
"Aku menemukannya... Aku menemukannya..." ucap Luke beberapa kali membuat Lisa yang mendengar hal tersebut tentu saja langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung.
"Menemukan siapa?" tanya Lisa kemudian dengan raut wajah yang penasaran mengarah pada Luke.
Luke yang mendapat pertanyaan tersebut langsung menghela napasnya dengan panjang. Luke bahkan benar-benar kesal karena Lisa hanya bertanya dan terus bertanya tanpa langsung menanggapi perkataannya.
"Ayolah Lis.. Tanpa dijelaskannya pun kamu pasti tahu siapa yang aku maksud saat ini." ucap Luke dengan nada yang kesal.
Lisa tersenyum sekilas ketika mendengar perkataan dari Luke barusan, Lisa sebenarnya tahu akan arah dari pembicaraan Luke yang tentunya membahas tentang pemilik darah suci tersebut. Hanya saja Lisa tidak benar-benar yakin bahwa Luke akan menemukannya secepat ini.
"Apa kau sudah yakin dengan hal tersebut?" tanya Lisa kemudian dengan raut wajah penasaran.
"Tentu saja, kau kira aku sebodoh itu sampai tidak bisa membedakannya?" ucap Luke lagi.
Mendengar perkataan dari Luke kembali lantas langsung membuat Lisa tersenyum, Lisa kemudian melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju ke arah sofa ruangan tersebut dan mendudukkan dirinya di sana. Membuat Luke yang melihat hal tersebut lantas langsung mengernyit dengan seketika seakan bingung akan reaksi yang ditunjukkan oleh Lisa barusan.
"Lalu aku harus bagaimana?" ucap Luke bertanya sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Lisa berada saat ini.
"Buat dia jatuh cinta kepadamu, maka kamu akan bisa berubah menjadi manusia seperti yang kamu inginkan." ucap Lisa kemudian.
Mendengar pertanyaan dari Lisa barusan tentu saja membuat Luke terkejut seketika. Bagaimana bisa sebuah kata cinta mendadak terucap dari mulut Lisa dengan begitu saja, yang tentu membuat Luke sama sekali tidak mengerti akan arah dari pembicaraan Lisa saat ini.
"Apa maksud perkataan mu?" ucap Luke dengan raut wajah yang penasaran.
__ADS_1
"Menurut buku kuno yang menjelaskan tentang pemilik darah suci, jika seorang Vampir ingin berubah menjadi manusia maka ia harus menghisap darah gadis pemilik darah suci dengan seutuhnya. Asalkan dengan ketentuan bahwa pemilik darah suci tersebut berada di titik mencintai dengan ketulusan yang artinya si Vampir tersebut harus membuat gadis pemilik darah suci jatuh cinta kepadanya baru setelah itu bisa merubah mu menjadi manusia." ucap Lisa mulai menjelaskan segalanya.
Mendengar penjelasan dari Lisa barusan tentu saja langsung membuat Luke terdiam seketika, Luke memang bisa membuat sihir untuk merubah seseorang menjadi mencintainya dan hal itulah yang selama ini ia lakukan kepada mangsanya. Namun jika harus membuatnya benar-benar mencintainya itu adalah perkara yang cukup sulit karena bisa jadi malah Luke nantilah yang akan berbalik mencintai gadis itu. Luke berdecak kesal seakan merasa tidak setuju akan cara yang diberikan oleh buku kuno tersebut.
"Bukankah hanya tinggal menyihirnya menjadi mencintai ku? Mengapa ribet sekali? Jika harus membuatnya jatuh cinta, bukankah itu akan memakan waktu yang lama?" ucap Luke dengan nada yang kesal.
Lisa yang mendengarkan perkataan Luke barusan tentu saja hanya tersenyum dengan simpul. Lisa jelas tahu Luke adalah tipikal seseorang yang bertindak dengan cepat dan ketika ia harus dihadapkan persyaratan konyol ini, Lisa bahkan tidak terlalu yakin jika Luke bisa melakukannya.
"Semuanya tergantung padamu, jika kamu berbuat curang dalam hal ini maka semua usaha mu akan terasa sia-sia saja dan kamu harus kembali menunggu reinkarnasi dari gadis pemilik darah suci tersebut. Satu kesalahan akan membuat dirimu menyesal karena terlalu terburu-buru dalam bertindak." ucap Lisa sambil bangkit dari posisi duduknya.
Ditatapnya Luke yang nampak terdiam seperti tengah memikirkan sesuatu, membuat seulas senyum lantas terlihat terbit dari wajah Lisa begitu melihat raut wajah serius yang ditunjukkan oleh Luke.
"Pikirkan lah baik-baik... Semua keputusan ada di tangan mu..." ucap Lisa sambil menepuk pundak Luke dengan perlahan kemudian berlalu pergi meninggalkan Luke seorang diri.
Setelah kepergian Lisa dari sana Luke lantas terlihat mengacak-acak rambutnya, Luke benar-benar frustasi akan syarat konyol yang tertulis dalam buku kuno konyol tersebut. Bagaimana Luke menciptakan situasi yang perlahan-lahan akan mendorong Airin untuk mencintanya dengan tulus? Luke benar-benar bingung untuk memulainya.
"Benar-benar syarat yang konyol!" ucap Luke dengan nada yang kesal sambil bangkit dari tempat duduknya.
Dengan perasaan yang frustasi sekaligus bertanya-tanya Luke kemudian memutuskan untuk berteleportasi kembali ke Mansionnya, setidaknya Luke butuh waktu untuk memikirkan cara yang tepat agar bisa membuat Airin mencintainya.
***
Keesokan paginya
__ADS_1
Dak... dak dak....
"Agak ke kiri... pastikan untuk membawanya masuk dengan hati-hati." teriak seseorang dari arah luar Apartment Airin yang terdengar hingga ke dalam kamarnya, karena memang posisi kamar Airin yang berada di dekat pintu masuk membuatnya selalu saja kesal jika ada seseorang yang selalu membuat ribut di area lorong Apartment.
Suara berisik di luar kamar Apartemennya benar-benar membuat Airin kesal hingga ia langsung bangkit dari tidurnya. Ditatapnya jam dinding kamarnya yang saat ini terlihat jelas pukul 7 pagi.
"Oh Good, ini bahkan masih pagi tidakkah mereka bisa melakukannya dengan lebih perlahan. Ini bahkan hari weekend ku, bisakah mereka membiarkan ku istirahat barang sejenak saja? Benar-benar menyebalkan!" gerutu Airin dengan nada yang kesal karena suara berisik di luaran sana.
Airin yang puas menggerutu kemudian memutuskan untuk kembali berlayar ke pulau impiannya ketika ia tidak lagi mendengar suara berisik di luar sana. Sampai kemudian ketika Airin sudah mulai memejamkan kelopak matanya Airin harus lagi dan lagi dibuat kesal akan suara berisik yang kembali mengganggu tidurnya.
"Arrrgg... Sebenarnya apa sedang mereka lakukan di luar sana?" ucap Airin yang kembali bangkit dari posisi tidurannya.
Airin yang sudah mulai kesal akan suara berisik lagi dan lagi yang mengganggu tidurnya, kemudian mulai bangkit dari posisinya sambil menahan ekspresi raut wajah yang mara.h Airin terlihat mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya dan bergegas menuju ke arah luar untuk memarahi beberapa orang yang membuat gaduh di luar Apartemennya.
"Lihat saja kalian ya.. Akan ku marahi kalian habis-habisan karena sudah mengganggu tidur ku." ucap Airin dengan nada yang kesal.
Airin bahkan sudah tidak lagi memikirkan raut wajahnya yang baru saja bangun tidur tanpa mandi atau bahkan hanya sekedar cuci muka saja, Airin yang semalam harus pulang larut malam sekali karena ada lembur, ketika mendapatkan kesempatan tidur di hari weekend sebuah suara berisik lantas mengganggunya, membuat Airin tidak akan memaafkan siapa saj yang telah mengganggu tidurnya.
Cklek...
"Apa-apaan ini?" ucap Airin ketika melihat pemandangan di luar Apartemennya.
Bersambung
__ADS_1