
Pandangannya menajam ke arah mobil tersebut, karena sepertinya ia mengenali mobil itu.
Dengan rasa penasaran yang masih menggebu, Alea pun berlarian ke arah gerbang, untuk memastikan dengan benar apa yang ia lihat.
Pandangannya mengikuti mobil yang berjalan ke arah depan, dan ketika sampai di depan gerbang, Alea melihat dengan samar ke arah plat mobil berwarna hitam tersebut.
Betapa terkejutnya Alea, karena ternyata mobil itulah yang sudah hampir menabraknya kemarin. Hatinya menjadi sangat berdebar, saking tidak percayanya ia dengan apa yang ia ketahui itu.
‘Apa benar yang aku lihat ini? Kenapa mereka ingin mencelakai aku?’ batin Alea, merasa sangat bingung dengan apa yang mereka pikirkan tentang dirinya.
Alea menunduk tak percaya, dengan mata yang masih mendelik bingung.
‘Apa mungkin karena aku mendekati Ariel, mereka tidak menyukai hal itu?’ batinnya lagi, merasa sangat aneh dengan yang terjadi di keluarga mereka.
Alea kembali memandang ke arah mobil yang sudah hilang dari pandangannya, “Sepertinya benar, ada tekanan yang besar dalam keluarga mereka, untuk Ariel. Mereka terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan mereka terhadapku,” gumam Alea, masih tak habis pikir dengan apa yang terjadi dengannya.
Setelah kejadian itu, Alea masih terus memikirkan hal itu. Rasanya, bukan sebuah kesalahan jika ia mendekati Ariel. Ia juga tidak berniat jahat dengan Ariel.
Hanya sebatas penasaran saja.
Alea memandang ke arah layar handphone-nya. Ia mencari informasi tentang faktor seorang yang menjadi introvert.
Ia menemukan sebuah artikel yang membahas tentang topic yang ia cari. Di sana, terdapat pembahasan tersebut. Gaya pengasuhan, pendidikan yang diterima, pengalaman hidup di masa kecil, membuat seseorang menjadi introvert.
Alea mengangguk-angguk mengerti, dengan apa yang terjadi dengan Ariel.
“Jadi benar, gaya asuh kedua orang tuanya mempengaruhi sikap dan sifat Ariel,” gumamnya, yang merasa sangat kaget dengan apa yang ia temukan itu.
Membaca artikel ini, membuat Alea menjadi bertambah penasaran.
Bel ruangan apartemennya berbunyi, Alea terkejut jadinya, karena memikirkan tentang permasalahan ini.
Alea memandang ke arah pintu, “Azka malam-malam gini ngapain ke sini?” gumam Alea bertanya-tanya.
__ADS_1
Karena merasa bingung, Alea pun segera bangkit dan menuju ke arah pintu apartemennya.
Setelah ia membuka pintu tersebut, ia tak mendapati siapa pun di sana. Ditengoknya ke arah kiri dan kanan, tetapi ia sama sekali tak menemukan siapa pun.
“Gak ada siapa-siapa?” gumam Alea, yang lalu hendak kembali melangkah ke dalam ruangannya.
Pandangannya tak sengaja menangkap sesuatu, yang berada di lantai. Matanya mendelik kaget, melihat beberapa permen cokelat yang ia berikan kepada Ariel, sore tadi.
Alea membekap mulutnya dengan kedua telapak tangannya, saking tidak menyangkanya ia melihat ke arah permen-permen itu di hadapannya.
‘Siapa yang meletakkan permen ini? Bukannya sudah diambil oleh pelayan itu tadi? Kenapa jumlahnya sama dengan yang dia ambil?’ batin Alea, yang merasa sangat terkejut dengan apa yang ia hadapi ini.
Karena rasa takutnya itu, Alea pun segera masuk ke dalam ruangan apartemennya, kemudian mengunci pintu ruangan tersebut.
Alea berlarian ke arah ruangan kamarnya, saking merasa takut dengan apa yang ia hadapi. Ia masuk ke dalam selimutnya, dan menutupi seluruh tubuhnya.
“Siapa yang meletakkan permen itu? Kalau memang pelayan itu, kenapa dia bisa tahu aku tinggal di sini?” gumam Alea, benar-benar ketakutan jadinya.
Setelah kejadian itu, hari pun kian berganti. Banyak sekali kesempatan Alea untuk berbincang dengan Ariel, tetapi ia menghindarinya. Ia juga sama sekali tidak mengatakan hal ini dengan Azka, karena ia tidak mau membebani Azka.
Saat Alea melihat Ariel menyendiri di ayunan, ia juga tidak berani mendekatinya. Setelah Alea memerhatikannya, ternyata semua teman-temannya juga tidak ada yang berani mendekatinya, atau sekadar duduk di sampingnya.
Setelah pulang sekolah pun, Alea melihat ke arah Ariel, yang baru ingin menuju ke arah ayunan tersebut. Betapa terkejutnya ia, karena melihat Ariel yang terjatuh, sampai membuat kakinya luka.
Matanya membulat, “Ariel!” pekik Alea, merasa sangat terkejut melihatnya.
Sebagai seorang guru yang sangat peduli dengan muridnya, Alea dengan refleks segera berlarian ke arah Ariel. Sesampainya di sana, Alea pun segera berjongkok, dan melihat kaki Ariel yang sudah terluka.
“Are you okay?” tanya Alea, Ariel terlihat sedang menahan tangisnya.
Sungguh sangat aneh bagi Alea, karena melihat dan menemukan seorang bocah berumur 5 tahun, yang sama sekali tidak menangis setelah terluka seperti ini.
Hal ini semakin menguatkan Alea, kalau orang tuanya terlalu keras untuk mendidik Ariel.
__ADS_1
Melihat lukanya yang sudah terlihat parah, Alea pun berinisiatif untuk menggendongnya menuju ke arah ruangan guru. Ia ingin sekali memberi pertolongan pertama pada Ariel.
Tanpa basa-basi lagi, Alea pun segera menggendong Ariel, dan segera menuju ke ruangan tersebut.
Alea berlarian, saking khawatirnya ia dengan keadaan Ariel saat ini.
Sampai akhirnya mereka tiba di ruangan tersebut, Ariel pun lantas didudukkan di sebuah sofa. Alea panik, sampai bingung harus berbuat apa.
“Sebentar, aku ingin mengambil obat merah,” ujar Alea, Ariel yang masih menahan rasa sakitnya, tidak terlalu sadar dengan apa yang Alea ucapkan.
Setelah beberapa saat, Alea pun datang dengan obat tersebut, dan juga sebuah plester. Ia membersihkan lebih dulu kotoran di sekitar luka, dengan cara mengompresnya dengan air hangat, lalu segera meneteskan obat tersebut.
Terakhir ia menempelkan sebuah plester bercorak, dan pertolongan pertama pun selesai dilakukan.
Ariel memandang ke arah Alea dengan bingung, “Kenapa kamu menolong aku?” tanyanya, Alea tersenyum mendengar pertanyaan itu.
“Aku adalah gurumu. Bahkan jika aku bukan gurumu, aku juga akan tetap menolongmu. Aku juga memiliki seorang anak yang usianya hampir sama sepertimu,” ujar Alea, membuat Ariel memandangnya dalam.
“Siapa namanya? Di mana dia bersekolah?” tanya Ariel, mulai penasaran dengan Alea.
Alea tersenyum hangat, karena sikap Ariel yang sangat antusias.
“Aku belum memberinya nama. Dia juga tidak bersekolah di mana pun,” jawab Alea, membuat Ariel memandangnya dengan bingung.
“Kenapa tidak diberi nama? Kenapa juga tidak sekolah? Kau mengajarkan orang lain, tetapi anakmu sendiri tidak kau bekali ilmu,” ujar Ariel, yang sudah berhasil membuat Alea gemas mendengarnya.
Seorang anak berusia 5 tahun, tetaplah seorang anak kecil. Ia sangat ingin tahu segala hal, dan Alea melihat itu pada diri Ariel saat ini.
Selama ini Ariel bungkam, dan sama sekali tidak ingin berinteraksi dengan siapa pun itu.
Alea tersenyum hangat, ‘Ini yang aku inginkan. Tidak masalah jika banyak bertanya. Anak kecil memang harusnya seperti ini,’ batinnya, yang merasa sudah sangat senang dengan kemajuan Ariel ini.
__ADS_1