Tetangga Baruku Vampir?

Tetangga Baruku Vampir?
Melewati kejamnya dunia ini


__ADS_3

Keesokan paginya


Sinar mentari yang menembus celah-celah ventilasi udara unit Apartemennya, lantas membuat Airin terlihat mulai mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali. Seulas senyum terlihat jelas terlukis indah di wajah bantalnya pagi itu, ketika Airin merasakan kenyamanan yang begitu terasa melekat di pagi harinya saat ini. Bantalan empuk yang berada tepat di bawah kepalanya, benar-benar membuatnya begitu nyaman hingga tak sadar tertidur cukup lama di sana.


"Ah nyaman sekali..." ucap Airin sambil mulai meraba area depannya namun masih sambil menutup matanya.


Sampai kemudian ketika Airin merasa ada yang aneh dengan bantalan yang baru saja terasa begitu nyaman untuknya. Lantas membuat Airin mulai bangkit dari posisinya dan mencoba untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Sampai kemudian bola mata Airin langsung membulat dengan seketika, begitu Airin mendapati jika Luke tengah berbaring dengan pulas di sebelahnya saat ini. Mendapati hal itu membuat Airin yang melihat kehadiran Luke di sampingnya, lantas dengan spontan menutup mulutnya dengan rapat agar tidak mengeluarkan suara apapun di sana.


"Bagaimana mungkin... Sejak kapan dia di sini? Mengapa... Mengapa aku tidak menyadarinya sama sekali?" ucap Airin dalam hati sambil menatap tak percaya pada pemandangan di hadapannya saat ini.


Di saat Airin tengah kebingungan akan apa yang terjadi saat ini, sebuah ingatan lantas mendadak terlintas begitu saja di kepalanya saat itu. Entah antara sadar dan tidak sadar, Airin teringat ketika malam itu bagaimana ia menarik tangan Luke agar tidak beranjak pergi dari tempat tidurnya saat itu.


Luke yang tadinya hanya duduk di pinggir sambil memegang tangannya dengan erat sekan berusaha untuk menenangkan dirinya, mendadak ia tarik dan mulai naik ke atas ranjang untuk tidur bersama dengannya dalam posisi yang berpelukan.


Airin yang mengingat dengan jelas ingatan tersebut, lantas langsung memejamkan matanya sambil terus merutuki kebodohannya. Airin yang sedang larut dalam kesedihan, sepertinya mengigau dan tanpa sadar menarik Luke yang kebetulan sedang berada di sana untuk menjadi pelipur lara hatinya.


"Airin mengapa kau bodoh sekali sih? Bagaimana kau punya muka untuk menghadapi Luke coba? Ah benar-benar menyebalkan!" gerutu Airin pada diri sendiri seakan terus merutuki kebodohannya yang tidak berkesudahan itu.

__ADS_1


Di saat Airin tengah sibuk merutuki kebodohannya sendiri sebuah gerakan kecil yang berasal dari Luke, lantas membuat Airin terkejut dengan seketika. Airin yang tidak tahu harus melakukan apa di saat-saat seperti ini, lantas kembali merebahkan kepalanya di lengan Luke dan mulai memejamkan matanya secara paksa seakan tengah berpura-pura untuk tidur.


Sementara itu Luke yang baru saja terbangun dari tidurnya, kemudian mulai meregangkan otot-ototnya secara pelan. Ditariknya dengan pelan tangan miliknya yang di gunakan sebagai sandaran untuk Aruna tidur semalam. Awalnya memang Luke tidak berniat untuk tinggal, namun ketika melihat kondisi Airin yang seperti itu. Pada akhirnya membuat Luke memilih untuk tinggal dan menjaga Airin di sini, tanpa sadar jika ia malah ketiduran dan berakhir di ranjang Airin seperti ini.


"Ah mengapa aku bisa berakhir di sini?" ucap Luke sambil mengusap area tengkuknya dan mengambil posisi duduk sebentar.


Airin yang penasaran nampak mulai mengintip dalam posisinya. Rasa malunya saat ini benar-benar besar sekali, membuat Airin tidak tahu lagi harus menghadapi Luke seperti apa saat ini.


Setelah melakukan peregangan otot sebentar Luke lantas menoleh ke arah Airin, yang langsung membuat Airin menutup kelopak matanya dengan sempurna. Ditatapnya raut wajah Airin dengan tatap yang intens, namun ketika ia menyadari sesuatu saat ini seulas senyum lantas terlihat jelas terbit dari wajahnya saat itu.


"Dia sedang berpura-pura tidur rupanya..." ucap Luke dalam hati ketika mendapati kelopak mata Airin yang bergerak-gerak.


"Apa yang kamu lakukan? Sakit tahu!" pekik Airin sambil langsung bangkit dari posisinya.


"Siapa yang menyuruh mu untuk berakting tidur seperti itu? Apa kau pikir ini adalah dongeng Putri salju? Tentu saja bukan karena tidak ada Putri salju seburuk kau!" ucap Luke dengan nada yang menyindir Airin.


Sedangkan Airin yang mendengar perkataan dari Luke barusan, tentu saja manik matanya langsung membulat dengan seketika. Bagaimana mungkin ia mengatakan jika dirinya adalah Putri salju terburuk? Tidakkah Luke terlalu berlebihan dalam membuat sebuah perbandingan?


"Bagaimana bisa kamu mengatakan hal tersebut dengan begitu entengnya? Dasar Pria!" ucap Airin dengan nada yang terdengar ketus, membuat Luke langsung mengernyit dengan seketika.

__ADS_1


"Apa hubungannya antara perkataanku dengan seorang Pria? Bukankah perbandingan itu terlalu berlebihan?" ucap Luke kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


"Itulah yang ku maksud tadi, perbandingan mu yang tidak masuk akal tadi sama dengan apa yang aku katakan barusan. Jadi bukankah sekarang kita satu sama?" ucap Airin dengan tertawa kecil ketika mendapati raut wajah Luke yang aneh.


Luke terdiam di tempatnya disaat melihat Airin yang tengah tertawa kecil saat ini. Luke yang tadinya hendak marah karena perkataan dari Airin barusan, melihat tawa kecil yang menghiasi wajah cantik Airin lantas langsung terdiam seketika.


"Ini baru Airin yang usil dan juga ceria, jangan menangis lagi karena aku tidak menyukainya. Setiap kehidupan selalu memiliki cobaan dan rintangannya sendiri-sendiri, jadi aku harap dengan kepergiannya Ibu mu bisa membuat mu lebih dewasa lagi, bukan malah terpuruk akan keadaan." ucap Luke kemudian yang lantas membuat tawa Airin langsung terhenti seketika.


Mendengar hal tersebut membuat Airin lantas langsung menata ke arah Luke dengan tatapan yang menelisik. Entah mengapa ketika mendengar perkataan dari Luke barusan, hatinya merasa sedikit lebih tenang. Nyatanya Airin lagi dan lagi kembali terpukau akan sosok Vampir di hadapannya saat ini.


"Sepertinya Vampir yang satu ini tidaklah buruk." ucap Airin dalam hati sambil mulai mengulum senyum menatap ke arah Luke saat itu.


"Kamu benar, Ibu bahkan juga mengatakan hal yang sama dan aku rasa kini saatnya aku kembali dengan ceria. Bukankah sebuah kematian wajar pada setiap diri manusia? Meski terasa begitu sulit namun aku akan berusaha untuk mencobanya. Jadi maukah kamu membantu ku untuk melewati hari-hari ku?" ucap Airin kemudian dengan nada yang menggantung sambil menatap ke arah Luke dengan penuh harap.


"Tentu saja, aku akan selalu ada untuk mu dan membantu mu melewati kejamnya dunia ini!" ucap Luke kemudian yang seakan menyetujui permintaan dari Airin barusan.


"Dasar..."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2