Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Memergoki 2


__ADS_3

Azura yang merasa belum puas akan apa yang ia dapatkan, segera melakukan hal yang bisa menumpahkan gairahnya yang masih tertunda karena Arga yang tiba-tiba saja pergi seperti itu. Ia melakukannya dengan benar, sampai mencapai sesuatu perasaan yang ia inginkan.


Tubuhnya sudah melunak, tenaganya sudah habis akibat terlalu bahagianya ia bisa melakukan hal itu seorang diri, walaupun tanpa Arga.


Azura menghela napasnya dengan panjang, berusaha untuk mengatur semua napas yang sudah memburu itu.


Ketika kesadarannya sudah kembali, ia memandang ke arah hadapannya dengan sinis, karena ia merasa sangat kesal dengan keadaan yang saat ini.


“Arga sialan! Beraninya dia bikin aku memohon untuk melanjutkan semua yang dia lakukan. Ini pertama kalinya aku memohon sama dia!” gumam sinis Azura, yang tidak menyukai kelakuan Arga yang demikian.


Sejauh ini, mereka sama sekali tidak pernah menghentikan aktivitas bercinta di tengah-tengah melakukannya. Hanya karena ada orang yang memergoki mereka, hal itu membuat Arga sampai harus meninggalkannya di sana seorang diri.


“Untung saja aku bawa alat ini,” gumam Azura, yang merasa sangat beruntung sudah membawa persiapan yang cukup untuk membuat dirinya menghasilkan hormon endorfine yang memberikannya kebahagiaan.


***

__ADS_1


Azka berlarian meninggalkan gedung tua itu. Dengan cepat, ia melangkahkan kakinya meninggalkan lingkungan yang cukup seram itu, karena di sana sama sekali tidak ada orang lain selain mereka.


Hal itu cukup membuatnya takut, karena bisa saja ada orang jahat yang tiba-tiba saja muncul di sana untuk membuat keributan dengannya.


Walaupun sudah berbekal ilmu beladiri yang cukup mumpuni, tetap saja ia harus berjaga-jaga kalau saja ada musuh yang berusaha untuk mencelakakannya.


“Berhenti kau, bajingan!” bentak Arga, yang langsung menarik lengan Azka.


Karena tarikannya yang cukup kasar, langkah Azka mendadak terhenti karena tangan Arga yang menahan lengannya.


“Bocah sialan! Ngapain lo di sini?!” bentak Arga, yang merasa sangat terusik dengan apa yang Azka lakukan di tempat persembunyian rahasianya.


Tak ada seorang pun yang bisa masuk ke dalam gedung ini, karena pada perbatasan gedung sekolah dan gedung tua ini, Arga memberikan sebuah pintu besi yang kokoh dan juga rantai yang besar.


Azka berusaha untuk bersikap tenang di hadapan Arga, “Gue gak ngapa-ngapain! Kenapa emangnya?”

__ADS_1


Arga merasa sangat kesal, karena jawaban Azka yang terdengar seperti orang yang sangat meremehkannya.


Arga menunjuk kasar ke arah Azka, “Jangan macem-macem deh, lo! Di perbatasan gedung ini dengan gedung sekolah, udah gue boikot pakai rantai! Mana mungkin lo bisa masuk seenaknya ke sini?!” bentak Arga, membuat Azka menyeringai ke arahnya.


Karena seringainya, Arga merasa semakin kesal terhadap Azka.


“Ngapain lo nyengir? Gak ada yang lucu!” bentaknya semakin kesal dengan Azka.


“Siapa suruh lo lupa ngunci pintu perbatasannya? Kenapa? Udah gak tahan, ya?” ledek Azka, semakin membuat Arga naik pitam karena mendengar ucapannya yang menyeleneh itu.


“Bocah sialan!!” bentak Arga, yang sudah tidak kuasa lagi menahan amarahnya.


Azka malah semakin memandangnya dengan remeh, “Kenapa? Apa gak cukup sama Alea aja? Kenapa malah nyari pelampiasan yang lain? Apa ... Alea kurang ... memuaskan?” tanya Azka, yang berusaha untuk memancing amarah Arga.


Arga sampai melupakan kejadian saat party di rumah temannya. Hal itu semakin membuat Arga marah dan jengkel.

__ADS_1


“Banyak bacot!!” pekik Arga, yang lalu segera melayangkan kepalan tangannya ke arah Azka.


__ADS_2