Tetangga Baruku Vampir?

Tetangga Baruku Vampir?
Bagaimana kabar mu?


__ADS_3

Keesokan harinya


Dengan semangat yang baru dan juga hari yang baru, Airin nampak mulai melangkahkan kakinya memasuki area lobby perusahaannya. Hari ini ia benar-benar ingin memulai segalanya dengan benar, sepenggal cerita kelam tentang segala kisah hidupnya. Sebisa mungkin Airin tinggalkan dan kini yang tersisa hanya hari baru dan juga semangat yang baru.


"Aku bisa... Aku pasti bisa..." ucap Airin sambil menekan tombol lift menuju ke lantai di mana ruangan kerjanya berada.


Sambil menunggu lift mulai membawanya naik ke atas, Airin nampak menyenderkan punggungnya sebentar sambil menghela napasnya dengan panjang. Perkataan Luke semalam benar-benar telah merubah segala pemikirannya, entah apa yang membuatnya memutuskan untuk maju dan menghadapi segalanya. Namun kehadiran Luke benar-benar berpengaruh dalam hidupnya.


Ting...


Suara pintu lift yang terbuka berdenting dengan keras dan langsung membuyarkan lamunan Airin saat itu juga, sambil mulai menarik napasnya dalam-dalam. Airin mulai melangkahkan kakinya keluar dari area lift dan berjalan menuju ke arah lorong ruang kerjanya.


Di saat langkah kaki Airin tengah melewati lorong menuju ke arah ruang kerjanya. Sebuah suara yang memekakkan telinganya, lantas terdengar dan langsung menghentikan langkah kaki Airin dengan seketika. Airin yang jelas hapal betul pemilik dari suara tersebut, lantas langsung membuatnya berbalik dengan perlahan sambil mencoba untuk mengulum senyum menatap ke arah sumber suara.


"Airin.. Itu benar-benar kamu?" pekik sebuah suara yang berasal dari Bella.


"Hai Bel..." ucap Airin ketika mendapati langkah kaki sahabatnya itu mulai melangkah mendekat ke arahnya.


"Airin... Aku benar-benar mengkhawatirkan mu... Are you oke?" ucap Bella sambil memeluk tubuh Airin dengan erat.


Sejak dua hari ini Bella bahkan tidak bisa tidur dengan tenang karena terus memikirkan keadaan Airin. Namun Airin yang di khawatirkan malah menolak bantuan dari Bella dan terus mengatakan jika ia baik-baik saja dan butuh waktu sendiri.


"Tak perlu khawatir Bel.. Aku benar-benar baik-baik saja..." ucap Airin sambil tersenyum dengan simpul menatap ke arah Bella, membuat Bella lantas baru bisa bernapas dengan lega ketika mendengar perkataan dari Airin barusan.


"Syukurlah jika kamu memang baik-baik saja, kamu benar-benar membuatku sangat khawatir." ucap Bella dengan raut wajah yang sendu ketika mengatakan hal tersebut.

__ADS_1


"Terima kasih karena kamu masih memikirkan ku." ucap Airin.


Sepertinya hanya kata-kata itu yang bisa Airin katakan untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Bella. Entah bagaimana lagi hidup Airin saat ini bila tanpa Bella, Bella benar-benar seseorang sahabat yang pengertian dan juga selalu ada untuknya di manapun dan kapanpun ia membutuhkannya.


"Ayolah jangan bercanda, apakah ucapan terima kasih di perlukan dalam sebuah persahabatan? Apakah kamu melupakan selogan persahabatan kita?" ucap Bella dengan tersenyum lebar.


"Tentu saja tidak.. 'Jangan ucapkan kata maaf dan juga terima kasih karena itu hanya akan membuat jarak di antara kita' bagaimana aku bisa melupakannya?" ucap Airin dengan senyuman yang mengembang.


"Tepat sekali.." ucap Bella sambil memekot leher Airin dengan gemas, membuat tawa kecil terdengar menggema dari keduanya.


Disaat Airin dan juga Bella tengah sibuk bergurau sambil melangkahkan kakinya menuju ke arah meja kerja mereka. Sebuah suara yang berasal tak jauh dari tempat keduanya berada, lantas terdengar dan menghentikan langkah kaki keduanya.


"Airin kebetulan sekali kamu sudah masuk hari ini, datang dan temui saya di ruanganku sekarang juga!" ucap Daniel dengan nada yang datar sambil berbalik badan dan melangkahkan kakinya berlalu pergi begitu saja.


Sedangkan Airin dan juga Bella yang mendengar perkataan dari Daniel barusan, lantas hanya bisa saling pandang antara satu sama lainya. Seakan bertanya-tanya tentang tingkah Daniel yang mendadak memanggilnya ke ruangannya.


Namun Bella yang mendengar pertanyaan dari Airin barusan, lantas terdiam sejenak seakan mencoba untuk mengingat-ingat apa yang terjadi selama Airin tidak datang ke kantor. Hanya saja meski di ingat sebagaimana pun, tetap saja Bella tak mengingat ada hal penting lainnya selain hanya perihal pekerjaan saja.


"Aku rasa tidak ada." jawab Bella kemudian dengan nada yang yakin.


"Lalu mengapa dia memanggil ku ke ruangannya saat ini?" tanya Airin kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


"Entahlah aku juga bingung, tapi sebaiknya kamu segera pergi sebelum tanduknya keluar sebentar lagi." ucap Bella kemudian sambil mendorong tubuh Airin dengan pelan, berharap Airin bisa segera berangkat saat ini.


"Baiklah-baiklah... Aku pergi sekarang." ucap Airin kemudian sambil mulai melangkahkan kakinya berlalu pergi meninggalkan Bella di sana.

__ADS_1


Setelah kepergian Airin dari hadapannya, Bella lantas menatap ke arah Airin dengan tatapan yang menelisik sekaligus bertanya-tanya akan sesuatu hal yang entah mengapa saat ini tengah memenuhi isi kepalanya.


"Apakah pak Daniel menyukai Airin ya? Mengapa rasanya di antara mereka seperti ada hubungan khusus yang aku sendiri tidak tahu apa itu? Atau... Ini semua ia hanya firasat ku saja? Entahlah..." ucap Bella sambil terus menatap punggung Airin dengan tatapan yang intens.


Hingga ketika Bella tidak lagi melihat punggung Airin, ia lantas mulai membawa langkah kakinya berlalu pergi dari sana menuju ke arah meja kerjanya.


**


Ruangan Editor in Chief


Airin yang baru saja sampai tepat di depan pintu ruangan kerja Daniel, lantas langsung menarik napasnya dalam-dalam sebelum pada akhirnya ia mengetuk pintu ruangan tersebut, sambil menunggu Daniel mempersilahkannya untuk masuk ke dalam.


Tok tok tok


"Masuk..." ucap Daniel kemudian dari arah dalam ruangannya.


Mendengar suara Daniel yang mempersilahkan dirinya untuk masuk ke dalam, lantas langsung membuat Airin mulai membuka pintu ruangan kerja Daniel. Dengan langkah kaki yang perlahan Airin mulai membawa langkah kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Apakah ada sesuatu yang anda butuhkan bapak Daniel yang terhormat?" ucap Airin dengan nada penuh penekanan seakan mengisyaratkan kepada Daniel, jika kedatangannya ke sini hanya lah untuk sebuah pekerjaan bukan urusan pribadi ataupun main-main.


Sedangkan Daniel yang mendengar perkataan dari Airin barusan, lantas menatapnya dengan tatapan yang intens. Beberapa hari ini Daniel yang tidak bertemu dengan Airin, lantas merasa khawatir sekaligus bertanya-tanya. Akan kemana perginya Airin? Namun ketika mendengar kabar jika Ibu Airin telah meninggal dunia beberapa hari yang lalu, lantas langsung membuat Daniel semakin merasa tidak nyaman dan ingin segera mengetahui kabar Airin saat itu juga.


"Bagaimana kabar mu? Apakah perasaan mu sudah lebih baik saat ini?" ucap Daniel kemudian yang lantas membuat Airin langsung mengernyit dengan seketika.


"Apa?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2