Tetangga Baruku Vampir?

Tetangga Baruku Vampir?
Pimpinan redaksi baru


__ADS_3

"Apakah Vampir angkuh itu tak mengijinkan mu pergi tidur semalam? Mata panda mu itu benar-benar terlihat mengerikan!" ucap sebuah suara yang tentu saja langsung membuat Airin mendongak ketika mendengar suara tersebut.


Ada sedikit perasaan terkejut ketika Airin mendongak dan mendapati jika yang sedari tadi mengajaknya berbicara adalah Daniel. Seseorang yang baru saja ia temui semalam dan membuat Luke begitu marah tanpa alasan yang jelas.


"Kau! Bagaimana bisa ada di sini? Apa kau sedang mengikuti ku?" ucap Airin dengan raut wajah yang penuh kebingungan.


Sedangkan Daniel yang mendengar hal tersebut hanya tersenyum dengan simpul kemudian melangkahkan kakinya dengan perlahan mendekat ke arah dimana Airin berada saat itu. Daniel mengambil gelas kopi milik Airin kemudian langsung meminumnya begitu saja, membuat Airin langsung melongo dengan seketika begitu melihat kopinya di ambil begitu saja oleh Daniel.


"Apa yang kau lakukan ha! Dasar menyebalkan!" pekik Airin dengan nada yang kesal sambil memukul pundak Daniel berulang kali.


Daniel yang mendapatkan pukulan tersebut hanya tersenyum dengan simpul kemudian berusaha menghindar dari pukulan Airin sambil berlarian kesana kemari.


"Berhenti Daniel! Aku bilang berhenti.. Kau bahkan sudah mengambil kopi ku begitu saja!" pekik Airin dengan nada yang kesal memperingati Daniel saat itu, sedangkan Daniel yang mendengar perkataan Aruna hanya tertawa dengan kecil sambil terus berusaha menghindar dan mengejek Airin.


Disaat Airin dan juga Daniel terlibat aksi saling kejar-kejaran, mendadak pintu pantry terbuka dengan lebar dari arah luar. Membuat Daniel dan juga Airin langsung menghentikan gerakannya dengan seketika. Bella nampak terdiam di tempatnya dengan raut wajah yang bingung begitu mendapati Airin dan juga Daniel bersikap dengan aneh seperti tengah tertangkap basah melakukan sesuatu di area pantry. Sedangkan Bella yang melihat Daniel ada di sana tentu saja langsung canggung.


"Selamat siang Pak..." ucap Bella kemudian sambil dengan posisi sedikit menunduk ke arah Daniel, membuat Airin langsung mengernyit dengan seketika.


Mendengar hal tersebut Daniel langsung memasang wajah yang tegas kemudian menunduk sekilas membalas sapaan dari Bella sambil masih memegang cangkir milik Airin yang sebelumnya ia rebut.


"Siang..." jawab Daniel dengan nada yang singkat sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan keduanya.


Bella yang memperhatikan tingkah Daniel dan juga Airin yang aneh, lantas hanya bisa menatap keduanya dengan tatapan yang bingung secara bergantian. Sampai kemudian tepat setelah Daniel berlalu pergi dari area pantry, Bella yang penasaran lantas langsung mendekat ke arah dimana Airin berada untuk menanyakan perihal ini.


"Apa yang terjadi antara kau dengan pak Daniel Ai?" tanya Bella dengan raut wajah yang penasaran.


"Kamu mengenal dia Bel?" ucap Airin yang seakan terkejut ketika Bella mengatakan sesuatu tentang Daniel.

__ADS_1


Hanya saja Bella yang mendapat pertanyaan tersebut dari Airin tentu saja langsung mengernyit dengan seketika, sampai membuat Bella menatap ke arah Airin dengan tatapan yang aneh.


"Ada apa sih Bel?" tanya Airin dengan raut wajah yang penasaran.


"Apa kau sungguh-sungguh tidak tahu siapa dia Ai?" tanya Bella kemudian sekali lagi seakan mencoba untuk memastikannya.


"Apa wajah ku saat ini terlihat sedang bercanda Bella sayang?" ucap Airin dengan raut wajah yang mulai kesal akan pertanyaan dari Bella yang terus di ulang.


Mendengar hal tersebut lantas membuat Bella menghela napasnya dengan panjang. Jika dilihat dari ekspresi raut wajah yang di tunjukkan oleh Airin saat ini sepertinya Airin benar-benar tidak mengetahuinya.


"Dia adalah Pimpinan Redaksi yang baru, setelah kejadian kamu pingsan saat itu kabar tentang perrolingan pak Kusuma berhembus dengan cepat. Kau tahu bukan seperti apa watak pak Kusuma? Setidaknya pak Daniel mungkin akan bisa memimpin perusahaan penerbitan ini dengan lebih baik lagi." ucap Bella kemudian mulai menjelaskan segalanya, namun malah membuat Airin terkejut dengan seketika begitu mendengar hal tersebut.


"Apa? Bagaimana mungkin? Mengapa dunia ini sempit sekali?" ucap Airin dengan raut wajah yang kesal, membuat Bella langsung menatap ke arahnya dengan tatapan yang aneh.


"Ada apa sih Ai?" ucap Bella dengan raut wajah yang penasaran.


**


Meja kerja Airin


Perkataan Bella ketika di pantry saat itu benar-benar membekas di kepalanya, entah bagaimana secara tiba-tiba Daniel malah menjadi seorang Pimpinan redaksi di perusahaannya. Hal ini benar-benar gila dan membuat kepala Airin pusing dengan seketika.


"Mengapa hal ini harus terjadi kepadaku? Satu masalah saja belum selesai dan saat ini sudah di tambah lagi dengan masalah yang baru, apa yang harus aku lakukan?" ucap Airin menggerutu dengan kesal sambil mulai meletakkan kepalanya di atas meja dengan raut wajah yang cemberut.


Dok dok dok


Sebuah suara ketukan yang berasal dari meja kerjanya saat itu, lantas membuat Airin terkejut seketika dan langsung mendongak menatap ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Kamu datanglah ke ruangan ku ada yang ingin aku bicarakan kepadamu!" ucap Daniel dengan nada yang tegas sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana.


"Apa lagi yang ia mau saat ini hingga menyuruh ku datang ke ruangannya?" ucap Airin dengan kesal sambil mulai bangkit dari tempat duduknya.


***


Ruangan Pimpinan redaksi


Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan untuk masuk, Airin terlihat mulai membawa langkah kakinya masuk ke dalam dengan perlahan.


"Apakah ada sesuatu bapak Daniel yang terhormat." ucap Airin sambil memutar bola matanya dengan jengah.


Melihat ekspresi wajah Airin saat ini tentu saja hampir membuat Daniel tertawa karenanya, hanya saja sebisa mungkin Daniel tahan agar tidak sampai terlihat dan membuat Airin curiga.


Dengan perlahan Daniel kemudian menyerahkan sebuah berkas ke arah Airin dan langsung membuat Airin melihat ke arah berkas yang baru saja ia terima.


"Apakah ada sesuatu dengan naskah ini?" tanya Airin kemudian yang langsung bersikap formal ketika mendapati Daniel tengah membahas masalah pekerjaan.


"Saya dengar jika harusnya naskah itu bisa terbit minggu depan, namun sang penulis mendadak tidak bisa di hubungi. Apakah kamu sudah mencari tahu apa masalahnya?" ucap Daniel kemudian mulai mengajukan pertanyaan.


"Aku sudah memberikan tugas ini kepada Ilham, aku yakin ia tengah mengurusnya saat ini." ucap Airin sambil kembali meletakkan naskah tersebut ke atas meja kerja Daniel.


Daniel yang mendengar jawaban tersebut hanya manggut-manggut kemudian kembali mendorong naskah tersebut ke arah Airin, yang tentu saja langsung membuat Airin mengernyit dengan seketika.


"Aku ingin kamu yang menanganinya, lagi pula soal penulis dan juga naskah kamu juga punya tanggung jawab di dalamnya!" ucap Daniel dengan nada yang datar.


"Tapi..."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2