Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Tak Bisa Menerimanya


__ADS_3

“Aku tahu, aku gak pantes bicara begini. Setidaknya, jangan sedih berlarut-larut!” ujar Azka, yang berusaha untuk menghibur hati Alea.


Tak menghiraukan apa yang Azka katakan, Alea hanya bisa menunduk sembari meneteskan air matanya saking sedihnya ia dengan hubungannya bersama Arga, yang harus hancur hanya karena sebuah kesalahan kecil baginya.


‘Aku gak nyangka, kenapa Arga bisa dengan mudahnya bilang putus kayak gitu sama aku? Padahal, aku udah berusaha untuk ngejelasin ke dia!’ batin Alea, yang hanya bisa merenungkan diri.


Karena sudah tidak tahu lagi harus seperti apa, Alea pun bangkit dengan sisa tenaga yang ia miliki, kemudian merapikan kotak P3K miliknya, yang sebelumnya ia gunakan untuk mengobati luka Azka.


Azka hanya bisa memperhatikan Alea, yang saat ini sudah pergi dari ruangan itu. Azka menghela napasnya dengan panjang, saking tidak tahu lagi harus berbuat apa.


‘Kenapa aku malah jadi iba dengan dia? Dia yang sudah mengorbankan semuanya demi lelaki itu, dia juga yang sekarang kehilangan semua itu,’ batin Azka, yang merasa sangat kesal dengan keadaan yang melibatkan Alea.


Azka tersadar dengan sesuatu, ‘Daripada itu, ke mana ponselku tadi?’ batinnya, yang teringat dengan handphone-nya yang terjatuh akibat tersenggol oleh Arga.


Matanya melirik ke arah lantai, berusaha untuk mencari keberadaan handphone-nya yang terjatuh tadi.


Ternyata, handphone itu terjatuh tepat di bawah ranjangnya. Hal itu yang membuatnya kesulitan untuk menggapai handphone tersebut.


Tangannya ia ulurkan ke arah handphone-nya, yang ternyata memang ia tidak sanggup untuk menggapainya. Ia hanya bisa pasrah, sembari menghela napasnya dengan pajang.


“Sudahlah, tunggu Pras saja nanti dan minta tolong ambilkan,” gumam Azka, yang merasa benar-benar tidak bisa menggerakkan tangannya dan tubuhnya lagi.


Tak terima dengan apa yang Arga katakan, Alea pun segera mengejar ke mana Arga pergi. Ia segera keluar dari ruangan UKS tersebut, dan tak sengaja melihat Arga yang saat ini sedang berlatih bersama dengan teman-temannya di lapangan.


Beruntung sekali Arga masih berada di sekitaran sekolah, karena ia bisa dengan mudahnya menyelesaikan permasalahan yang ada pada mereka.


Alea memandang ke arah Arga dengan tatapan yang sangat senang, “Itu dia Arga!” gumamnya, yang lalu segera menghampiri ke arah Arga dan juga teman-temannya.


Dengan cepat, Alea melangkahkan kakinya ke arah mereka yang sedang fokus bermain basket di lapangan.


Tak disangka, teman dari Arga melihat kedatangan Alea dengan keadaan bingung, karena tak sengaja melihat Alea yang wajahnya terlihat sangat berantakan karena air matanya yang terus mengalir.

__ADS_1


Temannya yang bernama Choki itu, menyenggol bahu Arga dengan pelan.


“Ga, si Alea kenapa?” tanya Choki, tetapi Arga yang sedang memantulkan bola basket itu tak memedulikan apa yang ditanyakan temannya.


Arga malah mencetak gol dengan bola yang ia tembakkan tepat pada ring. Ia sama sekali tidak memedulikan Alea, yang katanya sedang menuju ke arahnya itu.


Choki merasa gusar, “Alea ke sini, Ga!” ujarnya, membuat Arga mendelik kaget mendengarnya.


Dengan cepat, Arga membalikkan tubuhnya ke arah Alea, dan benar saja ternyata yang Choki katakan. Arga merasa sangat kesal, karena Alea yang saat ini mungkin akan mengatakan hal yang macam-macam di hadapan teman-temannya.


‘Apa sih cewek brengsek! Jangan-jangan, dia mau bicara yang enggak-enggak, karena udah tau tentang rekaman itu?!’ batin Arga, yang merasa sangat kesal dengan apa yang terjadi.


Ketika Alea hampir sampai ke hadapan Arga, Arga dengan cepat melangkah lebih dulu ke arahnya, agar Alea tidak bisa mendekati teman-temannya.


Choki yang melihatnya merasa sangat aneh, tidak biasanya Arga melakukan hal itu pada Alea yang menghampirinya. Tidak biasa juga wajah Alea berantakan seperti itu, ketika hendak menemui Arga.


‘Mereka kenapa, ya? Kok aneh banget,’ batin Choki, yang memang sudah memiliki firasat tentang hubungan antara Alea dengan Arga itu.


Arga yang kesal, segera menarik tangan Alea dari sana.


“Kamu ngapain sih ke sini?! Bikin malu aja tau, gak! Lihat tuh, muka kamu udah sembab begitu! Kamu mau bikin temen-temen aku salah paham sama hubungan kita, hah?!” bentak Arga dengan sedikit berbisik, sembari menyeret Alea dari hadapan teman-temannya.


Arga sangat khawatir, kalau saja teman-temannya mengetahui permasalahan yang sedang mereka alami saat ini.


Mau taruh di mana mukanya itu?


Karena merasa tangan Arga yang terlalu kasar, Alea pun merasa kesakitan dan sedikit merintih karenanya. Hal itu ternyata disadari teman-temannya Arga, dan merasa ada sesuatu yang tidak beres di antara mereka.


Melihat reaksi Alea yang sepertinya sangat kesakitan, Arga pun segera melonggarkan cengkeraman tangannya dari lengan tangan Alea.


“Kamu ngapain sih di sini?!” bentak Arga, Alea hanya bisa memandangnya dengan air mata yang sesekali keluar dari pelupuk matanya.

__ADS_1


Hal itu tidak bisa dibiarkan Arga. Ia tidak ingin, semua teman-temannya berpikir yang macam-macam tentang dirinya.


“Sini kamu!”


Karena terlalu malu, Arga pun menyeret Alea untuk ikut bersama dengan dirinya, menjauhi keberadaan teman-temannya.


Arga membawanya ke arah gedung kosong, tempat ia melakukan hal yang tidak baik bersama dengan Azura.


Kebetulan sekali, tidak ada siapa pun di sini, karena jam pelajaran yang sudah dimulai sejak tadi. Teman-teman Arga pun hanya berada di sekitar lapangan, tidak sampai mengikutinya sampai ke tempat yang mereka tuju.


Karena baru pertama kali mengunjungi tempat seperti ini, Alea pun mendadak takut dengan keadaan tempat ini.


“Ini di mana, Ga? Kita ada di mana?” rengek Alea, yang merasa sangat ketakutan saat ini.


Arga berdesis, “Sttt!!”


Alea berusaha untuk memandang ke arah Arga, untuk mengalihkan pandangannya dari sesuatu yang membuatnya takut. Tempat ini sangat seram, menurut pandangan Alea saat ini.


Mereka sedang berada di sebuah ruangan, tempat kejadian kotor bersama Azura tadi terjadi.


Karena merasa belum puas bersama dengan Azura, pikiran Arga menjadi sangat kotor saat ini. Bertepatan dengan adanya Alea di hadapannya, imajinasinya seakan terus menguasai pikirannya, yang sudah rusak karena urusan ***.


Arga mendekat dan memojokkan posisi berdiri Alea, sehingga Alea tidak leluasa untuk bergerak dengan bebas.


Hal itu cukup membuat napas Alea sedikit sesak.


“Kamu ngapain sih nyamperin aku pas aku lagi sama temen-temen? Kamu sengaja ya, biar mereka salah paham sama aku karena ngeliat kamu yang lagi nangis begitu?” bentak Arga, yang merasa sangat tidak terima dengan apa yang Alea lakukan.


Alea merasa sangat takut, karena emosi Arga yang juga belum mereda di hadapannya.


“Maafin aku, Ga! Aku gak maksud buat ngelakuin hal itu di hadapan temen-temen kamu! Aku cuma ... cuma--”

__ADS_1


“Ah udah deh!” pangkas Arga, yang merasa sudah tidak ingin lagi dengar tentang alasan apa pun dari mulut Alea.



__ADS_2