
Karena merasa sangat bersalah, dan semalam berpikir keras tentang permasalahan yang terjadi di antara mereka, Azka memberanikan diri untuk pergi ke kelas Alea. Semua mata tertuju padanya, yang saat ini sedang memegang sebatang cokelat yang terikat pita pada bagian tengah cokelat batang tersebut.
Mereka menguntit, dan berbisik satu sama lain. Melihat anak baru yang dengan beraninya datang ke kelas mereka, mereka percaya bahwa anak baru ini sedang mencoba mendekati idola sekolah ini yang berada di kelas mereka.
Siapa lagi kalau bukan Alea?
Perlahan, Azka pun melangkah masuk ke dalam kelas Alea. Langkahnya terhenti tepat di depan kelas, sehingga semua orang bisa dengan mudahnya memandang ke arahnya. Pandangannya sengaja ia edarkan, untuk mencari keberadaan orang yang tengah ia cari.
Karena kedatangan Azka yang sangat mencolok, Alea yang sedang duduk bersama dengan teman-temannya pun menyadari kehadiran Azka.
Alea merasa risih dan kesal, karena ia lagi-lagi melihat Azka di hadapannya. Matanya menyipit sinis, ia pun segera menghindarinya dengan tidak memedulikan kehadiran Azka di hadapan mereka.
__ADS_1
Melihat sikap Alea yang seperti itu ketika ia datang, Azka tetap bersikap santai seolah tidak terjadi apa pun di antara mereka. Ia berusaha untuk bersikap, seolah-olah memang benar ia yang salah dan ingin menunjukkan kepada Alea seberapa ingin ia meminta maaf kepadanya.
Azka menghampiri ke arah kursi Alea, dan berdiri tepat di hadapan Alea. Alea menyadarinya, dan memandang sinis ke arahnya. Teman-temannya yang lain segera bergeser, karena mereka sama sekali tidak ingin ikut campur dengan urusan Alea kali ini.
“Alea,” sapa Azka, membuat Alea memutar bola matanya, saking kesalnya karena bertemu dengan Azka kembali.
Alea pun lantas berdiri di hadapan Azka, dengan pandangannya yang masih saja sinis di hadapan Azka. Tangannya ia lipat, menunjukkan bahwa ia sangat tidak menyukai kehadiran Azka di hadapannya.
“Ada apa kamu ke sini?” tanya Alea, yang ketus di hadapan Azka.
“Bisa kita bicara sebentar?” tanya Azka.
__ADS_1
“Gak bisa. Aku gak punya waktu!” ketus Alea lagi.
“Kalau tidak ada waktu, kenapa jawab pertanyaan aku tadi?” tanya Azka, membuat Alea seketika memandangnya dengan sinis.
Memang sifat Azka seperti itu, membuatnya merasa semakin salah saja di hadapan Alea. Karena tidak mau memperpanjang persoalan bersama dengan Alea, Azka pun memberikan sebuah coklat ke hadapan Alea, sebagai tanda permintaan maaf yang tulus dari hatinya.
“Maafin aku, ya. Ini tanda permintaan maaf aku,” ujar Azka, membuat Alea semakin kesal saja mendengarnya.
Alea membuang pandangannya dan melipat kedua lengannya, “Gak mau!” tolaknya.
Alea masih saja tidak bisa menerima maaf dari Azka, yang sudah terkesan sangat tulus padanya. Namun, hal itu tidak membuat semangat Azka menjadi surut.
__ADS_1
Tangan Azka meraih tangan Alea, kemudian meletakkan cokelat batang tersebut di tangannya. Hal itu membuat Alea dan teman-temannya terkejut melihat sikap Azka yang seperti itu.
“Gila, anak baru berani banget! Udah ditolak pun tetap maksa minta diterima,” bisik temannya yang berada di dekatnya, yang masih terdengar jelas oleh Azka.