutnya, saking tidak bisanya ia menerima semua yang terjadi padanya itu.
“Ini tidak mungkin terjadi! Ini tidak mungkin terjadi!” teriak Alea, sembari terus meremas rambutnya, saking kesalnya ia dengan keadaan yang ada.
Azka yang hanya tahu tentang kesalahannya saja, tidak bisa berkutik. Azka tidak tahu, bahwa perlakuan kasarnya saat bercinta dengan Alea semalam, sudah membuat janin yang ada di dalam kandungan Alea luruh karenanya.
“Al, are you okay?” tanya Azka dengan lembut, tetapi Alea hanya bisa menatapnya dengan sinis.
“Apa yang okay? Menurutmu bagaimana?!” sinisnya, membuat Azka terdiam takut mendengar ocehannya.
Pandangan mata Alea semakin menajam ke arah Azka, membuat Azka semakin takut saja berhadapan dengan Alea.
__ADS_1