Tetangga Baruku Vampir?

Tetangga Baruku Vampir?
Ada yang aneh dengan Asti


__ADS_3

Kamar Airin


Terlihat Airin tengah tiduran di kasur empuk miliknya sambil menatap kosong ke arah atap bercat warna putih di kamarnya. Pikiran Airin melayang membayangkan segala hal yang baru saja terjadi kepadanya. Demi sebuah perlindungan dari sosok-sosok yang sering mengganggunya, Airin malah mengiyakan sebuah kesepakatan gila dengan seorang Vampir yang baru ia kenal.


Sepertinya Airin benar-benar sudah gila karena melakukan hal itu tanpa memikirkannya secara detailnya terlebih dahulu. Airin menghela napasnya dengan panjang ketika baru menyadari akan kebodohannya yang menyanggupi begitu saja permintaan dari Luke yang Airin sendiri tidak tahu apa itu. Bukankah Airin benar-benar tidak waras?


Airin mengacak-acak rambutnya dengan kesal kemudian bangkit dari posisi tidurnya.


"Bagaimana jika nanti Luke meminta nyawa ku? Bukankah aku sudah gila karena telah menyerahkan nyawa ku secara percuma? Arg Airin... Kau benar-benar sudah gila! Jika seperti ini sama saja kamu keluar dari kandang singa namun kamu masuk ke kandang buaya, apa bedanya Airin...." gerutu Airin dengan nada yang memanjang sambil mulai mendaratkan kepalanya begitu saja di kasur empuk miliknya.


****


Di suatu komplek di salah rumah yang di tinggali oleh Asti. Terlihat Asti tengah melangkahkan kakinya dengan perlahan memasuki area rumahnya. Setelah ia kesurupan kemarin semuanya terasa sangat berbeda baginya, ada beberapa suara yang sering ia dengar dan tentu saja sangat menakutkan baginya.


Kehidupannya bahkan sudah sangat terganggu akan sosok kekasih yang numpang dan jadi benalu di hidupnya, membuat penderitaan Asti kian bertambah karena ia masih harus di hantui oleh suara-suara aneh yang tak pernah ia dengar sebelumnya.


"Apa yang sedang kau lakukan?" ucap sebuah suara yang lantas mengejutkan Asti saat itu.


"Fahri! Bisa tidak jangan membuat ku terkejut seperti ini!" ucap Asti dengan raut wajah yang kesal.


Melihat raut wajah kesal milik Asti, lantas membuat Fahri bangkit dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Asti berada dengan penerangan yang begitu gelap karena memang Fahri yang tak menyalakan lampu ruangan tersebut sedari tadi.


Asti nampak mengusap raut wajah dengan kasar, membuat seulas senyuman yang sinis nampak terlihat pada raut wajahnya saat itu, namun tanpa disadari oleh Asti karena memang suasananya yang gelap saat itu.

__ADS_1


"Berikan aku uang!" ucap Fahri kemudian yang lantas membuat Asti langsung mendongak menatap ke arah Fahri begitu mendengar kata uang keluar dari mulutnya.


"Jangan sekarang ya, ada beberapa barang yang harus aku beli.. Bulan depan saja!" ucap Asti kemudian mulai melangkahkan kakinya melewati Fahri.


Hanya saja Fahri yang mendapat penolakan dari Asti barusan tentu saja marah dan tidak terima. Dipegangnya tangan Asti dengan erat yang lantas membuat langkah kaki Asti terhenti dengan seketika. Ditatapnya raut wajah Asti dengan tatapan yang tajam, membuat Asti lantas menghela napasnya dengan panjang ketika menyadari tatapan dari Fahri saat ini.


"Cobalah untuk mengerti, lagi pula dari pada kamu terus meminta uang kepadaku sebaiknya kamu cari kerja saja sana agar kita bisa segera menikah." ucap Asti kemudian.


Mendengar perkataan dari Asti barusan tentu saja membuat Fahri semakin tersulut emosi dan marah. Fahri sungguh tidak terima akan perkataan Asti yang seakan-akan menyindirnya hanya menumpang hidup dengan Asti saja.


Fahri mempererat genggaman tangannya, membuat Asti lantas meringis ketika merasakan rasa sakit yang menjalar di area pergelangan tangannya.


"Apa-apaan kamu itu? Lepaskan tangan ku!" ucap Asti sambil berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Fahri kepadanya.


"Kau itu siapa berani-beraninya mengatakan hal tersebut kepadaku? Sudah untung aku mau menerima mu! Dasar wanita tak tau di untung!" ucap Fahri dengan nada menukik tajam.


"Kau pikir aku bahagia bersama dengan mu? Aku bahkan tidak pernah tidur dengan tenang selama menjalin hubungan dengan mu! Jika aku bisa, aku akan memilih untuk putus dengan mu!" pekik Asti tak mau kalah sambil mendorong tubuh Fahri hingga membuat cengkraman tangan Fahri terlepas dari pergelangan tangannya.


Asti yang melihat cengkraman tangan Fahri telah terlepas saat itu, lantas mulai mengambil langkah kaki seribu karena takut jika Fahri akan marah. Setidaknya ia harus mencari tempat berlindung sebelum Fahri memberi pelajaran kepadanya. Sedangkan Fahri yang sadar jika Asti hendak kabur darinya, lantas mempercepat langkah kakinya menyusul kepergian Asti dan langsung menarik bahunya dengan kasar hingga kembali membuat Asti meringis kesakitan ketika merasakan rasa sakit di area bahunya.


"Kau siapa bisa mengatur ku ha? Yang bisa mengatakan kata perpisahan hanya aku seorang! Kau... Kau tidak berhak untuk memutuskannya sama sekali." ucap Fahri dengan tatapan yang tajam.


"Apapun yang terjadi aku ingin putus dengan mu!" ucap Asti dengan nada penuh keyakinan.

__ADS_1


Mendengar perkataan Asti barusan tentu saja membuat Fahri marah dan dengan spontan menampar Asti dengan cukup keras, Asti yang tak bersiap akan tamparan tersebut tentu saja terkejut dan terhempas ke bawah, tanpa sadar jika di sana terdapat meja kaca yang sudah dapat di pastikan langsung mengenai bagian kepalanya begitu tubuh Asti terhuyung dan jatuh ke lantai.


Bruk...


****


Keesokan paginya di kantor


Setelah menyelesaikan rapat bulanan yang berlangsung hampir setengah harian, membuat Airin terlihat melangkahkan kakinya dengan gontai menyusuri area lorong kantor menuju ke ruangannya.


"Apa yang ingin kamu pesan Ai? Biar aku pesankan sekalian..." ucap Bella yang sedari tadi menatap ke arah layar ponselnya untuk memesan makanan.


"Terserah yang pasti berkuah dan pedas, sepertinya aku akan ke toilet sebentar pesankan untuk ku, oke?" ucap Airin sambil berlarian menuju ke arah kamar mandi meninggalkan Bella seorang diri.


"Tapi Ai.. Makanan apa yang berkuah dan pedas? Bisakah kau mengatakannya lebih spesifik lagi? Ai... Airin!" pekik Bella namun sayangnya Airin sudah masuk ke area kamar mandi, membuatnya hanya bisa menghela napasnya dengan panjang.


***


Kamar mandi


Setelah menyelesaikan panggilan alamnya Airin nampak melangkahkan kakinya keluar dari bilik kamar mandi dan menuju ke arah wastafel untuk cuci tangan. Saat itu kebetulan ada seorang lagi yang tangah cuci tangan di wastafel dengan raut wajah yang menunduk. Airin yang mengenali bahwa itu adalah Asti lantas menatap ke arah Asti dengan tatapan yang menelisik seakan bertanya-tanya akan kediaman Asti saat ini.


"As apa kamu baik-baik saja?" ucap Airin dengan raut wajah yang penasaran namun anehnya Asti yang mendengar perkataan Airin bukannya menjawab malah semakin menunduk.

__ADS_1


Bruk


Bersambung


__ADS_2