
Cara selanjutnya yang harus dilakukan seorang Pria ketika mendekati seorang wanita adalah dengan mencoba mengerti akan apa yang mereka butuhkan disaat-saat yang genting.
Seperti saat ini, Luke yang melihat Airin tengah berdiri di tepi jalan sambil berusaha menyetop taksi untuk ia naiki lantas langsung tersenyum dengan simpul. Sebuah ide nampak muncul dari kepala Luke ketika melihat Airin yang tengah mencoba untuk menghentikan taksi di pinggir jalan yang mungkin saja akan berhasil menggaet hati Airin secara perlahan jika Luke terus meluncurkan aksinya secara intens.
"Bukankah ini namanya takdir yang sangat menguntungkan?" ucap Luke dengan senyum yang mengembang.
Baru setelah itu lantas melajukan mobilnya menghampiri keberadaan Airin yang berada tak jauh dari posisinya saat ini.
Tin tin
Sebuah bunyi klakson mobil yang sengaja Luke bunyikan agar membuat fokus Airin berganti kepadanya.
"Masuklah aku akan mengantar mu." ucap Luke dari dalam mobilnya.
"Tidak perlu aku akan naik taksi saja." tolak Airin yang merasa tidak enak karena terus merepotkan Luke.
Mendengar sebuah kata penolakan dari Airin barusan Luke lantas mengangguk dengan cepat seakan mengiyakan perkataan dari Airin barusan yang menolak tawarannya. Membuat Luke kemudian langsung melajukan mobilnya begitu saja tanpa kembali bertanya kepada Airin, membuat Airin yang melihat hal itu lantas melotot dengan tatapan tak percaya kepada Luke karena meninggalkannya begitu saja tanpa kembali menanyakannya kepada Airin.
Ini adalah cara selanjutnya dalam sebuah hubungan yang sering kita sebut dengan tarik ulur, jika sudah diperlakukan seperti ini biasanya para gadis akan lebih penasaran yang lantas berbalik mengejar si pria dan hal itu juga lah yang saat ini tengah dilakukan oleh Luke. Sebuah cara yang kuno namun mungkin saja akan berhasil jika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh.
"Apa dia sudah gila?" ucap Airin sambil menatap tak percaya ke arah dimana mobil Luke yang kini sudah tidak lagi terlihat di pandangannya.
Entah apa yang tengah dilakukan Luke kepadanya tapi hal itu benar-benar membuat Airin tercengang ketika mengetahuinya. Airin yang tak ingin hanya merutuki kekesalannya saja terhadap sikap Luke yang menyebalkan, lantas membuat Airin mulai melangkahkan kakinya mencari kendaraan untuk bisa mengantarnya menuju ke arah kantor.
***
Perusahaan penerbitan
__ADS_1
Dari arah rungan HRD terlihat Airin tengah melangkahkan kakinya dengan lemas keluar dari ruangan tersebut. Dengan langkah kaki yang perlahan Airin mulai menyusuri area lorong kantor dan membawa langkah kakinya menuju ke arah ruangannya.
Sambil menghela napasnya dengan panjang Airin terlihat melangkahkan kakinya melewati beberapa kotak meja rekan kerjanya, hingga kemudian ketika langkah kakinya sampai tepat di area meja kerjanya lantas langsung membuat Airin mendudukkan pantatnya di kursi kerjanya sambil kembali menarik napasnya secara panjang.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya sebuah suara yang lantas membuat Airin langsung menoleh ke arahnya.
"Ya begitulah.." ucap Airin begitu mengetahui suara tersebut berasal dari Bella.
Mendengar perkataan lesu dari Airin barusan lantas membuat Bella tersenyum ke arahnya, Bella yang melihat wajah cemberut Airin lantas memberikannya beberapa bungkus coklat sambil membisikkannya sesuatu.
"Makanlah beberapa coklat ini untuk mengembalikkan mood mu." ucap Bella sambil tersenyum dengan simpul.
"Terima kasih banyak" ucap Airin sambil membalas perkataan Bella barusan dengan senyuman.
Bella yang melihat senyuman tersebut lantas langsung mengedipkan kelopak matanya sebelah kemudian melangkahkan kakinya menuju ke arah meja kerjanya. Melihat hal tersebut membuat Airin lantas menggeleng kepalanya dengan perlahan sambil tersenyum tipis kemudian kembali fokus menatap ke arah layar monitornya dan mulai bekerja. Airin benar-benar mencoba untuk tetap fokus meski bayangan raut wajah menyebalkan milik Luke lantas terus memenuhi kepalanya saat ini.
***
Kediaman Lisa
Di area halaman depan terlihat mobil milik Luke baru saja sampai di area tersebut, dengan langkah kaki yang perlahan Luke mulai melangkahkan kakinya turun dari dalam mobil dan menuju ke arah kediaman Lisa. Seperti yang biasa ia lakukan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Luke tampak melangkahkan kakinya memasuki area mansion mencari keberadaan Lisa di sekitaran sana. Sampai kemudian pandangannya terhenti di area dapur dimana terlihat Lisa tengah sibuk membuat sesuatu di sana.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Luke sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Lisa berada saat ini.
Mendengar pertanyaan tersebut tentu saja langsung membuat Lisa berbalik badan dan menatap ke arah sumber suara.
"Kau datang?" ucap Lisa kemudian sambil membawa satu nampan berisi dua piring desert di sana.
__ADS_1
"Bagaimana selanjutnya?" ucap Luke kemudian tanpa menjawab terlebih dahulu pertanyaan dari Lisa barusan.
Lisa yang tahu dengan pasti akan pertanyaan dari Luke barusan lantas membuat Lisa tersenyum begitu mendengarnya. Lisa kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah meja makan dan meletakkan nampan desert tersebut tepat di depan Luke saat ini, membuat Luke lantas mengernyit dengan tatapan yang bertanya-tanya ketika melihat tingkah Lisa saat ini.
"Cicipi lah kedua desert ini, mana menurut mu yang lebih enak?" ucap Lisa kemudian yang lantas semakin membuat Luke tidak mengerti akan perkataan dari Lisa barusan.
"Aku sungguh tidak ada waktu untuk bermain masak-masakan seperti ini, ayolah Lis katakan saja apa selanjutnya." ucap Luke yang mulai kesal akan perkataan Lisa yang selalu berputar-putar.
"Sudah cicipi saja, lagi pula memakannya tidak butuh waktu lama bukan?" ucap Lisa kemudian sambil menyodorkan kedua piring desert tersebut semakin mendekat ke arah Luke.
"Tapi..." ucap Luke hendak kembali menolak.
Namun Lisa yang tahu Luke akan kembali menolak perkataannya lantas kembali mendekatkan kedua piring tersebut sambil meletakkan satu sendok kecil kepada Luke agar mulai mencicipi desert buatannya saat ini. Helaan napas terdengar berhembus dengan kasar dari mulut Luke, sambil berdecak dengan kesal Luke kemudian mulai mengangkat sendok tersebut dan mulai menyendoknya satu-persatu.
Luke terdiam sejenak sambil mulai mengunyah desert buatan dari Lisa barusan, sambil memakannya secara perlahan Luke mencoba memilih mana yang lebih enak seperti permintaan dari Lisa barusan.
"Yang ini lebih enak, cake nya terasa lembut dan juga manisnya pas." ucap Luke pada akhirnya.
"Lalu mengapa yang satunya tidak kamu pilih?" ucap Lisa kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
"Karena memang yang ini lebih enak, bukankah kamu menyuruh ku untuk memilih salah satunya? Mengapa sekarang kamu malah bertanya kepadaku?" ucap Luke yang tidak mengerti akan perkataan Lisa sebenarnya.
"Mengapa kamu malah balik bertanya? Ini adalah jawaban dari pertanyaan mu barusan." ucap lisa kemudian.
"Apa?"
Bersambung
__ADS_1