
Di sebuah tempat yang terletak di salah satu rumah susun di daerah Ibu kota, terlihat seorang wanita nampak meletakkan kepalanya di atas meja dengan raut wajah yang frustasi. Pikirannya saat ini bahkan benar-benar buntu ketika harus memikirkan segala sesuatu tentang naskah miliknya yang akan terbit minggu ini.
Sebuah pemikiran perasaan yang bersalah nampak mendadak timbul di kepalanya saat ini. Naskah tersebut bukanlah sebuah karya orisinilnya, ia bahkan tidak benar-benar yakin jika naskah itu akan booming hingga di terbitkan. Helaan napas terdengar dengan jelas berhembus dari mulutnya ketika ia mengetahui hal tersebut. Sampai kemudian dengan perlahan ia nampak mengangkat kepalanya dan menatap kosong ke arah depan.
"Sepertinya aku harus menemui Fahri, aku yakin ia pasti akan mengerti dan mendukungku ketika aku mengatakan sesuatu tentang naskah tersebut." ucap wanita tersebut yang tak lain adalah Kia, salah seorang penulis di Perusahaan penerbitan Alaska.
Setelah membuat keputusan pada akhirnya Kia memilih untuk bangkit dan mulai membawa langkah kakinya turun ke lantai dua dimana Fahri tinggal untuk meminta ijin kepadanya tentang naskah itu.
**
Lantai dua
Di depan pintu unit milik Fahri ,terlihat Kia tengah menatap lurus ke arah pintu tersebut. Sambil mulai menarik napasnya dalam-dalam Kia lantas mengetuk pintu tersebut dengan perlahan. Ada perasaan khawatir yang menyelimuti dirinya ketika tangannya mulai mengetuk pintu tersebut.
Krieettt
Sebuah suara pintu yang terbuka secara perlahan, lantas membuat Kia mengernyit dengan tatapan yang bingung. Kia yang melihat pintu terbuka dengan sendirinya tentu saja langsung menyembulkan kepalanya untuk melihat keadaan di dalam rumah Fahri saat itu.
"Mengapa gelap sekali? Apakah Fahri tidak ada di rumah? Jika ini masalah listrik harusnya sih tidak, di lantai rumah ku bahkan semuanya normal tak ada satupun yang mati!" ucap Kia sambil mulai membawa langkah kakinya memasuki area rumah Fahri.
Kondisi rumah Fahri saat itu benar-benar gelap, membuat Kia lantas berusaha mencari ponselnya untuk menyalakan senter dan melihat keadaan sekitar.
Sebuah suara yang lantas terdengar merambat di belakangnya, membuat Kia yang semula fokus hendak menyalakan senter di ponsel miliknya dengan spontan berbalik badan untuk melihat suara apa barusan.
"Mengapa tiba-tiba bulu kuduk ku jadi berdiri?" ucap Kia sambil mengedarkan pandangannya ke area sekitar.
Kia yang begitu penasaran akan suara berisik tak beraturan di sekitarnya, lantas mulai mengarahkan senter pada ponselnya ke area sekitar. Hanya ketika senter tersebut menghadap tepat ke arah depan sesuatu yang besar nampak melesat dengan kencang dan langsung menyergapnya, membuat Kia yang tak bersiap akan serangan tersebut tentu saja terkejut bukan main.
"Aaaaa" pekik Kia dengan spontan karena terkejut akan sesuatu yang melayang ke arahnya dengan tiba-tiba.
__ADS_1
***
Perusahaan penerbitan Alaska
Setelah dari ruangan Pimpinan Redaksi, Airin keluar dengan mulut yang mengomel. Tugas ini padahal jelas-jelas sudah ia limpahkan kepada Ilham, namun dengan tiba-tiba Daniel malah menyuruhnya untuk menangani tentang hal ini. Sambil mengambil beberapa barang dan juga tas miliknya, Airin mulai membawa langkah kakinya berlalu pergi dari sana dengan raut wajah yang cemberut.
"Mau kemana kamu di jam kerja begini?" tanya Bella dengan raut wajah yang penasaran ketika tak sengaja berpapasan dengan Airin yang sudah bersiap untuk pergi.
"Menjalankan tugas baru menemui author Kia!" ucapnya dengan nada yang ketus sambil berlalu pergi meninggalkan Bella.
"Bukankah naskah author Kia sudah kamu serahkan kepada Ilham?" tanya Bella dengan nada yang sedikit meninggi, membuat langkah kaki Airin terhenti dengan seketika begitu mendengar perkataan dari Bella barusan.
"Jangan tanyakan apapun karena aku malas membahasnya, tanyakan saja pada Pimpinan redaksi yang baru itu!" ucap Airin kemudian dengan nada yang malas sebelum pada kahirnya berlalu pergi dari sana.
Bella yang mendengar perkataan dari Airin barusan hanya terdiam sambil menatap bingung ke arahnya. Entah apa yang terjadi kepada Airin saat ini tapi yang jelas jika melihat dari raut wajah Airin yang seperti itu pasti saat ini dia sedang sangat kesal.
**
Area luar gedung Penerbitan Alaska
Airin yang saat itu hendak menghentikan taksi, lantas di kejutkan dengan sebuah mobil berwarna silver yang berhenti tepat di hadapannya saat ini, membuat Airin yang tak mengenali pemilik dari mobil tersebut hanya menatapnya dengan tatapan yang bingung dan juga penasaran.
Kaca mobil tersebut perlahan-lahan nampak turun dan memperlihatkan si pengemudi, membuat Airin yang bisa melihat dengan jelas jika si pengemudi itu adalah Daniel, lantas terlihat memutar bola matanya dengan jengah.
"Masuklah aku akan mengantar mu ke tempat Kia!" ucap Daniel kemudian yang lantas membuat Airin langsung mengernyit dengan seketika.
"Maaf aku sedang tidak ingin menumpang!" jawab Airin dengan ketus sambil mulai menatap ke arah sekeliling mencoba mencari taksi di sana.
"Jika kamu tidak masuk maka aku yang akan membuat mu masuk ke dalam! Apa kau ingin aku melakukan hal itu agar semua karyawan mengetahuinya?" ucap Daniel lagi namun kali ini dengan nada yang mengancam.
__ADS_1
Airin yang mendengar hal tersebut tentu saja langsung menatap tajam ke arah Daniel kemudian dengan perlahan mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil, namun sambil menutup pintu mobil dengan keras membuat Daniel langsung berganti menatapnya dengan tatapan yang tajam.
"Sudah, apakah kau sudah puas saat ini?" ucap Airin dengan raut wajah yang kesal.
"Tentu saja Nona..." jawab Daniel kemudian sebelum pada akhirnya melajukan mobilnya pergi meninggalkan pelataran Alaska.
**
Kediaman Lisa
Luke yang mendapat panggilan dari Lisa siang itu lantas terlihat melangkahkan kakinya masuk semakin dalam ke area kediaman Lisa. Entah apa yang membuat lisa memanggilnya secara mendadak, yang jelas Luke juga penasaran akan hal tersebut.
Luke yang melihat Lisa tengah duduk sambil menikmati secangkir teh di area meja makan, lantas terlihat mulai membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana Lisa berada.
"Apa kau tahu jika ada yang terjadi di kota semalam?" tanya Lisa kemudian dengan tatapan yang tajam mengarahkan ke arah Luke saat itu.
"Apakah ini soal Arga dan para pengikutnya?" tanya Luke kemudian mencoba untuk menebak segala situasinya.
Mendengar tebakan dari Luke barusan lantas membuat Lisa langsung tersenyum dengan simpul kemudian meletakkan cangkir miliknya di atas meja makan.
"Semalam kelompok Arga kembali membuat onar dan menggigit penduduk kota. Hanya saja apa yang mereka lakukan bukanlah untuk melanjutkan hidup melainkan untuk menambah pengikut." ucap Lisa kemudian mulai menjelaskan.
"Kelakuannya benar-benar memalukan bangsa Vampir." ucap Luke dengan nada yang datar.
"Karena kamu sudah mengetahuinya, maka aku punya tugas baru untuk mu!" ucap Lisa sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Tugas apa itu?"
Bersambung
__ADS_1