
Area lorong unit Apartemennya
Airin yang terus di tarik oleh Luke tanpa sebuah penjelasan, tentu saja langsung menghempaskan tangannya begitu saja disaat langkah kaki keduanya sampai di area lorong unit Apartment mereka.
"Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu? Sakit tahu tangan ku!" pekik Airin dengan nada yang kesal sambil memegang tangannya yang memerah karena cengkraman tangan Luke sedari tadi.
Melihat Airin yang menatapnya dengan tajam tentu saja langsung membuat Luke melangkahkan kakinya mendekat ke arah Airin sambil mengarahkannya hingga ke tembok dan membuat Airin tersudut seketika.
"Sudah ku bilang untuk jangan keluar, namun yang kamu lakukan malah sebaliknya... Apa kau memang sengaja ingin menguji diriku saat ini?" ucap Luke dengan tatapan yang tajam mengarah kepada Airin saat ini.
Airin yang melihat tatapan tajam dari Luke barusan tentu saja langsung menelan salivanya dengan kasar. Lagipula semua ini memang terjadi karena tingkahnya yang sama sekali tidak mendengarkan perkataan Luke sejak tadi.
"Aku tadi tak sengaja mendengar suara Bella minta tolong di luar, jadi aku langsung berlarian keluar. Jika kau jadi aku, aku yakin kau juga akan melakukan hal yang sama jika teman dekat mu meminta pertolongan kepadamu!" ucap Airin kemudian mulai menjelaskan namun dengan nada yang ketus.
"Kau boleh melakukan hal itu, tapi setidaknya pikirkan keselamatan mu terlebih dahulu ketimbang orang lain, apakah hal itu kau juga tidak mengerti!" pekik Luke dengan nada yang kesal sambil tanpa sengaja menunjuk pundak Airin cukup keras.
Airin yang memang dalam posisi terkilir, mendapati hal tersebut tentu saja langsung membuatnya meringis seketika. Melihat Airin yang kesakitan lantas membuat Luke terkejut dan menatap ke arahnya dengan tatapan yang penuh ke khawatiran.
"Apa yang terjadi?" ucap Luke kemudian bertanya dengan raut wajah yang penuh ke khawatiran.
"Sepertinya bahu ku terkilir ketika jatuh dari tangga tadi." ucap Airin sambil berusaha menahan rasa sakit di area bahunya.
Mendengar hal tersebut lantas membuat Luke menghela napasnya dengan panjang.
"Masuk lah ke dalam aku akan mecoba membenarkan posisi tulangnya!" ucap Luke kemudian sambil menunjuk ke arah unit Apartemennya, namun malah berhasil membuat manik mata Airin membulat dengan seketika.
"Tidak mau! Daripada harus dibenarkan oleh mu lebih baik aku pergi ke Rumah sakit saja..." ucap Airin sambil menggeleng dengan kuat seakan menolak keras saran dari Luke barusan.
__ADS_1
Luke yang mendengar pilihan dari Airin barusan tentu saja kesal bukan main. Dengan tatapan yang intens Luke kemudian menatap ke arah manik mata Airin dan membawanya berteleportasi ke dalam unit Apartemennya tanpa sepengetahuan Airin, membuat Airin yang lagi dan lagi mengetahui dirinya sudah berpindah tempat dengan tiba-tiba. Lantas langsung menatap tajam ke arah Luke.
"Berhenti melakukan ini Tuan Vampir dan biarkan aku pergi ke Rumah sakit saat ini, bahu ku benar-benar terasa sakit!" ucap Airin dengan nada yang memohon sebelum pada akhirnya berlalu pergi.
Luke yang melihat kepergian Airin barusan tentu saja langsung menghela napasnya dengan panjang. Sambil melesat dan berhenti tepat di hadapan Airin, Luke nampak menatap dengan tatapan yang menelisik ke arah Airin saat ini.
"Sudah ku bilang aku bisa, jadi lebih baik kau duduk sekarang atau aku yang akan mendudukkan mu dengan paksa!" ucap Luke dengan nada penuh penekanan membuat Airin langsung menelan salivanya dengan kasar.
"Ba...baiklah..." ucap Airin pada akhirnya.
**
Area ruang tamu
Setelah pemaksaan yang di lakukan oleh Luke sebelumnya, saat ini Airin terlihat tengah duduk di sofa ruang tamu dengan perasaan yang gelisah. Airin benar-benar takut jika Luke hanya akan membuat bahunya sakit bukannya sembuh. Namun sayangnya Airin yang melihat kilatan amarah dari manik mata Luke sebelumnya, membuatnya sama sekali tidak bisa melawan dan hanya bisa pasrah mengikuti segala perkataan Luke saat ini.
"Awas saja jika sampai aku malah mengalami patah tulang karenanya, meski dia adalah seorang Vampir aku akan tetap menuntutnya!" ucap Airin dalam hati sambil memperhatikan Luke yang mulai mengambil posisi duduk di sebelahnya.
"Kalau kau ingin teriak lakukan saja tak perlu malu, aku akan memulainya dalam hitungan ketiga jadi bersiaplah." ucap Luke kemudian yang lantas membuat Airin mulai bersikap waspada.
"Satu...."
Klek...
"Aaaaaa" teriak Airin dengan sekencang-kencangnya.
Airin yang di tarik tepat pada hitungan kesatu, tentu saja langsung bangkit dari tempat duduknya dan dengan spontan memukul Luke dengan keras tanpa sadar jika yang ia gunakan untuk memukul adalah area tangan yang tadi terkilir.
__ADS_1
"Kau benar-benar menyebalkan ya! Bukankah katamu pada hitungan ketiga? Ini bahkan masih satu dan kau sudah menariknya begitu saja? Benar-benar menyebalkan!" teriak Airin dengan nada yang kesal karena Luke tidak menepati janjinya.
Hanya saja Luke yang di marahi habis-habisan bukannya protes malah tersenyum menatap ke arah Airin saat ini. Baru setelah itu bangkit dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Airin berada.
"Sepertinya bahu mu sudah sembuh, lihatlah... Kau bahkan memukul ku seperti hulk!" ucap Luke dengan tawa kecil sebelum pada akhirnya berlalu pergi meninggalkan Airin yang nampak terkejut ketika baru menyadari apa yang dikatakan oleh Luke barusan.
"Apa!"
***
Perusahaan penerbitan.
Setelah melalui banyak drama semalam, pada akhirnya hanya menciptakan sebuah lingkaran mata Panda di bawah matanya saja. Semalam Luke benar-benar tak memperbolehkannya pulang sama sekali, padahal jarak antara unit Apartment Luke dengan Apartemennya tidaklah jauh.
Airin menghela napasnya dengan panjang sambil menatap ke arah jam dinding yang masih terlihat pukul 11.05, dimana masih kurang beberapa menit lagi untuk menuju jam makan siang.
"Akh mengapa mataku lengket sekali? Ayolah jam sebaiknya lekaslah bergerak dengan cepat agar aku bisa tidur sejenak!" ucap Airin dengan nada yang menggerutu.
Airin yang tak bisa lagi menahan kantuknya kemudian mulai bangkit dari tempat dudunya dan bergerak menuju ke arah pantry untuk membuat secangkir kopi panas dan meredakan kantuknya.
**
Pantry
Airin terlihat mengaduk kopi di gelasnya dengan perlahan. Sambil menghela napasnya dengan pang Airin terus menatap ke arah gelas kopi buatannya. Sampai kemudian sebuah suara yang tak asing di pendengarannya lantas langsung mengejutkan dirinya dengan seketika.
"Apakah Vampir angkuh itu tak mengijinkan mu tidur semalam? Mata panda mu itu benar-benar terlihat mengerikan!" ucap sebuah suara yang tentu saja langsung membuat Airin mendongak ketika mendengar suara tersebut.
__ADS_1
"Kau!"
Bersambung