Tetangga Baruku Vampir?

Tetangga Baruku Vampir?
Jangan pergi


__ADS_3

Apartment Airin


Setelah semua prosesi pemakaman telah selesai, malam itu Airin terlihat mulai melangkahkan kakinya secara perlahan masuk ke dalam unit Apartemennya. Perasaan hampa serta kehilangan benar-benar begitu terasa jauh di lubuk hatinya saat ini.


Sebuah deringan ponsel milik Airin saat itu lantas langsung menghentikan langkah kaki Airin dengan seketika. Diusapnya icon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya ketika Airin melihat nama Bella tertulis dengan jelas pada layar ponsel miliknya.


"Halo.." ucap Airin dengan nada suara yang serak.


"Apa kamu sungguh yakin tidak perlu ku temani Ai?" tanya Bella secara langsung tanpa basa-basi di seberang sana.


"Tak perlu khawatir aku baik-baik saja, kamu pergilah istirahat bukankah kamu juga lelah? Sampaikan salam ku pada HRD karena sepertinya besok aku ijin tidak masuk kembali." ucap Airin sambil mengambil posisi duduk di karpet ruang tamunya.


Disandarkannya kepalanya sejenak ke bantal sofa sambil menarik napasnya secara perlahan.


"Tak perlu khawatir soal itu karena aku yang akan mengijinkannya secara langsung, tapi apa kamu sungguh yakin tak perlu aku temani malam ini?" ucap Bella kembali bertanya seakan merasa khawatir akan kondisi Airin saat ini.


"Tak perlu khawatir Bel, pergilah tidur ini sudah larut malam. Bukankah beberapa author sedang melakukan mogok menulis akhir-akhir ini? Jadi segera pergi tidur agar kamu sedikit lebih fresh dan segera bisa menemukan solusinya." ucap Airin lagi sambil berusaha untuk meyakinkan Bella agar tidak perlu khawatir.


"Baiklah... Jika ada apa-apa jangan lupa untuk segera menghubungi diriku Ai" ucap Bella di seberang sana sebelum pada akhirnya panggilan keduanya terputus saat itu.


Airin menarik napasnya dalam-dalam setelah panggilannya selesai barusan, menangis seharian penuh benar-benar menguras tenaganya hingga membuatnya begitu lelah saat ini. Airin memejamkan kelopak matanya sebentar berusaha untuk mengistirahatkan sejenak pikirannya kala itu.

__ADS_1


Sampai kemudian ketika kelopak mata Airin sudah tertutup dengan sempurna, sebuah usapan lembut terasa begitu nyata di kepala Airin saat ini hingga membuatnya lantas langsung bangkit dari posisinya sambil membuka kelopak matanya dengan lebar.


"Ibu!" pekik Airin yang terkejut begitu bangun dan melihat sosok Ibunya tengah duduk di sofa ruang tamunya saat ini.


Mendengar hal tersebut Ara lantas tersenyum sambil menatap ke arah Airin dengan tatapan yang intens. Wajah Ara saat itu bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya dan juga bersinar, membuat Airin yang melihat hal tersebut lantas langsung memeluk tubuh Ara dengan erat seakan bahagia bisa bertemu dengan sosok Ibunya saat ini.


"Ibu minta maaf ya Ai karena Ibu tidak bisa menepati janji Ibu dan memasakkan mu sesuatu yang enak. Setelah ini beli lah makanan yang banyak dan janji jangan telat makan." ucap Ara sambil mengusap punggung Airin dengan perlahan.


Mendengar hal tersebut lantas membuat Airin langsung melepas pelukannya secara perlahan kemudian menatap ke arah Ara sambil menggeleng secara perlahan. Setetes air mata nampak jatuh dari sudut mata Airin saat itu, yang lantas membuat Ara langsung mengusapnya dengan perlahan.


"Jangan menangis nak.. Ibu akan sulit naik ke atas jika melihat mu seperti ini. Kamu harus tetap menjalani hidup mu dengan baik, bukankah selama ini kamu berhasil tinggal sendirian di kota ini? Jadi mari kita anggap Ibu tetap berada desa dan kamu sedang merantau di kota, bagaimana? Bukankah hal itu akan terasa lebih mudah? Setidaknya ini adalah solusi yang tepat, bukan?" ucap Ara sambil mengusap kepala Airin dengan perlahan saat itu.


"Oh ayolah Ai, bukankah kamu sudah memiliki tetangga mu yang tampan itu? Jadi manfaatkan saja ketampanannya, ketika kamu merindukan Ibu panggil saja dia kemari dan berpesta lah dengannya." ucap Ara dengan tersenyum simpul, membuat Airin yang mendengar hal tersebut lantas langsung memutar bola matanya dengan jengah.


"Bu jangan bercanda! Ini bahkan bukan waktu yang tepat untuk bercanda..." ucap Airin dengan nada yang kesal karena bukannya pertemuan ini menjadi momen yang haru dan penuh dengan tangisan, Ara malah mengatakan yang tidak-tidak seperti ini membuat suasananya menjadi berbeda.


"Baiklah-baiklah Ibu minta maaf ya..." ucap Ara kemudian sambil tersenyum dengan simpul.


Malam itu pada akhirnya Airin bisa tidur dengan tenang setelah bertemu Ara di dalam mimpinya. Airin sepertinya tidak sadar akan hal itu hingga ia tidur di sofa sambil tersenyum namun dengan mata yang terpejam.


Disaat Airin tengah tidur dengan lelap malam itu Luke yang khawatir akan keadaan Airin, lantas terlihat datang setelah sebelumnya berteleportasi dari unit Apartemennya.

__ADS_1


Luke mengambil posisi bersendekap dada sambil menatap ke arah Airin dengan tatapan yang intens. Helaan napas bahkan terdengar dengan jelas saat itu ketika Luke melihat ekspresi raut wajah yang di tunjukkan oleh Airin saat itu.


"Aku bahkan langsung berteleportasi kemari untuk melihat keadaannya, namun dia yang aku khawatirkan ternyata sudah tertidur dengan pulas." ucap Luke sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan begitu mendapati senyuman Airin saat itu.


"Setidaknya ini lebih baik daripada aku melihatnya menangis seharian seperti sebelumnya." ucap Luke kemudian sambil mulai mengangkat tubuh Airin ala bridal style dan memindahkannya secara perlahan ke arah kamarnya.


***


Kamar Airin


Setelah menggendong Airin dari arah ruang tamu menuju ke arah kamarnya Luke nampak mulai meletakkan tubuh Airin secara perlahan kepada ranjang empuk yang tertata dengan rapi di kamarnya saat itu. Dengan gerakan yang perlahan dan juga hati-hati Luke mulai meletakkan tubuh Airin di sana dan memberikannya selimut hingga menutupi bagian dada Airin saat itu.


"Aku harap kamu bisa segera bangkit dan kembali seperti semula, jangan terlalu larut dalam kesedihan Ai..." ucap Luke sambil mengusap puncak kepala Airin dengan perlahan dan bergerak hendak pergi dari sana.


Hanya saja ketika Luke hendak melangkahkan kakinya keluar dari area kamar Airin saat itu. Sebuah tarikan tangan yang langsung mencengkram pergelangan tangannya dengan erat, lantas langsung menghentikan langkah kaki Luke dengan seketika.


"Jangan pergi Bu... Jangan tinggalkan aku, ku mohon Bu.. Bawalah aku bersama dengan mu, aku benar-benar tak bisa hidup tanpa mu..." ucap Airin dengan nada yang bergumam membuat Luke lantas langsung mengernyit dengan seketika.


"Aku tidak akan pergi kemanapun, aku akan di sini bersama mu..."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2