
“Aku sayang kamu, Alea!” gumam Arga sembari tetap memeluk Alea dengan erat.
Alea tak merasakan apa pun, hanya merasa bahwa ia sangat menyayangi lelaki yang saat ini sedang memeluknya.
Bukan sayang, tetapi nafsu sesaat yang hanya bisa merugikannya. Namun, Alea yang masih labil benar-benar tidak mengetahui hal itu.
Arga merenggangkan pelukannya, lalu segera mendekatkan wajahnya ke arah Alea. Debaran jantung Alea terus terpacu, karena Arga yang meniadakan jarak di antara mereka itu. Alea hanya tahu kalau ia sangat mencintai Arga, tetapi ia tidak tahu bahwa Arga hanya memanfaatkan apa yang ada pada dirinya saja.
Semua kebenaran seakan tertutup, hanya karena rasa cintanya terhadap Arga.
Arga mengecup bibir mungil Alea, sembari mengusap lembut wajah Alea dengan tangan kanannya. Tangan kirinya berada pada leher Alea, berusaha untuk merangsang pergerakan Alea dan juga hasrat terlarang Alea.
Karena merasa sentuhan Arga sangatlah menggoda, Alea pun menjadi lepas kendali pada situasi yang tidak memungkinkan itu. Ia seakan lupa, kalau mereka sedang tidak berada di tempat yang nyaman.
Semua tumpuan mereka sandarkan pada tembok yang memojokkan tubuh Alea. Sembari tetap bercumbu mesra, tangan Arga terus menggerayangi sekujur tubuh Alea dengan sangat teliti. Tak ada satu sudut pun yang terlewat dari gerayangan tangan Arga.
Arga merasakan kepuasan yang tak terbendung, karena ia merasa tubuh Alea lebih menantang dibandingkan tubuh Azura, yang memang sudah biasa ia gerayangi. Karena baru kali kedua ia melakukan ini pada Alea, ia merasa sangat tertantang untuk melakukan hal yang lebih gila lagi dengan apa yang biasa ia lakukan bersama dengan Azura.
‘Aku suka ini,’ batin Arga, yang merasa sangat senang bisa menyentuh Alea dengan sesuka hatinya.
Sementara itu, Azka merasakan ada sesuatu yang aneh yang mungkin saja terjadi pada Alea. Ia merasa seperti ada keterikatan batin, antara dirinya dan juga Alea. Ia merasa sangat khawatir, tentang masalah yang sama sekali tidak ia ketahui.
‘Ada apa, ya? Kenapa aku malah mikirin dia terus?’ batin Azka, yang merasa sangat gusar karena hal itu.
Setengah jam berlalu, dan Azka masih saja merasakan hal yang tidak biasa yang mungkin terjadi pada Alea. Ia merasa tak tenang, sampai pikirannya terlalu bertumpu pada Alea.
‘Masih mikirin dia aja, memang sebenarnya ada apa sih sama dia?’ batin Azka, yang firasatnya sangat tepat terhadap Alea.
Jam pulang sekolah pun sudah tiba, bel pun berbunyi dengan kencangnya. Namun, Azka masih merasa ada hal aneh yang mungkin saja menimpa Alea.
__ADS_1
Dari arah luar ruang UKS, muncul Pras di sana yang sudah memegang tas Azka. Ia menepati janjinya, untuk membantu Azka pulang ke rumahnya.
“Apa udah baikan?” tanya Pras, membuat konsentrasi dan rasa khawatir Azka menjadi buyar seketika.
Azka memandang ke arah Pras, yang saat ini duduk di kursi yang berada di hadapannya.
“Lebih baik daripada tadi,” jawab Azka seadanya.
“Baguslah, jangan sampai tambah parah. Kalau bertambah parah, gue bisa anter lo ke rumah sakit, kok!” ucapnya berusaha untuk menghibur Azka yang kondisinya sedang tidak baik saat ini.
“Makasih atas perhatiannya,” ujar Azka, yang agak tegang berhadapan dengan Pras.
Pras sampai tertawa mendengarnya, “Lo kenapa, sih? Gak usah sungkan gitu, lah! Gak usah kaku juga sama gue, biasa aja!” ujarnya sembari tetapi tertawa kecil di hadapan Azka.
Karena mendengar ucapan Pras, Azka tersadar bahwa suasana hatinya membuatnya menjadi canggung berhadapan dengannya.
“Lo kenapa, sih? Ada masalah?” tanya Pras, lagi-lagi ingin mengetahui apa yang Azka rasakan.
Walaupun Pras sangat memedulikannya, tetapi Azka masih belum bisa membuka dirinya di hadapan Pras. Mereka juga baru saja kenal beberapa waktu lalu, sebagai teman satu kelas dan satu tempat duduk.
“Gak ada apa-apa, kok! Gue cuma gak bisa ngambil handphone gue,” ujarnya, “bisa tolong ambilin?” pinta Azka.
Pras menggelengkan kepalanya karena merasa sangat bingung dengan yang Azka lakukan, “Haduh, gitu aja pake kaku banget. Tinggal minta tolong aja, sih!”
Dengan setengah meledek, Pras mengambilkan handphone Azka yang masih terjatuh di ranjang bawah tempat tidurnya. Hal itu membuat matanya mendelik, karena saat ia hendak mengambil handphone tersebut, ia tak sengaja melihat video yang masih terbuka pada handphone-nya.
Sejenak Pras melihat video itu, membuat matanya hampir saja keluar dari pelupuknya.
“Apaan nih?!” pekiknya terkejut, sontak membuat Azka terkejut mendengarnya.
__ADS_1
‘Jangan-jangan dia lihat ....’
TSET!
Dengan sangat cepat, Azka mengambil handphone-nya dari tangan Pras, membuat Pras bertanya-tanya dengan apa yang ia lihat tadi. Orang yang ada di dalam video itu tampak tak asing baginya, walaupun lelaki itu berdiri membelakangi kamera.
“I-itu siapa, Ka?!” pekiknya kaget, Azka hanya bisa menonaktifkan handphone-nya, agar Pras tidak bisa melihat kembali orang yang berada di dalam video tersebut.
“Bukan siapa-siapa!” ketus Azka, yang tak bisa menjelaskan apa pun kepada Pras.
Walaupun Azka tidak terbuka, tetapi Pras memiliki penilaian sendiri. Ia sangat mengenal lelaki yang ada di dalam video itu. Walaupun ia tidak mengetahui gadis itu, tetapi ia sangat mengetahui lelaki itu.
“Itu ... Arga, ‘kan?!” pekiknya, membuat Azka hanya bisa menelan salivanya saja.
Sementara itu, Arga masih setengah memuaskan hawa nafsunya. Ia menggendong tubuh mungil Alea, dan ia mendudukkannya di atas meja yang berada di hadapan mereka.
Setiap lenguhan yang keluar dari mulut Alea, bagaikan musik yang sangat syahdu bagi Arga. Ia merasa bercinta dengan Alea, sangat berbeda dengan saat ia bercinta dengan Azura. Karena masih malu-malu melakukannya, ada sensasi tersendiri bagi Arga.
‘Dia masih malu melakukannya. Wajar saja, sih!’ batin Arga, yang terus melakukan hal yang ia sukai pada Alea.
Kancing kemeja Alea sudah sepenuhnya ia tanggalkan. Ia melihat bra hitam yang membungkus dua gundukan kenyal milik Alea, dan langsung mendekatkan wajahnya ke arah kedua benda kenyal tersebut. Ia mengelus lembut wajahnya ke arah benda kenyal itu, sehingga membuat dagu Alea naik ke arah atas.
Pandangan mata Alea pun terus menutup, saking menikmatinya sentuhan yang Arga berikan padanya. Arga sanga berhati-hati saat memperlakukan Alea, karena ia tidak bisa memperlakukannya sama seperti ia memperlakukan Azura yang sudah sangat pro melakukan hal ini.
‘Perlahan tapi pasti.’
Tangannya ia lingkarkan dan ia masukkan pada kemeja Alea, untuk membuka pengait bra yang masih terpasang pada dada Alea. Dengan beberapa gerakan, tangan Arga berhasil membuka pengait bra Alea yang masih tersangkut pada tempatnya.
__ADS_1