Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan

Terpaksa Menjadi Wanita Simpanan
Ingkar


__ADS_3

Beberapa saat berlalu, Alea sudah menyelesaikan untuk membilas tubuhnya. Ia merasa sudah sangat kedinginan, karena terlalu lama berada di kamar mandi.


Dengan tubuh yang sudah sangat lelah, ia segera menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang tidurnya, membiarkan rambutnya basah mengenai sprei berwarna putih tersebut.


Alea menghela napasnya sejenak, berusaha untuk menghilangkan segala keresahan yang ada di dalam hatinya.


Sudah beberapa waktu ini ia tidak bertemu dengan Arga, sehingga membuatnya merasa sangat khawatir. Dengan teror yang Azura berikan tadi, membuatnya menjadi semakin khawatir terhadap hubungannya dengan Arga.


“Arga apa kabarnya, ya?” gumam Alea, yang benar-benar sudah merindukan Arga.


Ia juga sangat mengharapkan perkembangan kasus perceraian Arga dan juga Azura, yang membuatnya sangat tidak sabar mendengarnya secara langsung dari mulut Arga.


Terdengar suara bel apartemennya, membuat Alea memandang ke arah pintu ruangan kamarnya sejenak.


Satu senyuman mengembang di pipinya, membuatnya merasa sangat bahagia saat ini.


“Arga,” gumam Alea, yang sangat percaya kalau itu adalah Arga.


Dengan cepat, Alea berlarian ke arah pintu ruangan kamar apartemennya.


Sesampainya di sana, Alea pun segera membuka pintu tersebut, dan benar saja ia melihat Arga yang ada di hadapannya.


“Arga!” pekik Alea, yang benar-benar sangat senang ketika melihat Arga yang berada di hadapannya.


Melihat Alea yang hanya mengenakan selembar handuk saja, hasrat Arga pun memuncak. Dengan segera ia masuk dan memeluk tubuh Alea dengan sangat erat.


Alea juga merindukan Arga, sehingga membalas perlukan Arga dengan sangat erat. Namun, pikirannya terganggu, karena ia teringat dengan kejadian siang tadi.


Alea segera merenggangkan pelukannya pada Arga, “Kamu ... mencium bau yang menyengat tidak, dari rambutku?” tanyanya ragu, Arga yang sudah merasakan hasrat yang menonjol, tidak memedulikan hal itu.


Ia kembali memeluk Alea dengan pelukan yang lebih erat dari sebelumnya, “Kamu mencoba menggodaku, dengan memakai shampoo sebanyak ini?” tanya Arga, membuat wajah Alea merasa panas karena malu mendengarnya.


“Aku tidak menggodamu. Aku hanya berusaha menghilangkan bau busuk, yang masih menempel pada rambutku,” bantah Alea, tetapi Arga masih saja menyangkalnya.

__ADS_1


“Kamu keluar dengan hanya mengenakan selembar handuk. Apa namanya kalau bukan mau menggodaku?” ujar Arga, yang lagi-lagi membuat Alea merasa sangat malu mendengarnya.


“Aku tidak bermaksud begitu,” bantah Alea lagi, tetapi Arga dengan cepat menggendong dirinya untuk menuju ke arah kamarnya.


“Ayo, nikmati sisa waktu ini bersama,” ajak Arga, membuat Alea merasa sangat bingung, tetapi juga sangat senang mendengarnya.


“Apa maksudnya sisa waktu?” tanya Alea, Arga hanya bisa tersenyum mendengarnya.


Arga pun membopong Alea masuk ke dalam kamarnya, dan segera memulai adegan panas yang biasa mereka lakukan, untuk melepaskan rindu yang selama beberapa waktu ini mereka tahan.


***


Setelah mendapatkan apa yang Arga inginkan, Arga pun lekas mengenakan pakaiannya kembali. Alea memandangnya, dengan tangannya yang sembari meraih baju yang ada di dalam lemari.


“Permainan kamu kali ini, tidak sebagus kemarin,” ujar Alea, membuat Arga menghentikan sejenak aktivitasnya, lalu menghela napasnya dengan panjang.


“Apa kau mulai merasakan kenikmatan lain?” tanya Arga menerka apa yang terjadi pada Alea.


“Cepat kenakan pakaianmu,” suruh Arga, membuat Alea mengangguk mendengarnya.


Setelah selesai mengenakan pakaiannya, mereka pun duduk berhadapan di sofa. Hal itu membuat Alea merasa sangat canggung berhadapan dengannya seperti ini.


“Ada apa?” tanya Alea bingung.


“Apa Azura melakukan sesuatu padamu?” tanya Arga, Alea pun mengangguk kecil mendengarnya.


Arga tak habis pikir, karena ternyata Azura tidak akan melepaskan Alea semudah itu. Itu sangat membuat Arga merasa terusik mengetahuinya.


Dengan pandangan yang sangat dalam, Arga memandang ke arah Alea. Hal itu membuat Alea merasa sangat bingung, dan tertekan melihat pandangan Arga yang seperti itu terhadapnya.


“Ada apa, Arga?” tanya Alea, yang benar-benar bingung dengan apa yang Arga lakukan itu.


“Al, aku tahu ini akan menjadi hal yang sangat berat untukmu. Sesuai dengan apa yang aku katakan tadi, nikmati sisa waktu yang kita miliki,” ujar Arga, yang masih membuat Alea bingung mendengarnya.

__ADS_1


“Apa maksudmu?” tanya Alea, dengan sebelah alisnya yang terangkat.


“Aku ... ingin mengakhiri hubungan kita ini.”


Duarrrrrrrrrrrrrrr!


Bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Alea merasa hatinya sangat tersayat, ketika mendengar ucapan Arga yang demikian membuat hatinya terluka.


Kali ini, air mata Alea sampai benar-benar tidak berhenti menetes. Ia merasa sangat sedih, saking sedihnya, ia hanya bisa menahan dirinya saja, walaupun hatinya sedang bergejolak saat ini.


“Apa?” gumam Alea, yang benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang Arga ucapkan itu.


Arga memandangnya dengan dalam, “Aku ... benar-benar akan mengakhiri hubungan kita ini. Aku tidak bisa bersamamu, karena aku diberi tanggung jawab besar oleh keluarga Azura, agar aku bisa menjalani bisnis mereka dengan sebaik-baiknya. Aku tidak bisa berpisah dengan Azura saat ini. Mereka membuat kontrak pernikahan ini seumur hidup,” papar Arga menjelaskan.


Tangan dan kaki Alea gemetar, sekujur tubuhnya terasa sangat lemas saat ini. Ia tidak bisa melakukan apa pun, saking bingungnya harus mengatakan apa.


Seluruhnya sudah ia berikan pada Arga, tetapi Arga benar-benar sudah membuatnya hancur, sehancur-hancurnya. Ia merasa sudah berada dalam kehancuran yang sangat membuatnya kesal.


Berkali-kali Arga datang dan pergi sesuka hatinya, tetapi Alea masih saja memberikan kesempatan kepada Arga.


Itu semua karena kebodohannya, yang masih saja ingin masuk ke dalam lubang yang sama.


Padahal, Azka sudah memberitahukan hal ini pada Alea. Arga tidak akan pernah bersama dengannya, sampai kapan pun. Namun, saking dibutakannya oleh cinta, Alea pun dengan sangat yakin memberikan semuanya pada Arga, termasuk juga memberikan tubuhnya berulang kali padanya.


Tetesan air mata itu tak mau berhenti, semakin membasahi celana selutut yang Alea kenakan. Ia benar-benar tidak bisa berkata apa pun, dan hanya bisa menunduk dengan kesedihannya.


Arga menatapnya dengan tidak merasa bersalah, “Aku harap, kita tidak bertemu lagi nanti, Al. Kirimkan nomor rekeningmu, dan aku akan membayar semuanya padamu, sebesar harga yang kau inginkan,” ujarnya, sontak membuat Alea memandangnya dengan sinis.


“Ini bukan tentang harga, Arga! Ini tentang perasaan dan harga diri aku! Aku gak bisa ditukar dengan uang!!” pekik Alea dengan mengeluarkan seluruh amarahnya di hadapan Arga.


Arga mengerti ini sangat berat, tetapi ia sama sekali tidak merasa bersalah atas kejadian ini.


“Sudahlah Alea, manusia bisa saja ingkar. Aku akan membayar semuanya, sesuai dengan harga yang kau minta. Kamu tinggal sebutkan berapa pun yang kau ingikan!” ujar Arga, yang benar-benar sudah tidak memiliki hati nuraninya sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2