
“Oh, ya! Gue hampir lupa! Sorry,” gumam Martin, yang lalu menyodorkan tangannya ke arah Alea.
“Gak apa-apa, namanya juga udah lama. Wajar,” tepis Alea.
“Wah, hai Alea, lama tidak jumpa!” sapa Martin, Alea tersenyum dan menjabat tangan Martin dengan senangnya.
“Hai, Martin! Ya, lama ya gak jumpa!” ujar Alea berbasa-basi dengan teman dari Arga.
Di sini, terlihat jelas kalau Alea sangatlah humble. Ia sangat peduli dengan teman-teman dari Arga, karena ia bangga sekali sudah memiliki lelaki seperti Arga yang selalu memperkenalkan dirinya kepada teman-temannya.
Mereka pun saling melepaskan jabatan tangan mereka. Kini, Martin pun memandang ke arah Arga dengan dalam.
“Silakan party sesuka kalian. Malam ini bebas untuk kalian,” ujarnya, membuat Arga tertawa girang karenanya.
Alea hanya memberikan respon secukupnya, setelah mendengar ucapan Martin yang baginya sangat berlebihan. Alea merasa, ada yang tidak beres dengan keadaan di sekitarnya.
__ADS_1
Ini adalah pesta untuk remaja yang baru saja berusia 17 tahun, tetapi kenapa suasananya seperti pesta orang dewasa yang sudah memiliki cukup usia?
Martin pun pergi dari sana, dan menghampiri teman-temannya yang lain. Arga kembali berfokus pada Alea, dan tersenyum ke arahnya.
“Aku ambil minuman buat kamu dulu, ya?” ujar Arga, yang mendapat anggukkan dari Alea.
Arga pun mengambil minuman untuk Alea, sementara itu Alea hanya bisa melihat ke arah hidangan kue manis yang tersedia. Azka pun nampak semakin memperhatikan Alea, karena ia yakin akan ada sesuatu yang tidak baik yang mungkin akan menimpa Alea.
‘Kenapa dia mau sih diajak ke party aneh seperti ini? Ini seperti party untuk orang yang sudah dewasa. Apa dia sudah cukup dewasa untuk menyelenggarakan party ini?’ batin Azka, yang terus memperhatikan ke arah Alea.
“Ini minumannya untuk kamu,” ujar Arga, yang menyodorkannya dengan sangat lembut ke arah Alea.
Alea memandangnya dengan bingung, karena sikap dan kelembutan Arga yang membuatnya tidak bisa menolak apa yang Arga berikan.
Alea tersenyum di hadapan Arga, “Terima kasih,” ujarnya sembari mengambil minuman yang Arga berikan padanya.
__ADS_1
Mereka pun saling melempar senyuman, dengan Alea yang ternyata masih ragu untuk meminum minuman yang diberikan Arga untuknya.
‘Ini pertama kalinya aku minum alkohol. Gimana ya rasanya? Kalau aku sampai gak doyan, kelihatan banget kalau aku memang gak pernah minum!’ batin Alea, yang berdebat dengan batinnya sendiri.
Ternyata, Alea bukannya takut kalau Arga sampai membubuhkan obat ke dalam minumannya, tetapi ia takut kalau semua teman-teman Arga mengejeknya karena ia sama sekali belum pernah minum alkohol sebelumnya.
Arga memandang bingung ke arah Alea, yang sampai sekarang belum juga meminum minuman yang ia berikan padanya.
“Lho, kenapa gak minum? Kamu gak haus?” tanya Arga, Alea pun tersadar dari lamunannya.
“Emm ... iya, aku haus banget!” ujarnya yang terpaksa mengatakan itu untuk menutupi perasaan khawatirnya.
Karena tidak ingin membuat Arga kecewa, Alea pun langsung meminum minuman yang diberikan oleh Arga. Hal itu sontak membuat Azka mendelik kaget melihatnya.
‘Kenapa kamu minum?!’ pekik Azka dalam hati, karena ia tidak bisa mengatakannya langsung pada Alea.
__ADS_1