
"Kau!" pekik Luke dengan raut wajah yang memerah karena menahan amarahnya.
Luke yang mendengar bangsanya di rendahkan seperti itu tentu saja marah dan tidak menyukai hal tersebut. Di cengkeramnya leher sosok tersebut semakin erat sambil terus memusatkan segala kekuatan di tangannya, membuat perasaan panas terasa begitu menjalar di area leher hingga badan sosok tersebut. Sosok itu mulai menggeliat dan berteriak ketika perasaan tak nyaman mulai menghampirinya. Sampai kemudian ketika rasa sakit mulai memenuhi seluruh tubuhnya, seulas senyum nampak terlihat dari wajah Luke begitu mengetahui hal tersebut.
Crash...
Sebuah kilatan cahaya kehitaman yang bercampur dengan abu berwarna hitam terlihat di sekitaran Luke tepat ketika sosok tersebut berhasil Luke musnahkan.
Luke mengkibaskan tangannya beberapa kali mencoba untuk membersihkan abu-abu yang menempel di tangannya. Kemudian mulai melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana.
"Akan ku pastikan jika aku berbeda dari mereka!" ucap Luke dengan tatapan yang tajam sebelum pada akhirnya berteleportasi pergi dari tempat tersebut.
***
Malam harinya
Di depan unit Apartment Luke terlihat Airin tengah berdiri sambil membawa beberapa bungkus makanan di tangannya. Airin sedikit ragu jika Luke mau menerima pemberiannya, digigitnya bibir bagian bawahnya tanpa sadar kemudian menghela napasnya dengan panjang.
"Oh ayolah.. Tidak bisakah kau lebih berani sedikit?" ucap Airin menggerutu dengan kesal karena sedari tadi ia hanya berputar-putar di depan pintu unit Apartment Luke tanpa berani mengetuk pintunya.
**
Sementara itu di dalam unit Apartment Luke, Luke yang mencium aroma gadis pemilik darah suci lantas terlihat melangkahkan kakinya mendekat menuju ke arah pintu masuk.
Seulas senyum lantas terlihat terbit dari raut wajahnya begitu mengetahui bahwa gadis pemilik darah suci tersebut berada tepat di depan pintunya saat ini. Meski Luke tidak terlalu tahu akan tujuan dari Airin berdiri di sana, hanya saja bukankah hal ini menandakan jika Airin sudah mulai tertarik dan juga penasaran kepadanya?
"Kita lihat, apakah gadis itu berani mengetuk pintu ini atau tidak." ucap Luke sambil tersenyum dengan lebar menatap ke arah pintu masuk menunggu sebuah ketukan dari Airin yang saat ini tengah berada tepat di depan unit Apartemennya.
__ADS_1
Satu menit
.
.
.
.
.
Lima belas menit kemudian
Luke yang tak kunjung mendengar suara ketukan pintu atau bahkan bel pintu unit Apartemennya berbunyi, lantas terlihat berdecak dengan kesal karena terlalu lama menunggu. Entah sampai kapan ia harus menunggu di sini dan pura-pura tidak tahu jika Airin sedang berada di depan unit Apartemennya.
Membuat Luke yang tak sabaran menunggu Airin mengetuk pitu unit Apartemennya, lantas mulai menciptakan situasi yang mungkin akan terkesan sebagai sebuah kebetulan, namun nyatanya merupakan hasil dari manipulasi yang di lakukan olehnya sendiri.
Luke yang tahu harus berbuat apa, lantas mulai menjentikkan jari tangannya dengan perlahan kemudian tak lama setelah itu, muncul dua buah kantung kresek berwarna hitam pekat di kedua tangannya yang berisi beberapa sampah plastik di dalamnya.
"Luar biasa..." ucap Luke dengan senyuman yang mengembang.
Sambil membawa kantung kresek tersebut Luke kemudian terlihat mulai membuka pintu unit Apartemennya dengan cepat agar Airin yang berada di depan pintu saat ini, tidak punya waktu untuk berlarian dan bersembunyi darinya.
Keheningan nampak terjadi di antara keduanya ketika manik mata Airin yang terkejut akan pintu yang di buka dengan tiba-tiba, bertemu dengan manik mata milik Luke yang begitu terasa dingin dan tak tersentuh ketika manik mata keduanya bertemu dalam waktu sepersekian detik. Sampai pada akhirnya pandangan mereka terputus tepat ketika suara Luke membuyarkan lamunan Airin dengan seketika.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Luke kemudian dengan tatapan yang bertanya-tanya.
__ADS_1
"Akh maaf, aku tadinya hendak mentraktir mu makan sebagai ucapan terima kasih ku, tapi aku yakin kamu pasti tidak akan mau melakukan itu jadi aku memutuskan untuk membungkus beberapa makanan untuk mu. Aku tidak tahu apakah kau suka atau tidak, tapi yang jelas aku sangat berterima kasih atas pertolongan mu." ucap Airin sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam, namun sambil mulai menyodorkan kantung kresek berisi makanan kepada Luke.
"Aku terima ucapan terima kasih darimu, hanya saja apa kau tidak bisa lihat jika kedua tangan ku penuh saat ini?" ucap Luke kemudian dengan nada yang datar.
Mendengar perkataan Luke barusan membuat Airin perlahan-lahan mulai mendongakkan kepalanya untuk mengecek tangan Luke saat ini. Dan benar saja, ketika Airin menatap ke arah depan kedua tangan Luke saat ini sedang penuh dengan kresek sampah, membuat Airin langsung tersenyum dengan garing begitu melihat hal tersebut.
"Ah kau ingin membuang sampah rupanya, jika begitu biar aku yang membuangnya dan kamu makanlah ini. Aku jamin rasanya pasti enak karena aku yang memilihkannya sendiri untuk mu." ucap Airin dengan senyuman yang garing sambil mengambil dua kantong kresek tersebut lalu memberikan makanan yang ia bawa kepada Luke
Setelah Airin mengambil dua kantong kresek tersebut ia lantas berlalu pergi begitu saja dari hadapan Luke, hendak turun ke bawah untuk membuang sampah milik Luke tersebut tanpa menunggu jawaban dari Luke terlebih dahulu.
Sedangkan Luke yang melihat tingkah dari Airin barusan hanya menatapnya dengan tersenyum simpul kemudian melirik ke arah bungkusan makanan yang baru saja diberikan oleh Airin.
"Apakah gadis itu selalu saja gugup jika berhadapan dengan ku? Mengapa raut wajahnya selalu seperti itu?" ucap Luke pada diri sendiri sambil menatap punggung Airin yang saat ini sudah tidak lagi terlihat pada pandangannya.
***
Lift
Di dalam lift tepatnya setelah membuang dua kantong kresek sampah milik Luke barusan, terlihat Airin tengah berwajah masam sedari tadi sambil terus merutuki kebodohannya yang selalu saja gugup ketika berhadapan dengan Luke. Airin menyandarkan kepalanya sebentar sambil menghela napas dengan panjang.
"Ada apa dengan ku sebenarnya? Mengapa aku terus-terusan salah tingkah seperti ini? Huft benar-benar menyebalkan sekali, aku jadi tidak bisa bebas berbicara dengannya." ucap Airin pada diri sendiri sambil terus menggerutu sepanjang lift yang membawanya naik ke unit Apartemennya.
Ting
Suara pintu lift yang terbuka dengan lebar lantas membuat Airin kembali menghela napasnya dengan panjang. Sambil melangkahkan kakinya keluar dari lift Airin terlihat memasang raut wajah yang lesu.
Disaat langkah kaki Airin terlihat gontai dengan perasaan yang kesal sebuah suara tak asing di pendengarannya, lantas langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika begitu mendengar suara tersebut menyapa telinganya.
__ADS_1
"Mengapa kamu lama sekali? Aku sudah lama menunggu mu di sini."
Bersambung