Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Cinta Yang Terbalut 2


__ADS_3

“Uhh ....”


Lenguhan lembut itu terus terdengar, sampai Alea berusaha untuk menekankan dadanya lebih dalam lagi untuk mendapatkan sensasi yang lebih dari hal yang Arga lakukan. Sudah puas dengan area dadanya, Arga pun bergerak turun untuk membuat Alea merasakan kebahagiaan yang lebih lagi dari yang saat ini ia rasakan.


Arga merasa tak tahan dengan lenguhan yang terdengar dari mulut Alea. Ia merasa harus melakukan hal yang lebih ganas, daripada yang ia lakukan saat ini.


Alih-alih ingin melakukan kelembutan pada Alea, Arga merasa apa yang ia lakukan tidak membuat Alea merasa cukup puas dengannya.


“Ayo gantian!” suruh Arga, yang merasa ingin juga diberikan servis dari Alea.


Arga juga ingin merasakan sentuhan hangat Alea, yang tidak pernah ia rasakan selama ini. Mungkin akan menjadi sensasi tersendiri baginya, dan akan menjadi hal yang sangat menyenangkan jika ia merasakannya saat ini.


Mendengar ucapan Arga, Alea pun sedikit tersadar dari kenikmatan yang tengah ia rasakan.


“Ngapain?” tanya Alea kebingungan.


Arga membuka resleting celananya, dan memperlihatkan sesuatu yang belum pernah Alea lihat sebelumnya. Melihatnya, membuat Alea seketika menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


“Ah!” teriak Alea, yang masih merasa ketakutan karena sesuatu yang ia lihat itu.


Memang, saat di pesta ulang tahun teman dari Arga kemarin, Alea sama sekali tidak sadar dengan apa yang terjadi dengan dirinya. Pengaruh obat bius yang diterimanya, membuatnya kehilangan kesadarannya.


Arga menyingkirkan tangan Alea dengan lembut, “Jangan takut. Benda ini yang bisa memuaskan hasrat kita!” ujarnya, membuat Alea perlahan melepaskan tangannya yang menutupi wajahnya itu.


Perlahan tapi pasti, Alea pun memandang benda yang sudah berdiri dengan kokoh itu di hadapannya. Hal itu membuat Arga merasa sangat senang, karena perlahan rasa takut yang Alea rasakan sudah hilang seiring waktu berlalu.


“Kita harus sama-sama membuat senang! Aku udah bikin senang kamu, sekarang gantian! Aku juga mau dibuat senang sama kamu!” ujar Arga perlahan, agar Alea mau melakukan apa yang ia perintahkan.

__ADS_1


Alea menelan salivanya. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang harus ia lakukan, karena ini adalah pertama kalinya ia melakukan hal seperti ini dengan keadaan yang sadar.


“Tapi, a-aku gak tau harus ngapain, Ga!”


Arga menyunggingkan senyumannya, “Kamu jongkok aja!” suruhnya.


“Anggap aja ini lollipop. Jangan dibayangkan, cukup dirasakan!” ujarnya, membantu Alea untuk melakukan apa yang harusnya ia lakukan.


Dengan mengikuti sugesti yang Arga berikan, Alea pun menurut dengan apa yang Arga suruh. Bagi orang yang belum pernah melakukannya, Alea tentu saja masih kaku untuk melakukan hal tersebut.


Namun, hal itu justru mampu membuat Arga sampai bergidik geli, karena merasakan kenikmatan yang baru ia rasakan bersama dengan Alea.


Beberapa saat berlalu, Arga menyeringai karena merasa sudah puas dengan apa yang Alea lakukan padanya.


“Terima kasih. Lain kali, seperti ini lagi ya!” ujar Arga, yang memuji kepiawaian Alea dalam melakukan aksi yang baru pertama kali ia rasakan itu.


Karena sudah piawai dalam melakukannya, Arga berupaya sebisa mungkin untuk membuat Alea nyaman. Ia tidak langsung bertindak kasar pada Alea, tetapi membiarkan Alea merasakan apa yang harusnya ia rasakan. Arga juga tidak ingin Alea merasakan dengan tiba-tiba, karena ia tidak ingin sampai Alea merasa trauma dengan hal yang ia lakukan padanya.


Apalagi, ini baru kali kedua Alea mendapatkan tindakan semacam ini darinya. Arga benar-benar sangat mengerti keadaan Alea.


Karena sudah tidak bisa berbuat apa pun lagi selain mengerang, Alea pasrah dengan apa yang Arga lakukan. Sikap lembut Arga kali ini, membuat Alea menginginkan hal yang lebih dan lebih dari apa yang sudah mereka lakukan itu.


Sakit yang Alea rasakan, berubah menjadi sebuah kenikmatan yang sangat kurang baginya. Ia menginginkan tindakan yang lain yang lebih daripada yang Arga lakukan sebelumnya.


Alea berusaha untuk memeluk Arga dengan erat, sehingga jarak di antara mereka pun sudah tidak ada. Hal itu yang menambah kenikmatan yang Alea dapatkan. Arga merasa sangat senang, karena kesabarannya tadi akhirnya Alea bisa mengeksplorasi dirinya sendiri, dengan fantasi yang baru saja ia rasakan itu.


Mereka sama-sama memeluk satu sama lain, dengan keadaan yang masih saling menyatu seperti itu. Pada saat-saat inilah, Arga merasa sangat senang dan bahagia, karena ia sudah bisa mengeluarkan hormone endorfine dari dirinya.

__ADS_1


Sama dengan yang Arga rasakan, Alea juga merasa sangat senang dan bahagia, walaupun keringat di mana-mana, dan juga rasa lelah yang tidak bisa ia jelaskan sama sekali. Rasa lelah yang setara dengan saat ia mengelilingi lapangan basket sebanyak 5x putaran.


“Huft ....”


Napas yang mereka hela bersama-sama, seperti alunan musik yang merdu, yang hanya bisa mereka rasakan sendiri. Karena merasa sudah cukup puas, Arga pun memeluk Alea dengan erat sampai tak sadar mereka pun terlepas dari benda inti mereka.


Perlahan, Arga mulai membenarkan pakaian dan juga celananya. Alea yang sudah sangat kelelahan, hanya bisa pasrah berada dalam pelukan Arga.


Arga tersenyum, dan membantu Alea untuk memasangkan pakaian yang bisa ia jangkau. Sembari menciumi kening Alea, Arga berusaha untuk memakaikan apa yang harus Alea pakai kembali.


“Terima kasih, sayang!” ujar Arga, dengan Alea yang hanya bisa menghela napasnya saja.


Alea menatapnya dengan datar, karena ia bingung harus berbuat apa lagi setelah ini. Ini adalah kedua kalinya ia melakukan hal terlalrang ini bersama dengan Arga, dan tentu saja itu semakin membuatnya merasa sangat tertekan, dan tidak bisa hidup tanpa Arga.


Alea memegang tangan Arga dengan sisa tenaga yang masih ia miliki, “Kamu janji ‘kan, gak akan ninggalin aku?” tanyanya dengan harapan yang sangat sia-sia.


Namun, tak bisa dipungkiri, bahwa Arga sedikit banyaknya juga memiliki perasaan terhadap Alea. Apalagi, saat ini ia sudah bisa merasakan hal-hal yang indah bersama dengan Alea. Hal itu semakin menambah rasa cintanya terhadap Alea.


Bukan cinta, tetapi nafsu. Penggambaran yang tepat untuk apa yang Arga rasakan terhadap Alea saat ini.


Cinta memang tidak bisa terlepas dari nafsu. Terlebih lagi dengan Arga yang memang hanya mementingkan nafsunya dibandingkan rasa cintanya kepada Alea. Tak hanya kepada Alea, kepada Azura pun ia juga merasa seperti itu.


Arga memandang dalam ke arah Alea, “Ya, aku gak akan ninggalin kamu, apa pun yang terjadi,” ucapnya membuat sedikit jiwa Alea menjadi tenang.


***


__ADS_1


__ADS_2