
Di sebuah ruang kamar, terlihat kelopak mata Airin perlahan-lahan mulai terbuka. Secercah cahaya sinar yang begitu terang, lantas masuk tepat ke dalam retinanya begitu ia membuka kelopak matanya dengan sempurna.
Airin yang merasa asing dengan area sekitarnya kemudian perlahan-lahan terlihat bangkit dari posisinya saat itu. Helaan napas terdengar dengan jelas begitu ia mengenali dimana ia berada saat ini.
"Mengapa aku bisa berakhir di rumah Lisa? Bukankah semalam..." ucap Airin namun terhenti ketika ia menyadari apa yang terjadi semalam kepadanya.
Airin yang seakan baru mengingat tentang kejadian semalam, lantas terlihat mengangkat ke dua telapak tangannya saat itu dan mencari bekas luka yang ia buat semalam. Ada sedikit perasaan terkejut dalam dirinya ketika mendapati telapak tangannya bersih tanpa noda sama sekali. Entah bagaimana bekas luka itu bisa hilang dalam semalam, tapi Airin yakin hal ini pasti ada kaitannya dengan Luke dan juga Lisa.
"Ini tidak mungkin! Bagaimana bisa tangan ku bersih tanpa noda?" ucap Airin dengan raut wajah yang terkejut saat itu.
Airin yang tidak ingin menerka seorang diri kemudian memutuskan untuk bangkit dan menemui keduanya. Setidaknya Airin harus benar-benar mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaan yang ada di kepalanya saat ini.
Ceklek...
Suara pintu yang ia buka dengan cepat lantas memunculkan Airin dari balik kamar tersebut. Dengan gerakan yang cepat Airin mulai membawa langkah kakinya menuju ke arah dimana Luke dan juga Lisa berada saat ini.
Sampai kemudian langkah kaki Airin lantas terhenti dengan seketika, begitu ia tak sengaja mendengar percakapan antara Lisa dan juga luke tak jauh dari tempatnya berada saat ini. Mendapati hal tersebut lantas membuat Airin mulai melipir dan mencari tempat teraman, untuk mencuri dengar percakapan keduanya.
"Apakah ini ulah dari bangsa Serigala? Kau tahu sedari dulu mereka selalu saja mengacaukan urusan kita." ucap Lisa dengan raut wajah yang kesal.
"Kau benar, semakin mendekati kematangan pemilik darah suci semakin membuat semua makhluk yang menginginkannya terus bermunculan. Aku bahkan tidak tahu mana yang lawan dan mana yang kawan, semuanya tampak sama namun nyatanya saling menyerang dari segala arah." ucap Luke yang ikut memikirkan segalanya.
Mendengar pembicaraan keduanya yang tak jelas itu, lantas membuat Airin yang berada tidak jauh dari posisi keduanya lantas mengernyit dengan tatapan yang bingung. Entah apa yang sedang keduanya bicarakan, namun kata darah suci benar-benar mengundang tanda tanya di kepalanya saat ini.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan? Darah suci? Apa itu darah suci? Mengapa perkataan mereka terdengar begitu aneh?" ucap Airin seakan mencoba untuk menerka segalanya, namun sayangnya sekuat apapun Airin berpikir tetap saja ia tidak bisa menjawab setiap pertanyaan yang berputar di kepalanya.
"Ya, satu persatu musuh lama kini mulai berdatangan mendekat seiring bau pekat dari pemilik darah suci tersebut." ucap Lisa sambil manggut-manggut saat itu.
"Aku rasa tidak ada salahnya jika kita mulai bersiap, setidaknya ketika waktu itu datang aku sudah memiliki keberanian dan juga persediaan untuk menghadapi selanjutnya." ucap Luke kemudian.
"Tentu saja, lagi pula bukankah masih ada Daniel? Setidaknya mungkin dia bisa berguna untuk membantu mu melindunginya." ucap Lisa kemudian yang lantas membuat Luke mendengus dengan kesal ketika mendengarkan perkataan Lisa barusan.
"Daniel? Apa hubungannya dengan Daniel? Ada apa sebenarnya?" ucap Airin dalam hati yang semakin tidak mengerti akan arah pembicaraan keduanya saat itu.
"Daniel... Daniel hanyalah sebuah gangguan yang menambah pekerjaan ku, aku bisa menjaganya seorang diri tanpa bantuan dari Daniel. Lagi pula Airin hanya milik ku, sampai waktunya tiba nanti dia akan ku jaga dari siapapun yang ingin merebutnya dari ku." ucap Luke tanpa sadar membuat Airin yang mendengar hal tersebut, lantas langsung mengambil langkah kaki mundur secara perlahan.
Rasa terkejut dan juga kecewa benar-benar bercampur menjadi satu dalam dirinya. Meski Airin tidak paham akan maksud dari pembicaraan keduanya. Tapi yang jelas perkataan Luke begitu terdengar dengan jelas dan terkesan begitu ambigu, membuat Airin sama sekali tidak bisa berpikiran positif akan maksud dari perkataan Luke sebelumnya.
Dengan langkah kaki yang lebar Airin mulai membawa langkah kakinya menuju kembali ke area kamarnya. Namun sesuatu hal yang menyakiti hatinya, lantas membuat langkah kaki Airin terhenti dengan seketika tepat di ambang pintu kamarnya.
"Apa yang kamu harapkan dari sosok makhluk abadi itu Ai? Bukankah semenjak awal kehadirannya sudah sangat mencurigakan? Lalu... Lalu mengapa kamu begitu kecewa jika saat ini kamu mengetahui segalanya? Ayolah Ai... Semua ini adalah kesalahan mu karena menaruh hati pada makhluk itu, lagi pula mana ada hubungan yang dapat terjalin antara manusia dan juga Vampir? Hik hik..." ucap Airin sambil mengusap air matanya yang sama sekali tidak bisa ia cegah.
Airin terdiam dalam posisi menunduk berusaha untuk menata hatinya yang begitu kacau saat ini. Sampai kemudian sebuah suara yang tak ingin ia dengar saat ini, lantas terdengar dan menyapa telinganya saat itu.
"Apa kamu baik-baik saja?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Airin terdiam dengan seketika.
***
__ADS_1
Kantor
Bella yang mendapat panggilan agar segera ke ruangan Daniel, lantas terlihat begitu gugup. Entah mengapa Daniel memanggil Bella ke ruangannya, namun semenjak kejadian tadi pagi ada sedikit perasaan berdebar yang mendadak singgah di hatinya.
"Perasaan apa ini? Mengapa rasanya aku gugup sekali?" ucap Bella dalam hati sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan Daniel saat itu.
.
.
.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk" ucap sebuah suara di dalam tepat setelah Bella mengetuk pintu ruangan Daniel.
Sambil menarik napasnya dalam-dalam Bella terlihat mulai membawa langkah kakinya masuk ke area dalam ruangan Daniel. Bella terlihat menghentikan langkah kakinya begitu ia melihat Daniel tengah duduk di kursi kebesarannya sambil menatap ke arahnya dengan tatapan yang aneh. Mendapati hal tersebut tentu saja membuat jantung Bella semakin berdebar tak karuan.
Daniel bangkit dari tempat duduknya kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Bella berada saat ini.
"Pak saya sebenarnya...." ucap Bella namun terhenti ketika mendengar pertanyaan dari Daniel yang di luar ekspetasinya saat itu.
"Kemana perginya Airin? Mengapa ia tidak masuk kerja? Apakah dia baik-baik saja?" ucap Daniel dengan bertubi-tubi yang tentu saja langsung membuat Bella mengernyit karenanya.
__ADS_1
Bersambung