Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Terpaksa Menangani 2


__ADS_3

Mendengar ucapannya yang sepertinya sangat tulus, Azka hanya menghela napasnya dengan panjang.


“Tas gue masih ada di kelas, kunci motor ada di tas. Nanti setelah anter gue pulang, lo bisa bawa motor gue pulang ke rumah,” ujar Azka, membuat Pras terkejut mendengarnya.


Perbedaan kondisi ekonomi mereka yang sangat berbanding terbalik, membuat Pras senang mendengar hal itu. Bisa memakai motor sport milik Azka saja, sudah suatu kebanggaan untuk Pras.


Seumur hidupnya, Pras sama sekali tidak pernah memakai motor dengan merk yang Azka miliki. Hal itu yang membuatnya bertambah bersemangat.


“Wah, keren! Oke, nanti gue jemput ke UKS!” ujar Pras, yang sangat bersemangat ketika mendengarnya.


Azka hanya tersenyum tipis, kemudian Pras pun meninggalkan ruangan itu dengan keadaan yang sangat senang.


Alea sama sekali tak memberikan respon. Ia hanya berfokus pada peralatan yang ia bawa, yang mungkin akan membuat Azka semakin membaik karena perawatannya.


“Luka di siku tangan kamu belum diperban tadi. Mereka fokus untuk berhentiin darah di kepala kamu. Sekarang, aku mau perban luka di siku kamu,” ujar Alea, Azka hanya diam saja mendengar ucapannya.

__ADS_1


Dengan teknik yang Alea miliki sebagai ketua dari organisasi PMR, Alea dengan sangat terampil menangani luka pada bagian siku Azka. Hal itu membuat Azka merasa sangat senang bisa diperhatikan seperti ini oleh Alea langsung.


“Ke mana mereka yang tadi menangani aku?” tanya Azka, masih dengan nada yang rendah.


“Mereka ke kelas, karena kelas mereka sedang ulangan harian,” jawab Alea, sembari tetap menangani luka yang ada di siku tangan Azka.


Beberapa waktu sudah berlalu, kini Alea sudah selesai membalut luka itu dengan perban yang ia pakaikan pada Azka.


“Sudah selesai.”


Hal itu ternyata berhasil membuat Azka tersipu malu. Alea tak sengaja melihat reaksi Azka yang aneh karena memandangi plester itu.


“Itu bukan buat kamu, ya! Itu plester yang aku siapin khusus untuk Arga, kalau Arga kenapa-napa pas main basket!” ketus Alea, membuat Azka terdiam karena tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.


‘Ternyata, bukan buat aku,’ batin Azka, yang merasa sudah salah paham dengan apa yang ia pikirkan tentang Alea.

__ADS_1


Azka mengira, kalau tulisan tangan itu memang benar untuknya. Ternyata, hal itu sungguh di luar ekspetasinya.


‘Pantas saja dia selalu ada di pinggir lapangan, saat Arga bermain basket! Ternyata, selain khawatir dengan keadaan Arga, dia juga adalah ketua PMR yang bertanggung jawab pada setiap kecelakaan yang terjadi di lapangan?’ batin Azka, yang sudah bisa menyimpulkan apa yang ia pikirkan tentang Alea.


Semua hal sedikit demi sedikit sudah bisa Azka cerna, dengan latar belakang Alea yang sudah mulai ia ketahui. Kini, bertambah lagi satu informasi mengenai Alea.


Alea menyedekapkan tangannya dengan pandangan mata yang ia buang dari hadapan Azka.


“Lagian, ngapain sih mereka nyuruh aku buat nanganin kamu begini? Apa gak bisa sekalian aja tadi?” gerutunya, yang terlihat sangat imut di pandangan Azka.


‘Ya ampun, gerutu itu lagi!’ batin Azka, yang hanya bisa tersenyum melihat Alea menggerutu seperti itu lagi di hadapannya.


“Pasti mereka akan melakukan itu. Karena sebab kejadian ini, adalah karena kekasihmu!” ujar Azka, sontak membuat Alea mendelik dan langsung memandang Azka dengan tatapan tajam.


“Apa?!”

__ADS_1


__ADS_2