
"Bagaimana kabar mu? Apakah perasaan mu sudah lebih baik saat ini?" ucap Daniel kemudian yang lantas membuat Airin langsung mengernyit dengan seketika.
"Aku baik-baik saja.. Setidaknya meski kita terjatuh dan dalam kondisi yang terpuruk sekalipun kita tetap harus bangkit, bukan?" ucap Airin sambil tersenyum garing seakan mencoba untuk membuat suasananya lebih nyaman.
Ia bahkan tidak menyangka jika Daniel memanggilnya saat ini hanya untuk menanyakan kabar darinya. Airin pikir sebelumnya Daniel akan mengomel atau bahkan memberikannya tugas yang begitu berat karena beberapa hari absen.
"Baguslah jika kamu mengatakan hal tersebut, tadinya aku pikir kamu akan bunuh diri atau semacamnya." ucap Daniel dengan nada yang terdengar begitu santai, namun berhasil membuat Airin begitu terkejut ketika mendengar perkataan darinya.
"Apa? Bukankah kata-kata anda sedikit berlebihan?" ucap Airin dengan nada yang penuh penekanan karena kesal ketika mendengar perkataan dari Daniel barusan yang sedikit tak pantas menurutnya.
Mendengar nada kesal yang diucapkan oleh Airin barusan, lantas membuat Daniel langsung tersenyum dengan simpul. Daniel mulai bangkit dari kursi kebesarannya, kemudian membawa langkah kakinya mendekat ke arah di mana Airin berada sambil mengambil beberapa skrip dengan ketebalan yang luar biasa di sana. Membuat Airin yang melihat hal tersebut lantas langsung mengernyit sambil bertanya-tanya.
"Baguslah jika begitu, sekarang saatnya untuk bekerja dan lakukan tugasmu dengan baik. Kau tahu? Sudah beberapa hari ini kau absen dan membuatku semakin pusing karena terus menumpuk pekerjaan yang tidak kunjung selesai." ucap Daniel dengan nada yang datar sambil memberikan naskah tersebut kepada Airin.
Airin yang mendengar perkataan Daniel dan juga menerima naskah tersebut, tentu saja langsung melotot dengan seketika. Bisa-bisanya Daniel mengatakan hal tersebut tepat dihadapannya, membuat Airin langsung berdengus dengan kesal ketika mendapati tingkah laku Daniel yang tak kunjung berubah juga.
"Padahal aku baru saja menaruh prasangka baik kepadanya, tapi Lagi dan lagi dia membuatku kesal karena tingkah lakunya barusan. Benar-benar Bos yang tidak punya hati nurani." gerutu Airin dengan nada yang sedikit lebih lirih, namun masih bisa terdengar oleh Daniel saat itu.
"Apa katamu barusan?" ucap Daniel kemudian dengan tatapan yang intens ke arah Airin saat itu.
"Ah tidak ada apa-apa, terima kasih banyak atas tugasnya Bapak saya permisi dulu..." ucap Airin kemudian dengan tersenyum garing ketika mendengar pertanyaan dari Daniel barusan.
__ADS_1
Setelah mengatakan hal tersebut, pada akhirnya Airin nampak mulai melangkahkan langkah kakinya berlalu pergi begitu saja dengan raut wajah yang cemberut. Mendapati hal tersebut membuat Daniel yang mengerti akan segala hal yang dilakukan oleh Airin saat ini, lantas langsung tersenyum dengan simpul. Daniel benar-benar merindukan saat-saat seperti ini. Entah mengapa setelah beberapa hari ini Airin tidak masuk ke kantor, membuat Daniel begitu merindukan pertengkaran kecilnya bersama dengan Airin dan juga tingkah lakunya yang menyebalkan itu.
"Dia benar-benar masih sama seperti yang sebelumnya, aku bersyukur tidak ada hal buruk yang terjadi kepadanya." ucap Daniel dengan tatapan yang terus menatap ke arah kepergian Airin dengan tatapan yang intens.
***
Bruk
Suara naskah yang tebal diletakkan dengan begitu kencang di atas meja, lantas langsung membuat karyawan di sekitarnya terganggu dan langsung mulai menatap ke arahnya. Airin yang mengetahui hal tersebut kemudian tersenyum sambil menatap ke arah satu per satu rekan kerjanya itu. Baru setelah itu mendudukkan pantatnya pada kursi kebesarannya.
"Apa yang membuat mu begitu kesal? Lalu bagaimana pertemuan mu dengan pak Daniel barusan?" tanya Bella secara langsung tepat ketika melihat Airin mengambil posisi duduk pada mena kebesarannya.
"Apakah kamu benar-benar tidak melihatnya? Lihatlah ini... Bukankah dia memang sesuatu? Benar-benar menyebalkan sekali dia!" ucap Airin menggerutu kesal sambil menunjuk ke arah beberapa naskah yang tebal di hadapannya.
Hal ini bahkan baru pertama kalinya dilakukan oleh Bella, di mana ia membela seseorang selain dirinya ketika berbicara dengan Airin. Mendapati hal tersebut bahkan membuat Airin bertanya-tanya sambil menatap dengan tatapan yang menelisik ke arah Bella saat ini. Membuat Bella yang sadar akan tatapan dari Airin barusan, lantas langsung kelabakan dan juga gugup.
"Tumben kamu membela dirinya? Apa yang terjadi kepadamu? Apakah kamu..." ucap Airin menerka-nerka sambil menatap ke arah Bella dengan tatapan yang intens.
"Apa sih Ai! Sudah-sudah saatnya untuk bekerja, aku balik ke meja ku dulu ya..." ucap Bella kemudian sambil mulai berlalu pergi melarikan diri dari Airin sebelum ia menanyakan hal yang lainnya lagi.
Sedangkan Airin yang mendapati tingkah laku Bella yang begitu aneh, lantas hanya bisa menatapnya dengan tatapan yang bertanya-tanya tanpa bisa menanyakan lebih lanjut lagi kepada Bella.
__ADS_1
"Ada apa sebenarnya dengan Bella? Tidak mungkin dia menyukai Daniel bukan? Tidak-tidak memikirkannya saja sudah tidak mungin hal itu dapat terjadi!" ucap Airin sambil bergidik ngeri ketika membayangkan hal tersebut benar-benar terjadi.
***
Di area lobby perusahaan penerbitan Alaska, terlihat seorang wanita cantik nampak melangkahkan kakinya dengan perlahan memasuki area lobby. Wanita itu terus membawa langkah kakinya hendak menuju ke arah lift, namun sayangnya langsung di cegat oleh seorang petugas resepsionis saat itu yang tentu saja membuat langkah kakinya langsung terhenti dengan seketika.
"Maaf Bu, apakah anda sudah ada janji untuk bertemu? Jika anda ingin masuk anda memerlukan konfirmasi dari kami, anda tidak bisa masuk begitu saja ke dalam." ucap resepsionis tersebut.
"Saya ingin bertemu dengan Daniel, saya bahkan tidak membutuhkan janji ataupun undangan khusus untuk bertemu dengannya!" ucap wanita tersebut dengan nada yang begitu datar, namun berhasil membuat petugas resepsionis tersebut menghela napasnya dengan panjang.
"Maaf Bu ini sidah prosedur perusahaan kami, jadi saya harap anda bisa mematuhinya." ucapnya lagi dengan nada yang tegas dan tidak ingin di bantah.
Mendapati hal tersebut lantas langsung membuat wanita itu memutar bola matanya dengan jengah. Memang cukup sulit untuk masuk ke sebuah perusahaan yang ada di kota, namun tentunya wanita itu tidak kehabisan akal karenanya. Wanita itu kemudian langsung menatap dengan tatapan yang intens ke arah petugas resepsionis tersebut dan mulai menjentikkan jari tangannya secara perlahan.
Tak....
Tepat setelah menjentikkan jari tangannya barusan, pandangan mata petugas resepsionis tersebut langsung berubah dengan seketika. Hal tersebut tentu saha membuat seulas senyum lantas terlihat terbit dari wajah Wanita itu.
"Apakah aku sudah boleh masuk sekarang?" tanya Wanita itu.
"Tentu silahkan Ratu..." ucap petugas resepsionis tersebut dengan tatapan yang kosong ke arah depan.
__ADS_1
Bersambung