
Di sebuah taman dengan nuansa pohon sakura yang indah sejauh mata memandang, terlihat Asti tengah duduk dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Asti begitu terlihat cantik dengan baju dress berwarna putih bermotif bunga-bunga kecil membalut tubuhnya.
Airin yang samar-samar melihat Asti seperti tengah melambaikan tangan ke arahnya, lantas terlihat mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Asti berada.
"Kamu mau pergi kemana dengan pakaian dan dandanan seperti ini? Apa kamu tidak pergi bekerja?" tanya Airin sambil mengambil duduk tepat di sebelah Asti saat itu.
Asti yang mendengar pertanyaan dari Airin barusan lantas menoleh ke arah Airin kemudian tersenyum dengan simpul.
"Tugas ku sudah selesai Ai, aku datang untuk berterima kasih kepadamu karena telah membantu ku agar bisa naik ke atas dengan tenang." ucap Asti dengan tersenyum tulus ke arah Airin.
Airin yang mendengar perkataan dari Asti barusan tentu saja langsung terdiam. Ingatannya kemudian melayang memutar kembali tentang bagaimana ia menemukan tubuh Airin di dalam lemari pendingin saat itu. Airin yang tahu pasti apa yang tengah dimaksud oleh Asti kemudian mulai mengusap pundak Asti dengan perlahan.
"Apa kamu sungguh akan pergi?" tanya Airin kemudian.
"Tentu saja, alam kita sekarang sudah berbeda namun aku masih bersyukur karena di beri kesempatan untuk berterima kasih kepadamu. Kamu spesial Ai karena bisa melihat apa yang orang lain tidak bisa melihatnya. Terima kasih banyak atas segala hal yang telah kamu lakukan untuk ku..." ucap Asti lagi sebelum pada akhirnya bangkit dari tempatnya dan berlalu pergi dari sana.
Airin yang melihat Asti melangkahkan kakinya pergi meninggalkannya, lantas ikut bangkit dan menatap kepergian Asti dengan senyum yang mengembang.
"Semoga kamu bahagia di sana Asti, aku akan selalu berdoa yang terbaik untuk mu..." ucap Airin kemudian sambil melepas kepergian Asti, hingga sosok Asti tidal lagi terlihat pada pandangannya.
***
Rumah Sakit
__ADS_1
"Tidak ada yang boleh mencampur darah murni pemilik darah suci. Apapun yang terjadi, darahnya tetap harus murni dan bersih dari kontaminasi." ucapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Sosok Dokter wanita tersebut lantas membuka maskernya secara perlahan dan menunjukkan wajah aslinya yang ternyata adalah Lisa. Lisa menatap ke arah sekitar kemudian setelah memastikan situasinya aman Lisa mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebuah daun dengan ukuran yang kecil berwarna keemasan terlihat jelas di pegang oleh Lisa saat itu.
Tanpa menunggu waktu lama lagi Lisa kemudian mulai memasukkan daun tersebut ke dalam mulut Airin dan memberinya sedikit air agar bisa hancur dan di telan ke dalam. Seulas senyum terlihat terbit dari wajahnya ketika melihat tubuh Airin nampak mengeluarkan sebuah cahaya keemasan selama sepersekian detik.
Lisa mencondongkan tubuhnya tepat ke arah telinga Airin dan membisikkannya sesuatu.
"Tidak ada yang boleh mengkontaminasi darah suci, kamu akan kembali pulih dalam beberapa jam jadi tak perlu khawatir dan cepatlah bangun, seseorang tengah menanti mu saat ini." ucap Lisa dengan nada yang berbisik tepat di telinga Airin, membuat kelopak mata Airin nampak bergerak seperti ingin membuka matanya begitu suara Lisa terdengar di telinganya.
Mendengar suara bisikan tersebut diantara sadar dan tidak sadarnya, Airin seperti di tuntun untuk bangun dan sadar detik itu juga. Membuat Lisa yang melihat hal tersebut lantas tersenyum dengan simpul.
"Bagus Airin kamu pasti bisa, ayo lakukan terus dan buat dirimu menemukan jalan kembali untuk pulang." ucap Lisa sambil mengusap puncak kepala Airin selama beberapa kali.
Sampai kemudian ketika Lisa tengah fokus memperhatikan Airin saat itu, suara derap langkah kaki yang terdengar mendekat lantas membuat Lisa berdecak dengan kesal.
"Aku pergi dulu... Sampai jumpa di lain hari..." ucap Lisa kemudian berteleportasi dari tempat tersebut tepat sebelum suara derap langkah kaki itu masuk ke dalam ruangan Airin.
***
Hhhhhh
Suara hembusan napas yang begitu kasar terdengar di ruangan tersebut tepat ketika Airin bangkit dari posisi tidurnya. Airin benar-benar merasa seperti di tarik dengan tiba-tiba dan di paksa bangkit dari tidurnya, membuat Airin yang saat ini dalam posisi terduduk lantas menatap ke area sekitar dengan tatapan yang bingung seperti orang yang linglung.
__ADS_1
Ceklek...
Suara pintu yang di buka dari luar kemudian membuat Airin langsung menoleh dengan seketika. Satu orang Dokter dan juga perawat terlihat mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang UGD untuk memeriksa perkembangan Airin. Hanya saja ketika mereka masuk ke dalam ruangan tersebut, semua orang nampak terkejut akan kondisi Airin yang saat ini sudah terbangun dalam posisi duduk sambil menatap ke arah mereka.
Dokter tersebut nampak berlarian dan mendekat ke arah ranjang pasien begitu pula beberapa perawat yang sedari tadi mengikuti langkah kakinya.
"Kamu sudah bangun? Bagaimana perasaan mu? Apakah ada sesuatu yang membuat mu tidak nyaman?" tanya Dokter tersebut sambil mengkode perawat lainnya untuk memeriksa Airin.
Airin di tuntun untuk kembali berbaring agar memudahkan pemeriksaan pada dirinya, namun Airin yang masih bingung akan apa yang terjadi malah kembali bangkit dalam posisi yang duduk, membuat semua orang di sana lantas menatap bingung ke arah Airin.
"Saya baik-baik saja Dok, sepertinya saya harus pulang saat ini." ucap Airin kemudian sambil melepas selang oksigen di hidungnya.
"Tunggu sebentar... Kamu bahkan baru bangun dari pingsan mu biar saya pastikan jika kamu baik-baik saja." ucap Dokter tersebut sambil kembali mengarahkan Airin untuk berada dalam posisi tertidur.
Namun Airin yang yakin jika saat ini dia sudah baik-baik saja kemudian lagi dan lagi kembali bangun dan berusaha untuk turun dari ranjang pasien. Entah mengapa Airin begitu ngotot untuk pergi dari sana. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah Luke dan Luke, Airin benar-benar penasaran akan apa yang tengah terjadi kepada Luke saat ini.
"Dok saya sungguh baik-baik saja, lihatlah saya sehat wal afiat.. Jadi biarkan saya turun dan mengurus biaya administrasinya, terima kasih..." ucap Airin dengan nada sedikit meninggi membuat semua orang yang ada di sana lantas terdiam di tempatnya.
"Baiklah jika memang kamu ingin pergi, ijinkan saya memeriksa mu terlebih dahulu baru setelah itu kamu boleh pergi dari sini." ucap Dokter tersebut dengan nada yang kekeh karena ia merasa kasus Airin ini benar-benar aneh dan membuatnya bingung.
Mendengar perkataan Dokter tersebut kemudian membuat Airin lantas menghela napasnya dengan panjang. Ditatapnya name tag yang tertempel jelas di saku jas Dokter tersebut dengan tatapan yang mengernyit.
"Baiklah Dr. Natan, tapi janji setelah selesai kamu harus membiarkan ku pergi dari sini." ucap Airin pada akhirnya.
__ADS_1
"Baik, setuju..." ucap Dokter tersebut.
Bersambung