
Pantry
Setelah keduanya mengobrol dan menghabiskan secangkir kopi bersama, Bella kemudian lantas terlihat bangkit dari kursinya membuat Airin langsung menatap dengan tatapan yang bertanya ke arah Bella.
"Mau kemana?" tanya Airin kemudian.
"Ada beberapa artikel yang belum aku edit, aku pergi dulu ya..." jawab Bella sambil melambaikan tangannya ke arah Airin.
"Cih dasar!" ucap Airin sambil memutar bola matanya dengan jengah.
Bella yang melihat raut wajah Airin yang seperti lantas tertawa dengan kecil kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan area pantry untuk kembali ke meja kerjanya.
Seulas senyum lantas terbit dari wajah Airin ketika mengingat kembali tingkah sahabatnya itu. Sambil sesekali meminum coffee di cangkirnya yang masih tersisa Airin nampak menatap lurus ke arah depan.
Criettt
Suara pintu yang terbuka secara perlahan lantas membuat Airin tersenyum karena mengira itu adalah Bella yang kembali lagi ke arah pantry karena meninggalkan sesuatu di sana.
"Apa lagi yang kau tinggalkan Bel? Kau... Asti?" ucap Airin yang salah mengira jika suara pintu terbuka tersebut berasal dari Bella padahal bukan melainkan Asti.
Asti yang mendengar perkataan Airin barusan hanya terdiam sambil mulai melangkahkan kakinya ke arah mini bar dan mulai membuat sesuatu di sana. Airin yang melihat Asti hanya terdiam tanpa menanggapi apapun lantas mengernyit, tidak biasanya Asti hanya diam saja ketika ditanya membuat Airin langsung menatapnya dengan tatapan yang bingung.
"Apakah terjadi sesuatu kepadamu? As..." ucap Airin sambil mulai bangkit dari posisinya.
Airin yang penasaran akan sikap Asti yang hanya diam saja, lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Asti berada. Suasana saat itu begitu hening dan juga dingin membuat Airin semakin merasa aneh dengan perubahan suhu yang secara tiba-tiba di ruangan itu.
__ADS_1
"As kita pergi saja yuk dari sini sepertinya pendingin ruangan ini rusak, biar nanti aku minta pak Tamrin untuk membetulkannya.. As..." ucap Airin sambil terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Asti berada.
Seulas senyuman smirk terlihat jelas di wajah Asti tanpa Airin ketahui sama sekali. Dengan perlahan Asti nampak mengambil sebuah garpu dan menggenggamnya dengan erat di tangannya.
"Darah suci..." ucap Asti dengan nada yang lirih namun terdengar begitu samar di telinga Airin saat itu.
"Apa yang kau katakan As? Mengapa suara mu kecil sekali?" ucap Airin karena tidak terlalu mendengar perkataan Asti barusan.
Asti kembali tersenyum di tempatnya, membuat Airin yang tidak mendapat jawaban apapun dari Asti lantas langsung menyentuh pundak Asti. Hanya saja siapa sangka, ketika Airin menyentuh pundak Asti yang Asti lakukan malah menarik tangan Airin dan membalikkan posisi dimana saat ini Airin yang malah berada tepat di bawah Asti.
Tatapan Asti begitu tajam dengan manik mata yang menghitam, sambil menahan Airin agar tetap di bawahnya Asti lantas mengayunkan garpu tersebut ke arah leher Airin, membuat Airin yang mengetahui hal itu lantas berusaha untuk menahan tangan Asti agar tidak sampai menusuknya.
"Apa kau sudah gila As? Sadarlah Asti!" pekik Airin.
Airin jelas tahu bahwa Asti saat ini tengah dikendalikan oleh sebuah roh jahat membuatnya terus berusaha untuk menyadarkan Asti, namun nyatanya hal itu sama sekali tidak semudah yang dibayangkan.
"Mau kemana kau!" ucap Asti dengan nada yang terdengar marah.
Airin benar-benat tidak mau dengan hal itu dan terus melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu. Hanya saja ketika langkah kakinya hampir berhasil keluar dari sana pintu ruangan tersebut lantas tertutup dengan rapat yang tentu saja membuat Airin mulai berdecak dengan kesal.
"Heh setan sialan, sebaiknya kamu cepat keluar dari dalam tubuh Asti sekarang juga! Jangan harap kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan dengan memasuki tubuh Asti saat ini." ucap Airin dengan nada yang kesal sambil menunjuk ke arah Asti.
Asti yang mendengar perkataan dari Airin barusan tentu saja langsung tertawa dengan terbahak-bahak seakan meremehkan perkataan dari Airin barusan, membuat Airin lantah mendengus dengan kesal karena lagi-lagi harus berhadapan dengan bangsa mereka.
"Kau ingin menyelamatkan anak ini? Jangan harap apapun selagi kau belum menyerahkan dirimu kepada ku!" ucap Asti dengan nada yang terdengar berbeda.
__ADS_1
Ini bukanlah pertama kalinya Airin selalu berhadapan dengan sebangsa iblis atau bahkan sosok hantu lainnya yang memasuki tubuh manusia dan ingin mengambil darahnya. Airin bahkan sudah berusaha sebisa mungkin untuk menghindari mereka, hanya saja situasi dan kondisi yang selalu saja menempatkannya dalam sebuah hal yang berhubungan dengan mereka lantas membuat Airin menjadi sedikit lebih kesal.
"Oh ayolah aku hanya ingin hidup dengan normal..." ucap Airin menggerutu, yang lantas membuat Asti tersenyum dengan senang.
"Tidak akan pernah selama kamu masih memiliki darah yang kini mengalir di tubuh mu!" ucap Asti kemudian dengan nada yang begitu mengerikan hingga membuat bulu kuduk Airin berdiri kala itu.
Setelah mengatakan hal tersebut Asti lantas berlari dengan langkah kaki yang cepat menuju ke arah Airin sambil mengangkat garpu di tangannya dengan tinggi seakan berusaha untuk menusuk Airin saat itu. Melihat langkah kaki Asti yang begitu cepat kemudian lantas membuat Airin beranjak dari sana dan mencoba mencari jalan keluar dari ruangan pantry itu.
"Sialan!" gerutu Airin dengan nada yang kesal.
"Mau lari kemana kamu ha? Hahaha..." ucap Asti dengan tawa yang menggema.
Airin yang hanya bisa berputar-putar di tempat yang sempit itu, lantas mulai mencari jalan keluar namun ketika ia tengah berusaha mencari celah untuk keluar sebuah tarikan tangan yang kuat lantas mengejutkannya sehingga membuat Airin terhempas dan menabrak meja yang terletak di sudut area pantry tersebut.
Tes...
Satu persatu bulir darahnya menetes ketika tanpa sengaja lengan Airin tergores sudut meja yang lancip, membuat senyuman iblis langsung terlihat dengan jelas di wajah Asti saat itu.
"Darah suci... Darah suci..." ucap Asti berulang kali sambil menatap ke arah setiap tetes darah yang mulai terlihat merembes di lengan bajunya.
"Akh mengapa harus sekarang sih!" ucapnya dengan nada yang kesal.
Langkah kaki Asti terlihat kian mendekat dan semakin mendekat membuat Airin tidak tahu lagi harus berlari kemana. Sampai kemudian ketika Asti sudah bersiap hendak melompat dan menerkam Airin, sebuah tenaga yang begitu besar dan entah datang dari mana langsung menghempaskan tubuh Asti dengan seketika dan menimbulkan suara gaduh di sana.
Bruk...
__ADS_1
Bersambung