
"Darah! Ya sebuah darah..." ucap Airin dengan nada yang yakin.
Entah mengapa Airin begitu yakin jika kedatangan Luke saat itu bertepatan dengan tubuhnya yang selalu luka dan berdarah. Dalam pikiran Airin saat ini hanya menyimpulkan jika Luke seorang Vampir maka tentu saja akan sangat menyukai bau darah, entah mengapa darah menjadi sangat identik dengan Vampir, membuat Airin lantas langsung terpikirkan akan darah ketika ia terus-terusan gagal dalam usaha mencoba untuk memanggil Luke.
Airin yang yakin kemudian mencoba mengedarkan pandangannya ke arah sekitar untuk mencari benda tajam yang bisa ia gunakan untuk menggores sedikit tangannya. Sampai kemudian pandangannya terhenti pada sebuah kaca di meja rias, yang lantas membuat seulas senyuman terlihat terbit dari wajah Airin saat itu.
Airin yang tahu harus melakukan apa lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah meja rias tersebut dan mulai melemparnya dengan jam weker untuk membuat pecahan kaca dan menggores tangannya.
Pyar...
Suara pecahan kaca yang berasal tepat ketika jam weker dilempar ke arah kaca yang terdapat pada cermin rias oleh Airin barusan, lantas menimbulkan suara yang cukup nyaring di telinga. Airin yang melihat serpihan kaca mulai berhamburan di sekitarnya, lantas mencoba untuk mengambil salah satu dan bersiap untuk melukai tangannya. Hanya saja sebelum gerakannya mencapai kepada tahap melukai tangannya, pintu ruangan tersebut mendadak terbuka dengan keras membuat Airin langsung terkejut dengan seketika dan langsung menghindar dari tempatnya semula.
Nyaris saja sebuah golok menghantam ke tubuhnya jika Airin tidak sigap ketika melihat sosok Fahri melayangkan golok ke arahnya melalui serpihan cermin rias.
"Sial.. Darah sih darah tapi bukan langsung pindah alam dengan ayunan kapak itu juga kali!" ucap Airin yang masih terkejut dan bersyukur ia bisa selamat dari ayunan kapak milik Fahri.
Sedangkan Fahri yang mendapati kapaknya menyangkut tepat di meja cermin rias, lantas mulai kesal dan berusaha untuk melepas kapaknya yang menancap di sana. Melihat hal tersebut Airin lantas memanfaatkannya untuk melarikan diri dari hadapan Fahri saat itu.
"Berhenti kau!" ucap Fahri dengan kesal ketika melihat Airin kembali kabur darinya.
"Tidak akan pernah!" pekik Airin sambil terus melangkahkan kakinya kabur dari sana.
Fahri yang tidak bisa mengambil kampak nya lantas memutuskan untuk meninggalkannya di sana dan mengejar Airin dengan tangan kosong.
**
Dapur
__ADS_1
Airin yang ingin menuju ke arah pintu lantas menghentikan langkah kakinya ketika melintasi lemari pendingin tersebut. Sepertinya sebelum kabur Airin harus mengambil ponselnya terlebih dahulu sebagai bukti kejahatan Fahri nantinya. Airin yang memutuskan untuk meninggalkan kesempatan kaburnya, kemudian lantas mengambil posisi tengkurap di lantai berusaha untuk mengambil ponselnya namun ternyata tidaklah semudah itu.
"Oh ayolah cobalah untuk bekerja sama.. Mengapa sulit sekali sih?" ucap Airin dengan nada yang menggerutu karena ia tak kunjung bisa mengambil ponsel miliknya.
Disaat Airin tengah berjuang mati-matian mengambil ponsel miliknya sebuah suara yang berasal tak jauh dari posisinya saat ini lantas membuat Airin menjadi semakin kesal.
"Dimana kau.. Ayolah tak perlu bersembunyi dari ku..." ucap Fahri dengan nada yang meninggi sambil mengedarkan pandangannya ke arah sekitar mencari keberadaan Airin di sana.
Airin yang bisa mendengar dengan jelas suara dari Fahri barusan tentu saja langsung bangkit dari posisinya, Airin bahkan tidak lagi memikirkan ponsel miliknya saat ini melainkan ia harus mencari sesuatu untuk melukai tubuhnya dan mengeluarkan paling tidak sedikit darah untuk mencoba memanggil Luke agar datang dan membantunya.
Pandangan mata Airin terhenti pada pisau dapur yang berjajar begitu rapi di sana, membuat Airin lantas menelan salivanya dengan kasar begitu melihat hal tersebut.
"Sedikit goresan harusnya tidak terlalu sakit, bukan?" ucap Airin sambil mengambil pisau tersebut dan memegangnya dengan erat.
Sampai kemudian ketika Airin hendak mulai menggores jari tangannya sebuah suara yang berasal dari Fahri, lantas mengejutkannya dan membuat Airin tanpa sadar menggores telapak tangannya dengan kasar.
"Aw" pekik Airin yang tanpa sadar menggores telapak tangannya.
Prank...
Suara pisau yang jatuh seiring dengan tetesan darah milik Airin terdengar menggema di area dapur, membuat tawa lantas terdengar dengan jelas keluar dari mulut Fahri saat itu juga.
"Kau bahkan sudah memulainya secara sukarela rupanya? Kau benar-benar sesuatu.." ucap Fahri sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Airin berada.
Airin meringis menahan rasa sakit di area telapak tangannya saat itu, Airin mengambil langkah kaki mundur ketika Fahri terus melangkahkan kakinya maju mendekat ke arahnya.
"Jangan mendekat dan berhenti di sana!" ucap Airin sambil terus melangkahkan kakinya mundur ke arah belakang.
__ADS_1
"Mundur? Tentu saja tidak akan pernah!" ucap Fahri dengan nada yang sinis sambil langsung menarik tangan Airin dan langsung menariknya.
Airin di tarik begitu saja oleh Fahri hingga ke tengah ruangan, membuat Airin lantas semakin meringis karena kesakitan ditambah lagi darahnya yang terus menetes ke lantai membuat beberapa aura negatif nampak mulai berdatangan dan mengitari area rumah tersebut.
Fahri menghempaskan tubuh Airin begitu saja dengan kasar hingga tubuh Airin terperosok dan masuk ke dalam celah-celah antara sofa dan juga meja ruang tamu.
"Akh Luke to...long aku..." ucap Airin dengan nada yang lirih ketika mulai merasakan tubuhnya yang remuk redam.
Melihat Airin tak kunjung bangkit dari sana membuat Fahri lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Airin. Fahri menarik kaki Airin begitu saja dan kembali menyeretnya ke tengah, membuat tubuh Airin yang tidak bisa bergerak lantas kembali terseret dan berguling hingga menabrak ke sebelah lemari.
Fahri tertawa dan kembali mendekat ke arah Airin, dipegangnya dagu Airin dengan erat sambil tersenyum dengan sinis.
"Ini adalah akibat dari seseorang yang berani ikut campur dengan urusan orang lain, apa kau sudah menyesal saat ini?" ucap Fahri kemudian yang lantas membuat Airin meringis kesakitan.
"Ti..dak akan pernah!" ucap Airin dengan nada yang tertatih.
"Kau..." ucap Fahri hendak kembali melayangkan pukulan namun terhenti ketika sebuah tangan menghentikan gerakan tangannya.
"Tidak ada yang boleh menyentuh seseorang yang aku lindungi!" ucap sebuah suara yang berasal dari Luke, membuat Airin lantas bersyukur ketika mengetahui Luke datang untuk menolongnya.
Luke yang melihat keadaan Airin seperti itu, lantas langsung menarik tangan Fahri dan melemparnya begitu saja dengan kuat hingga tubuh Fahri melayang cukup jauh dan terhempas menabrak ke arah mini bar kemudian pingsan.
"Apa kamu baik-baik saja? Dasar bodoh!" ucap Luke kemudian sambil berusaha untuk membantu Airin bangkit dari sana.
Prank.....
Bersambung
__ADS_1