Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Celah


__ADS_3

Alea kembali mengeluarkan sisa permen yang ada di sakunya, lalu segera memberikannya ke arah Ariel.


“Ini, hanya kamu yang belum ambil,” ujar Alea, membuat Ariel kembali memandang ke arahnya.


“Aku bilang, aku tidak diizinkan makan permen,” ujar Ariel, masih dengan nada yang sangat dingin.


Alea berusaha untuk tetap sabar, sembari tetap menjaga kewarasannya.


“Coba dulu satu. Rasanya sangat enak,” ucap Alea setengah memaksa.


Ariel terlihat sangat ragu, dengan tetap memandang ke arah permen tersebut. Alea sangat paham, kalau ia sangat menginginkanya, tetap ada hal yang menahannya.


“Gak apa-apa, ambil aja,” ujar Alea, berusaha untuk meyakinkan Ariel tentang hal ini.


Ariel memandang sejenak ke arah Alea, kemudian kembali memandang ke arah permen itu, sembari kedapatan menelan salivanya.


‘Aku tahu kamu mau,’ batin Alea, yang hanya bisa tersenyum melihat keras kepalanya itu.


“Tuan Muda,” sapa seseorang, yang mengalihkan perhatian Alea ke arahnya.


Ariel segera menyambar permen yang Alea sodorkan, lalu menyembunyikannya ke dalam saku bajunya. Alea menyadarinya, hanya saja ia tidak mengatakan apa pun, karena seseorang yang kini sedang berhadapan dengan Alea dan juga Ariel.


“Ya,” ujar Ariel.


“Makanan sudah siap, Anda mau makan di mana?” tanyanya, yang tak lain adalah pelayan keluarga Ariel.


“Nanti aku makan di kelas,” jawab Ariel, membuat Alea hanya bisa memandangnya saja dengan dalam.


“Baik, Tuan Muda,” ujarnya, sembari melangkah menuju ke arah kelas, dibarengi dengan Ariel yang juga segera menuju ke arah kelas, meninggalkan Alea di sana.


Alea memandang bingung ke arah mereka yang berjalan melewatinya. Pandangan sang pelayan juga sangat tajam ke arah Alea, membuat Alea merasa sangat heran dengan pandangannya itu.


“Kenapa dia memandangku seperti itu?” gumam Alea, merasa sangat aneh dengan hal itu.


***


Jam pelajaran telah usai. Ariel terlihat sedang duduk di ayunan itu lagi. Alea yang baru selesai merapikan barang-barang di kelas, melihat dan memerhatikan ke arah Ariel di sana.

__ADS_1


Dari koridor sekolah, Alea memandang dalam ke arah Ariel. Di sana, Ariel terlihat sedang merogoh sesuatu dari saku seragamnya, kemudian memandanginya.


Sebuah permen yang Alea berikan, ternyata masih belum dimakannya. Ia hanya bisa memandangi permen tersebut, membuat Alea menjadi sangat penasaran dengan apa yang ia lakukan.


‘Apa yang akan ia lakukan dengan permen tersebut?’ batin Alea, sembari memandangi dengan saksama ke arah Ariel.


Karena rasa penasarannya, Ariel pun segera membuka bungkus permen tersebut, lalu memakan permen cokelat tersebut secara perlahan.


Alea terkejut, karena melihat Ariel yang ternyata benar memakan permen itu.


‘Ternyata benar-benar dimakan!’ batin Alea, yang merasa sangat kaget melihatnya.


Beberapa saat kemudian, seseorang yang sama pun datang ke hadapan Ariel. Terlihat Ariel yang buru-buru membuang bungkus permen tersebut ke sembarang arah, dan segera menelan bulat-bulat permen itu.


Pelayan itu segera mengajak Ariel pergi dari sana, dengan Ariel yang menurut saja dengannya.


Melihat pemandang tersebut, Alea jadi mengerti akan sebuah hal.


‘Pantas saja tadi dia buru-buru mengambil permen itu. Setiap sesuatu yang pelayan itu ketahui, pasti ada hubungannya dengan keluarganya. Aku juga merasa aneh dengan tatapan yang diberikan pelayan itu,’ batin Alea, merasa sudah mengerti dengan permasalahan ini.


Baru ia sadari, kalau ternyata sudah ada seseorang yang sedang berjalan di sebelahnya. Alea menoleh ke arah sebelah kanan, dan mendapati Azka yang sedang berjalan beriringan bersamanya.


“Azka!” pekik Alea terkejut, karena melihat Azka yang melangkah ke bersamanya.


Azka menoleh dengan senyuman khasnya, “Halo,” sapanya.


“Kamu ngapain?” tanya Alea bingung, dengan apa yang Azka lakukan.


“Jalan kaki,” jawabnya seadanya, masih random sama seperti saat mereka masih di tingkat Sekolah Mengah Atas, dulu.


Alea memandang datar ke arah Azka, “Aku tau kamu lagi jalan kaki. Maksudnya kamu ngapain jalan kaki?”


Azka tertawa kecil sembari tetap melangkah bersama dengan Alea, “Kebetulan aku lewat sini,” jawabnya asal.


Padahal, Azka tidak kebetulan lewat ke jalanan ini. Ia sengaja menunggu Alea keluar dari sekolah tersebut, untuk memberikan surprise kepada Alea.


Alea memandang dalam ke arah Azka, ‘Kamu benar-benar membuat aku selalu terkejut,’ batinnya, yang merasa sangat heran dengan apa yang Azka lakukan itu.

__ADS_1


“Gimana harimu?” tanya Azka tiba-tiba, membuyarkan lamunan Alea.


Alea sedikit terkejut, lalu kembali memandang ke arah hadapannya.


“Aku sebenarnya gak mau cerita,” gumam Alea lirih, yang masih terdengar jelas oleh Azka.


“Harus cerita! Aku mau dengar pengalaman kamu ngajar di hari pertama ini!” paksa Azka, membuat Alea kembali memandang ke arahnya.


“Ya, aku akan cerita. Tapi jangan di sini,” ujarnya, Azka mengangguk kecil mendengarnya.


“Kita cari restoran dekat sini. Sambil ngobrol,” ucapnya, membuat Alea mengangguk kecil mendengarnya.


Mereka tiba di sebuah simpang jalan. Mereka hendak menyeberangi jalan, tetapi sebuah mobil dari arah belakang mereka, berusaha untuk menyabotase perjalanan mereka. Mobil itu menukik ke kiri, membuat mereka hampir saja tertabrak oleh mobil itu.


Beruntung Azka dengan sigap menarik tangan Alea, untuk menjauh dari jalanan tersebut. Kalau terlambat beberapa detik saja, mungkin Alea sudah tertabrak oleh pengemudi yang ugal-ugalan itu.


“Mobil sialan!” teriak Azka, memaki pengemudi yang sudah mengemudikan mobil secara sembarangan itu.


Alea menghela napasnya, sembari berusaha mengembalikan kesadarannya. Ia merasa sangat terkejut, karena mobil tadi yang benar-benar mengejutkannya.


Alea memandang tajam ke arah plat nomor dan model mobil tersebut. Ia menghapalkannya, khawatir terjadi yang tidak-tidak nantinya.


Azka memeriksa keadaan Alea dengan saksama, “Kamu gak apa-apa, ‘kan?” tanyanya memastikan.


“Ya, aku gak apa-apa,” jawab Alea, sembari mengangguk mantap ke arahnya.


Azka bisa bernapas dengan lega, “Syukurlah. Kalau kamu kenapa-napa tadi, habislah dia!” bentaknya, membuat Alea lagi-lagi memandang dalam ke arahnya.


‘Dia beneran sangat peduli denganku. Apa dia bener hanya menganggap aku temannya?’ batin Alea, yang merasa sangat heran dengan kelakuan Azka padanya, yang lebih mirip seperti seorang kekasih daripada seorang sahabat.


“Ayo!” ajak Azka yang lalu menggandeng tangan Alea dengan perasaan was-was yang masih terasa.


Mereka menyeberangi zebra cross, dengan Azka yang selalu menggenggam erat tangan Alea. Hal itu membuat Alea bingung, dan terus memikirkan soal perasaannya pada Azka.


‘Genggamannya sangat erat, bahkan untuk seukuran seorang sahabat,’ batin Alea, yang merasa sangat sendu memandang Azka yang sedang berjalan di hadapannya itu.


Mereka berhasil menyeberangi jalan, dengan tangan Azka yang masih tetap menggandeng erat tangan Alea. Alea tak berkutik, karena ia merasa agak sungkan untuk menarik tangannya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2