Tetangga Baruku Vampir?

Tetangga Baruku Vampir?
Biarkan dia hidup


__ADS_3

"Apa yang sebenarnya Ratu lakukan di sini?" ucap Daniel kemudian yang sudah tidak sabaran ingin mendengar jawaban dari Sofia saat itu.


Sofia yang mendengar pertanyaan dari Daniel barusan tentu saja langsung menghentikan gerakannya dengan seketika. Ditatapnya Daniel dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, sambil kemudian melangkahkan kakinya menuju ke arah sofa dan mengambil duduk di sana.


"Darahnya masih terasa sedikit hambar, mungkin sekitar beberapa bulanan atau bahkan satu tahun dia akan matang dan terasa lebih manis." ucap Sofia sambil tersenyum dengan simpul membuat Daniel yang mendengar hal tersebut lantas langsung mengernyit.


Daniel melangkah kakinya mendekat ke arah dimana Sofia berada sambil menatap ke arahnya dengan tatapan yang intens. Kemudian berhenti ketika langkah kakinya berada tepat di sebelah Sofia.


"Saya mohon jangan kali ini Ratu, biarkan dia menjemput ajalnya dengan normal.. Jangan ambil dia... Ijinkan dia melewati kehidupannya dengan normal." ucap Daniel yang baru saja menyadari akan arah dari pembicaraan Sofia saat ini.


Sofia yang mendengar perkataan dari Daniel barusan bukannya memberikan tanggapan, malah tertawa dengan kencang. Mendapati hal tersebut membuat Daniel lantas semakin takut jika Sofia akan melakukan hal yang sama dengan beberapa tahun yang silam. Seakan sebuah masa lalu yang akan terulang kembali, Daniel yang tidak ingin hal tersebut terjadi kembali lantas langsung mengambil posisi bersimpuh tepat di samping Sofia saat itu.


"Saya mohon Ratu, berilah dia belas kasihan di kehidupannya saat ini. Sebuah rasa simpati yang mungkin akan membawa rasa bersyukur dalam hatinya kepada anda." ucap Daniel mencoba untuk membujuk Sofia, meski Daniel tidak yakin akan hal ini namun setidaknya ia sudah berusaha.


Sedangkan Sofia yang mendengar permohonan dari Daniel barusan lantas langsung bangkit dari tempat duduknya. Di tariknya Daniel saat itu agar bangkit dari posisinya kemudian Sofia bawa melesat hingga ke sudut ruangan tersebut.


"Darah suci ada untuk dinikmati, jika aku membiarkannya hidup di masa ini.. Apakah kamu bisa menjamin jika ia tidak akan tewas oleh makhluk lainnya selain kita? Daniel... Daniel.. Jangan bertindak bodoh dan serahkan darah suci itu tepat ketika dia matang. Kamu tentu tahu bukan imbalan jika menyerahkannya untuk Ratu Serigala?" ucap Sofia sambil mencengkram leher Daniel dengan kuat saat itu.


Daniel yang mendengar setiap perkataan dari Sofia tentang Airin, hanya bisa terdiam sambil menahan rasa sakit yang menjalar di seluruh area lehernya. Sampai kemudian Sofia menghempaskan tubuhnya begitu saja dan membuatnya langsung terhuyung dengan seketika.


"Aku memberi mu waktu beberapa bulan untuk berpikir, jika kamu tidak ingin memberikan darah suci itu kepadaku.. Maka aku yang akan mengambilnya secara paksa darimu!" ucap Sofia dengan nada penuh penekanan.


"Tapi Ratu.." ucap Daniel hendak membantah namun terhenti seketika disaat ia mendapat tatapan tajam dari Sofia saat itu.

__ADS_1


"Lakukan saja tugas mu dengan benar!" ucap Sofia dengan tatapan yang tajam.


Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Daniel terkejut dan juga gelisah. Sampai kemudian sebuah suara ketukan dari pintu ruangannya, lantas membuatnya langsung menoleh ke arah sumber suara. Dan baru menyadari jika saat ini Sofia sudah tidak ada di ruangannya tepat ketika suara ketukan pintu tersebut terdengar menggema di ruangannya.


"Permisi boleh saya masuk Pak?" ucap sebuah suara dari arah luar pintu ruangannya.


Daniel yang mengetahui dengan jelas siapa yang tengah berada di luar ruangannya tersebut, kemudian mulai mengambil langkah kaki lebar dan membuka kunci pintu ruangan tersebut.


Ceklek...


"Tumben Bapak menguncinya? Apakah Bapak menyembunyikan seseorang di dalam sini? Atau jangan-jangan..." ucap Airin dengan tatapan yang menelisik mengedarkan pandangannya ke area sekitaran.


Daniel yang seakan tahu jika Airin pasti ingin bertemu dengan Sofia, lantas langsung mengambil map yang di bawa Airin sedari tadi. Sedangkan Airin yang mendapati jika map tersebut di ambil tentu saja membuat Airin terkejut karenanya.


"Saya datang membawakan naskah yang baru saja melalui proses edit dan menunggu persetujuan anda. Em Pak... Siapakah wanita yang tadi bersama anda, apakah..." ucap Airin seakan mencoba mencari tahu tentang wanita tersebut.


Jujur saja setelah jari tangannya yang mendadak sembuh dan tidak berbekas, membuat Airin lantas penasaran akan siapa sosok dari wanita yang bertemu dengannya tadi di lorong. Hal tersebutlah yang membuat Airin mempunyai sebuah ide untuk datang dan memberikan laporan milik Bella secara langsung kepada Daniel, meski sebenarnya itu bukanlah tugas Airin.


"Naskah yang sudah melalui proses editing? Bukankah ini harusnya tugas Bella? Mengapa jadi kamu yang mengantarkannya?" ucap Daniel kemudian sambil fokus menatap ke arah map tersebut.


Raut wajah Airin yang tadinya percaya diri perlahan-lahan langsung berubah dengan seketika begitu mendapati jika Daniel sepertinya mengetahui niatannya. Airin yang tadinya mengedarkan pandangannya ke area sekitar seakan seperti tengah mencari tempat persembunyian wanita itu, mendadak langsung terdiam di tempatnya sambil menelan salivanya dengan kasar.


"Sial!" gerutu Airin begitu mendapati ia tengah tertangkap basah.

__ADS_1


"Airin katakan dimana Bella saat ini? Bukankah dia yang seharusnya mengantarkan laporan ini ke ruangan ku?" ucap Daniel kemudian sambil mengangkat map tersebut tinggi-tinggi.


"Em itu anu Pak... Tadi Bella sedang sakit perut makanya saya yang mengantarkannya kemari langsung kepada anda. Lagi pula saya sekarang sedang senggang." ucap Airin mencoba untuk mencari alasan yang tepat untuk perkataannya barusan.


Daniel yang mendengar dengan jelas kata senggang keluar dari mulut Airin, tentu saja langsung meletakkan map tersebut di atas meja kerjanya kemudian mulai mengambil langkah kaki perlahan mendekat ke arah dimana Airin berada saat itu.


"Ah senggang ya? Bukankah aku baru saja memberikan mu sebuah tugas tadi pagi? Sepertinya kamu begitu jenius hingga bisa menyelesaikan tugas dari ku siang ini. Jika seperti itu, bawa semua progres naskah yang ku berikan kepadamu lengkap dengan sinopsis dan juga covernya sekaligus sekarang juga!" ucap Daniel kemudian yang tentu saja langsung membuat Airin melongo dengan seketika.


"Gak gitu juga dong Pak! Komputer saja masih butuh loading untuk memproses datanya, bagaimana bisa Bapak sekejam itu kepada saya?" pekik Airin dengan spontan begitu mendengar perintah tak masuk akal dari Daniel barusan.


"Bukankah kamu yang mengatakan jika kamu sedang senggang? Lalu apa masalahnya?" ucap Daniel dengan tatapan yang menyindir.


"Sa...ya tidak pernah bilang seperti itu, yang tadi saya bilang adalah jika kedatangan saya ke sini hanya untuk mengantar laporan ini. Saya permisi Pak, terima kasih..." ucap Airin kemudian langsung mengambil langkah kaki seribu meninggalkan ruangan Daniel detik itu juga.


**


Bruk


Suara pintu ruangan Daniel yang tertutup dengan rapat, lantas memperlihatkan Sofia yang berada di luar ruangannya saat itu. Sofia menatap kepergian Airin dengan tatapan intens sambil tersenyum dengan simpul seakan seperti tengah menemukan sesuatu.


"Kita lihat saja apa yang akan terjadi ke depannya..." ucap Sofia dengan tatapan yang sinis.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2