
Di sebuah taman yang terletak tidak jauh dari tempat Luke menemukan gadis kecil tersebut. Keduanya nampak duduk sambil menatap lurus ke arah depan.
Luke menghela napasnya dengan panjang kemudian melirik gadis kecil tersebut.
"Apa kau baik-baik saja? Jika sudah lebih baik aku akan pergi, aku sama sekali tidak punya waktu untuk bermain." ucap Luke dengan nada yang terdengar begitu ketus.
"Jangan tinggalkan aku Tuan, aku benar-benar takut." ucap gadis kecil tersebut sambil menggeser tubuhnya ke arah Luke dan menggenggam erat kemeja yang dikenakan oleh Luke saat itu.
Mendengar perkataan dari gadis kecil tersebut, lantas membuat Luke kembali menghela napasnya dengan panjang. Permohonan gadis kecil itu benar-benar mengingatkannya kepada sosok Airin.
Raut wajah polosnya membuat Luke semakin merindukan sosok cerewet gadis pujaan hatinya tersebut.
"Sepertinya aku tidak bisa mengabulkan permohonan mu karena tugas ku masih banyak dan menumpuk." ucap Luke sambil bangkit dari tempatnya saat itu, membuat gadis kecil itu terlihat kecewa ketika mendengar perkataan dari Luke barusan.
Hanya saja ketika langkah kakinya baru melangkah beberapa kali, Luke nampak menghentikan langkah kakinya dengan seketika. Tangannya menggenggam dengan erat dan memunculkan sesuatu di sana.
"Ambil ini, aku rasa saputangan ini akan membantu mu dari beberapa hal jahat yang datang kepadamu." ucap Luke sambil menyodorkan saputangan tersebut.
Gadis itu tersenyum menerima saputangan dari Luke barusan, membuat Luke langsung mengusap puncak kepala gadis itu dengan lembut sebelum pada akhirnya berlalu pergi meninggalkan gadis kecil tersebut.
"Terima kasih banyak Tuan..." ucap gadis kecil itu sambil menatap ke arah punggung Luke yang kini sudah tidak lagi terlihat pada pandangannya.
.
.
.
.
__ADS_1
Hampir seharian penuh Luke mengelilingi setiap daerah yang mungkin saja akan di kunjungi Airin di tahun ini. Hanya saja meski ia telah menghabiskan waktu cukup lama, Luke tak pernah menemukan keberadaan Airin (gadis yang bereinkarnasi dari Airin).
Luke menghentikan langkah kakinya sejenak dan mengambil duduk di bangku taman saat itu. Ditatapnya bulan purnama yang nampak indah saat itu, kemudian menghela napasnya dengan panjang.
"Harus kemana lagi aku mencari keberadaan Airin di masa ini? Apa Airin belum lahir di waktu ini?" ucap Luke dengan raut wajah yang lesu.
Entah kemana lagi ia harus melangkah dan mencari keberadaan Airin di tahun ini, membuat Luke tak henti-hentinya menghela napas dengan berat.
"Sepertinya Airin tak ada di tahun ini, semoga saja aku menemukannya di tahun ke 20 berikutnya." ucap Luke pada akhirnya sambil mulai memetik kembali satu kelopak bunga mawar pemberian Lisa saat itu.
***
20 tahun kemudian
Di tengah cuaca yang begitu terik Luke baru saja terlihat tiba, setelah menempuh perjalanan waktu dari 20 tahun yabg lalu.
Suara riuh gemuruh beberapa orang nampak terdengar di telinganya saat itu, membuat Luke lantas mengernyit sambil menatap ke arah sumber suara.
Bugh....
Belum sempat Luke mengerti akan maksud dari teriakan tersebut, sebuah bola mendarat tepat di kepalanya yang langsung membuat pandangannya buram dengan seketika.
"Sial!"
Bruk...
Tubuh Luke jatuh dengan seketika, membuat beberapa orang termasuk gadis yang meneriakinya tadi, langsung berlarian mendekat ke arah dimana Luke berada.
.
__ADS_1
.
.
.
Setelah tubuh besar Luke di pindahkan ke tempat yang lebih teduh, beberapa orang nampak mulai meninggalkan Luke bersama seorang gadis yang membantunya saat itu.
Gadis itu terlihat menepuk pipi Luke secara perlahan, membuat Luke mulai mengerjapkan kelopak matanya secara perlahan.
"Airin..." ucap Luke dengan nada yang lirih sambil mulai memfokuskan pandangannya saat itu.
Gadis itu mengernyit ketika mendapati Pria yang ia tolong memanggilnya dengan nama Airin.
"Apakah kamu baik-baik saja Tuan? Mau saya antar ke Rumah sakit?" ucap gadis tersebut yang tentu saja langsung membuat Luke bangkit dari posisi berbaringnya saat itu juga.
Manik mata Luke terhenti dengan seketika, di saat ia mendapati gadis yang ia cari selama ini tengah berada di hadapannya. Seulas senyuman terlihat jelas pada raut wajah Luke saat itu.
"Airin..." ucap Luke lagi yang lantas membuat gadis tersebut kembali mengernyit dengan seketika.
"Saya bukan Airin, nama saya Arin jadi meski agak sedikit mirip saya harap anda tidak salah dalam penyebutannya." ucap gadis yang memperkenalkan namanya sebagai Arin.
Arin kemudian terlihat bangkit dari tempat duduknya dan memberikan sebotol air mineral kepada Luke saat itu.
"Saya rasa anda sudah baik-baik saja, kalau begitu saya permisi... Dan satu hal lagi, jangan berdiri di tengah lapangan atau anda akan kembali terkena lemparan bola Tuan..." ucap Arin sebelum pada akhirnya berlalu pergi meninggalkan Luke seorang diri di sana.
Luke tersenyum dengan tipis ketika mendapati sebuah sapu tangan yang tak asing di ingatannya, melingkar pada tali pengait tas milik Arin saat itu.
Entah ini adalah sebuah takdir atau memang kebetulan yang pas, namun di balik semua itu Luke bahkan bersyukur jika ia ternyata sudah berada dekat dengan reinkarnasi Airin tanpa ia sadari sebelumnya.
__ADS_1
"Sepertinya tanpa aku harus mencarinya keliling dunia, takdir tetap akan membawa ku bertemu dengannya." ucap Luke pada diri sendiri sambil menatap kepergian Arin yang terlihat terus melangkahkan kakinya semakin jauh saat itu.
...The end...