Tetangga Baruku Vampir?

Tetangga Baruku Vampir?
Setangkai mawar merah


__ADS_3

Rumah duka


Dari arah kejauhan terlihat Luke tengah menatap ke arah rumah duka, di mana saat ini Bella terlihat tengah menangis sambil menatap ke arah foto Airin yang dikalungi bunga saat itu.


Raut wajah sendu terlihat jelas di wajah Luke saat itu, entah mengapa kepergian Airin benar-benar menimbulkan luka di hatinya saat ini.


"Ai..." ucapnya dengan nada yang terdengar begitu lirih.


Luke benar-benar menyesal jika ia harus kembali mengulang takdir di mana gadis pemilik darah suci harus mati di tangannya. Hanya saja ada satu hal yang terasa begitu aneh saat ini, yang tentu saja berbeda dengan beberapa abad yang lalu.


Dipegangnya area dada bidangnya saat itu sambil menatap lurus ke arah foto Airin yang nampak tersenyum dengan cantik di sana.


"Apa yang telah ku lakukan sebenarnya?" ucap Luke kepada diri sendiri.


Di saat Luke tengah meratapi semua kesalahan yang telah ia lakukan kepada Airin, sebuah tarikan tangan yang berasal dari area pundaknya, lantas membuat Luke menatap ke arah tarikan tangan tersebut.


"Kau benar-benar b4j1ng4n!" ucap Daniel sambil memukul wajah Luke dengan tiba-tiba.


**


Bangunan tua terbengkalai


Tepat setelah pukulan dari Daniel mendarat di wajah Luke saat itu, keduanya lantas mulai berteleportasi ke sebuah bangunan tua yang sudah terbengkalai. Meski Daniel sudah terbawa emosi saat itu namun Ia tetap tidak bisa menunjukkan kekuatan atau bahkan membongkar jati diri Luke dan dirinya di depan umum.


Bugh


Tubuh Luke terhenti tepat setelah membentur tembok bangunan tersebut. Tatapan tajam terlihat jelas dari keduanya, membuat suasana kian mencekam di sana.


"Apa yang kau lakukan kepadanya? Apa kau sudah tidak waras ha?" pekik Daniel yang seakan tidak terima akan kematian Airin saat ini.


Daniel yang kesel akan tingkah Luke yang semena-mena dan membunuh Airin tanpa sepengetahuannya, lantas mulai mencengkram area leher Luke dengan kuat. Membuat Luke yang mendapati serangan tersebut, lantas meringis menahan rasa sakit yang diberikan oleh Daniel saat ini.


Luke yang tidak tahan akan rasa sakit yang terus-terusan diberikan oleh Daniel karena rasa amarah yang menggerogoti hatinya saat itu. Lantas membuat Luke memukul area dada milik Daniel, yang tentu saja langsung membuatnya terpental cukup jauh dari tempatnya semula.

__ADS_1


Brag....


"Apa hak mu berkata seperti itu ha? Aku pun tidak menginginkan hal ini terjadi kepada Airin. Jadi jangan bertindak seolah-olah kau yang paling tersakiti!" ucap Luke dengan nada yang kesal sambil menunjuk ke arah Daniel.


Daniel bangkit dari posisinya saat itu, diusapnya area bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah akibat pukulan dari Luke yang mengenai intinya.


Luke melesat dan langsung mencengkram erat kerah baju Daniel saat itu.


"Aku mencintainya! Apa kau pikir semua ini tidak berat bagiku? Jangan berpikir seenak jidat mu!" ucap Luke kemudian menghempaskan tubuh Daniel begitu saja.


Tak tak tak


Luke memilih untuk meninggalkan Daniel seorang diri di sana, cukup sudah rasa penyesalan menggerogoti hatinya. Dengan Daniel bertindak seperti itu sama sekali tak membuat hatinya tenang malah semakin terluka.


Luke menghentikan langkah kakinya sejenak dan menoleh sedikit ke arah Daniel saat itu.


"Aku ucapkan terima kasih karena kau perduli dengan Airin, tapi aku rasa cukup sampai di sini segalanya. Karena apa yang terjadi tidak sepatutnya kau ikut campur!" ucap Luke sebelum pada akhirnya berteleportasi ke sebuah tempat.


"Arg sial!" pekik Daniel dengan nada yang terdengar begitu kesal.


***


Di area halaman depan terlihat Luke yang baru saja tiba setelah berteleportasi dari bangunan tua terbengkalai.


Sambil memasang raut wajah yang sendu, Luke terlihat melangkahkan kakinya dengan perlahan masuk ke dalam kediaman Lisa saat itu.


Raut wajah datar yang di tunjukkan Lisa di ruang tengah seakan menyambut kedatangannya saat itu.


"Apa yang akan kamu jelaskan kepadaku sekarang?" ucap Lisa dengan manik mata yang tajam.


"Aku juga tidak tahu apa, aku tidak akan membela diriku karena semua ini adalah kesalahan ku yang terulang lagi dan lagi." ucap Luke yang terlihat mendudukkan pantatnya pada sebuah sofa panjang di ruang tengah.


Helaan napas terdengar berhembus jelas dari mulut Lisa begitu mendengar jawaban dari Luke barusan. Lisa kemudian nampak melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Luke berada saat ini dan menepuk pundak Pria tersebut.

__ADS_1


"Jika kau menyesal maka perbaiki lah, jangan hanya diam dan menyesali segalanya." ucap Lisa kali ini dengan nada sedikit lebih rendah.


"Tentu saja, aku akan menunggu sampai ia kembali bereinkarnasi dan menebus semua kesalahan ku kepadanya." ucap Luke dengan nada yang yakin.


Mendengar hal tersebut Lisa nampak bangkit dari tempatnya kemudian menatapnya dengan tatapan yang aneh, membuat Luke lantas mengernyit dengan raut wajah yang penasaran.


"Bagaimana kalau aku memberi mu sebuah tiket ekspres menuju ke sana?" ucap Lisa sambil tersenyum dengan simpul.


"Apa maksud perkataan mu sebenarnya?" ucap Luke yang tak mengerti akan perkataan Lisa barusan.


Lisa kemudian nampak mengeluarkan setangkai mawar merah dan memberikannya kepada Luke, membuat Luke lantas bertanya-tanya alasan Lisa memberikan setangkai mawar kepadanya.


"Setiap satu kelopak bunga yang kau petik dari mawar tersebut, akan membuka portal waktu 20 tahun yang akan datang. Aku memberimu kesempatan untuk menemukan perwujudan Airin di masa yang akan datang." ucap Lisa dengan nada yang terdengar begitu datar, namun mampu membuat manik mata Luke terbelalak karenanya.


"Terima kasih banyak, aku tidak akan menyianyiakan kesempatan yang telah kamu berikan kepadaku." ucap Luke kemudian sambil tersenyum dengan merekah.


Wajah sendu Luke benar-benar telah berganti dengan senyuman yang lebar, membuat helaan napas terdengar dengan jelas dari Lisa saat itu.


Luke yang tak ingin menyianyiakan kesempatan kemudian mulai memetik satu kelopak bunga untuk membuka portal waktu yang di katakan oleh Lisa barusan.


***


Waktu di masa 20 tahun kemudian


Tubuh Luke terserap masuk dan berada entah di mana saat ini. Jalanan terlihat begitu modern dan lebih canggih di banding tahun dimana ia tinggal sebelumnya.


"Jika aku tidak salah seharunya aku telah berada di masa 20 tahun kemudian, aku harus segera pergi dan mencari Airin." ucap Luke sambil berbalik badan, hingga tanpa sadar menyandung sesuatu di belakangnya.


"Hua... Huhuhuhu"


Mendengar tangisan dari seorang bocah di umur kisaran 5 tahunan, lantas membuat Luke mengernyit dengan raut wajah yang kesal.


"Mengapa harus sekarang sih, aku bahkan tidak punya waktu untuk hal seperti ini." ucap Luke dengan nada yang terdengar kesal saat itu, namun sambil sesekali melirik ke arah gadis kecil tersebut.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2