
Stasiun kereta
Ara nampak keluar dari stasiun dengan raut wajah yang begitu sumringah, ia saat ini bahkan sudah membayangkan wajah putrinya yaitu Airin yang tengah berbinar menantikan kedatangannya. Sambil mulai melangkahkan kakinya dengan perlahan arah nampak mulai membawa langkah kakinya keluar menuju ke arah jalanan dan mencari kendaraan umum atau bahkan taksi yang bisa ia gunakan untuk pergi menuju ke unit Apartment Putrinya.
Seulas senyum lantas terlihat terbit dari wajah Airin saat itu ketika melihat satu kantong kresek cumi-cumi yang merupakan seafood kesukaan Airin.
"Aku yakin Airin akan langsung mencium ku berkali-kali lipat ketika aku memasakkannya cumi-cumi saus asam manis dan juga sambal cumi. Entah apa lagi yang akan di lakukan Airin kepada ku malam ini." ucap Ara dengan raut wajah yang berbinar sambil menatap lurus ke arah kantong kresek berisi cumi-cumi tersebut.
Di saat Ara tengah menatap ke arah kantong kresek berisi cumi-cumi yang ada di tangannya, sebuah dorongan yang berasal dari arah belakang lantas terasa dan hampir menjatuhkannya jika Ara tidak menjaga keseimbangannya. Dua orang anak kecil nampak berlarian menabrak ke arahnya tanpa bisa ia hindari membuat Ara hampir saja terjatuh tadi.
"Hei nak jangan lari-lari kau bisa terjatuh nantinya!" pekik Ara ketika mendapati keduanya malah bermain-main di bahu jalan tanpa menggubrisnya sama sekali.
Ara yang melihat kedua anak kecil tersebut, tentu saja hanya bisa mendengus dengan kesal karena mereka sama sekali tidak menggubrisnya dan malah terus berlarian menuju ke arah bahu jalan dengan bersenda gurau dan bercanda antara satu sama lain tanpa menghiraukan area sekitarnya sama sekali.
Sampai kemudian ketika Ara yang tadinya hendak mengacuhkan kedua bocah tersebut, Ara yang melihat salah satu dari mereka berakhir berlarian ke arah jalanan lantas langsung panik dan juga terkejut. Belum habis keterkejutan Ara ia malah mendapati sebuah truk nampak melaju dengan kencang menuju ke arah salah satu anak laki-laki tersebut.
"Minggir lah nak jangan berada di situ.. Hei nak..." pekik Ara sambil berlarian menuju ke arah dimana bocah laki-laki itu berada.
Ara yang melihat bocah laki-laki itu dalam keadaan bahaya lantas langsung berlarian dengan langkah kaki yang bergegas mendekat ke arah di mana bocah laki-laki itu berada, dengan spontan tanpa memikirkan dirinya sendiri Ara menarik tangan bocah laki-laki itu agar segera pergi dari sana. Hanya saja ketika ia hendak ikut berlari pergi bersama bocah laki-laki itu, kantong kresek yang berisi cumi-cumi favorit milik Airin lantas jatuh ke jalanan membuat Ara langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika.
"Tidak bisa.. Airin akan sedih jika aku tidak membawa makanan tersebut." ucap Ara sambil berlarian berusaha untuk mengambil kantong kresek tersebut.
__ADS_1
Hanya saja sayangnya Ara yang berhasil menyelamatkan kantong kresek tersebut nyatanya belum tentu berhasil menyelamatkan dirinya sendiri. Tepat ketika Ara hendak bangkit dari sana, truk yang tadinya hendak menabrak bocah laki-laki itu lantas langsung menghantamnya dengan keras hingga tubuhnya terpental sejauh beberapa meter dari tempatnya semula.
Bugh...
"Ai...rin..." ucap Ara sebelum pada akhirnya menutup matanya dengan kondisi tubuh yang bersimbah darah.
***
Di saat Airin memeluk tubuh Ibunya dengan erat ada sebuah perasaan aneh yang mendadak merasuk di dalam dirinya. Airin yang jelas tahu perasaan apa ini karena ia selalu mengalaminya setiap waktu ketika bersama dengan roh-roh yang selalu menakuti dan juga mengincar dirinya, saat ini ia merasakan hal tersebut tepat ketika ia memeluk tubuh ibunya dengan sangat erat. Airin yang semula menutup matanya perlahan-lahan lantas langsung membuka kelopak matanya dengan spontan.
Ketika menyadari ada sesuatu yang salah, Airin mulai melepaskan pegangan tangannya yang ia eratkan tepat diantara perut Ibunya dan mulai melangkahkan kakinya mundur secara perlahan seakan terkejut akan apa yang baru saja ia rasakan saat ini.
Mendengar hal tersebut lantas langsung menghentikan gerakan tangan Ibunya yang sedari tadi terlihat sibuk memotong sayuran. Ibunya nampak diam termenung sambil tetap menatap lurus ke arah depan, membuat Airin yang melihat Ibunya seperti itu semakin yakin jika seseorang yang saat ini berada di depannya bukanlah ibunya melainkan roh Ibunya.
Setetes air mata nampak mulai jatuh membasahi pipinya ketika ia tak membayangkan jika yang saat ini berada di hadapannya adalah roh atau arwah Ibunya yang telah tiada.
"Ba...bagaimana bisa Bu..?" ucap Airin dengan nada yang sendu, membuat sosok tersebut nampak perlahan-lahan mulai berbalik badan menatap ke arah putrinya.
Tetesan air mata terus menetes secara perlahan dari kelopak mata Airin saat itu ketika mendapati tubuh Ibunya yang berbalik badan dan menatap keadaannya dalam kondisi yang sudah hancur. Setengah bagian Ibunya benar-benar bersimbah darah dengan beberapa luka seperti habis tertabrak sesuatu benda yang besar.
"Bu..." panggil Airin dengan mada yang bergetar hebat.
__ADS_1
Namun sosok tersebut yang melihat Airin yang seperti terkejut menatap ke arahnya, lantas mulai meneteskan air matanya dengan perlahan.
"Kamu benar-benar bisa melihat sosok arwah nak? Ibu.. Ibu bahkan sempat tak percaya kepadamu. Disaat kamu kecil dan terus menangis ketika mengatakan ada sesuatu yang tinggi besar di sudut kamar mu, Ibu selalu saja terdiam tanpa mencoba untuk memahami dirimu. Ibu... Ibu benar-benar minta maaf nak..." ucap sosok Ibunya dengan tangis yang tak lagi bisa terbendung.
Nyatanya apa yang dulu sama sekali Ara tak percayai kini ia baru mengetahui jika Airin benar-benar mengalaminya. Ara benar-benar tidak menyangka jika ia akan membuktikannya dengan cara seperti ini.
"Ap..a yang terjadi kepadamu Bu?" ucap Airin sambil menatap dengan manik mata yang berkaca-kaca.
"Ibu.. Ibu hanya mencoba untuk menolong seorang bocah laki-laki dan juga makanan kesukaan mu, tapi ketika Ibu hendak bangkit sebuah truk menabrak Ibu dengan kencang nak, bukankah Ibu begitu bodoh?" ucap sosok tersebut sambil mencoba untuk tertawa dan menghibur Airin, namun nyatanya hal itu sama sekali tidak membuat Airin tertawa namun malah menangis dengan tersedu.
"Lalu dimana jasad Ibu sekarang?" tanya Airin kemudian.
"Di jalan dekat stasiun kereta api!" ucap sosok Ara dengan tersenyum sendu.
Mendengar lokasi tempat di mana tubuh Ibunya berada langsung membuat Airin berlarian menuju ke arah sana. Bagaimana pun juga Airin harus pergi ke sana dan melihat langsung apa yang terjadi kepada Ibunya.
Dengan langkah kaki yang lebar Airin mulai berlari dan terus berlari keluar dari unit Apartemennya, membuat Luke yang saat itu baru saja keluar dari unit Apartemennya, lantas terkejut akan Airin yang mendadak berlarian dengan kencang.
"Apa yang terjadi?"
Bersambung
__ADS_1