
Keesokan paginya
Di unit Apartemen Luke tepatnya di area kamar mandi, terlihat Luke tengah mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali. Rasa panas dan juga perasaan yang nyeri yang menjalar di bagian lehernya sudah terasa sedikit lebih berkurang, membuatnya perlahan-lahan lantas mulai bangkit sambil bertumpu pada wastafel yang terletak di sebelah kanannya.
"Benar-benar sialan, bagaimana bisa aku tidak mengetahui makanan apa yang tengah di suapkan oleh Airin semalam?" ucap Luke sambil mengusap area lehernya yang terasa sedikit sakit.
***
Unit Apartment Airin
Dari arah dapur terlihat Airin tengah membawa sepiring sandwich dengan satu gelas susu menuju ke arah depan televisi. Pagi ini adalah hari weekend dan Airin ingin menikmatinya dengan menonton siaran berita ataupun drama dan sejenisnya. Airin mendudukkan pantatnya tepat di sofa ruang menontonnya dengan raut wajah yang gembira Airin kemudian mulai meletakkan sepiring sandwich tersebut ke atas meja ruangan tersebut, ditekannya tombol on pada remote yang saat ini berada di tangannya membuat sebuah gambar nampak terlihat muncul dari layar televisi saat itu.
Sambil menyantap sepotong sandwich miliknya Airin menatap setiap berita yang di sajikan pagi itu, sampai kemudian ketika siara berita menyiarkan tentang penemuan seorang mayat, Airin tanpa sadar langsung menjatuhkan sandwich nya hingga berserakan di lantai.
"Telah ditemukan seorang mayat wanita kisaran umur tiga tahunan dengan luka di area lehernya seperti gigitan sesuatu, diperkirakan..."
Mendengar berita tersebut tentu saja langsung membuat Airin terkejut dengan seketika. Pikiran Airin mendadak melayang memutar kembali ingatan tentang Luke yang kemarin mengeluarkan taringnya dan mengerang kesakitan di area kamar mandinya semalam.
Mengingat hal tersebut lantas membuat Airin langsung bangkit dari tempat duduknya dan berlarian keluar menuju ke area unit Apartment, Luke untuk memastikan segalanya tanpa meneruskan terlebih dahulu siaran berita tersebut, membuat Airin yang tidak mengetahui dengan jelas tentang kabar berita tersebut malah langsung mencernanya secara bulat-bulat tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu.
Dengan langkah kaki yang bergegas tanpa mencari tahu segala sesuatunya secara mendetail, Airin lantas melangkahkan kakinya begitu saja dengan langkah kaki setengah berlari keluar dari unit Apartemennya dan berhenti tepat di pintu unit Apartemen milik Luke. Tanpa membuang waktu lagi Airin mengetuk pintu unit Apartment tersebut berulang kali tanpa jeda, membuat Luke yang baru saja pulih dari rasa terbakar di area lehernya, lantas langsung melangkahkan kaki dengan bergegas menuju ke arah pintu.
__ADS_1
Cklek...
"Apa yang kau lakukan ha? Apa kau pagi-pagi gini sama sekali tidak ada kerjaan?" ucap Luke dengan nada yang kesal sambil sesekali mengusap area lehernya.
"Katakan padaku kamu pasti sudah menghisap darahnya sampai habis bukan? Kau benar-benar Vampir keterlaluan!" ucap Airin dengan nada yang meninggi.
Mendengar tuduhan dari Airin barusan tentu saja langsung membuat Luke terkejut bukan main, Luke bahkan benar-benar tidak mengerti bagaimana caranya Airin bisa tahu jika dia adalah seorang Vampir. Dan lebih parahnya lagi Airin malah menuduhnya telah menghabisi nyawa seseorang padahal ia tidak melakukan apapun semalam.
"Apa yang kau katakan sebenarnya?" ucap Luke dengan tatapan yang bertanya-tanya.
"Kau jangan menipu ku lagi! Aku tahu segalanya, jika kau adalah seorang Vampir!" ucap Airin dengan nada penuh penekanan sambil menunjuk tepat ke arah Luke.
Luke yang bingung akan sikap Airin yang tiba-tiba menodongnya seperti ini, lantas menarik tangan Airin agar masuk ke dalam unit Apartemennya dan menutup pintunya dengan rapat. Disudutkan nya tubuh Airin tepat ke arah pintu unit Apartemennya, membuat Airin yang mendapat serangan secara mendadak tentu saja terkejut bukan main.
"Aaaapa yang kau lakukan? Apa kau ingin menggigit leher ku juga?" ucap Airin dengan nada yang gemetaran.
Seulas senyuman tipis nampak terlihat terbit dari wajah Luke ketika mendengar nada bicara Airin yang sedikit gemetaran itu.
Luke yang mendengar perkataan dari Airin barusan lantas semakin mendekatkan kepalanya ke arah leher Airin, membuat Airin langsung menegang dengan seketika karena mengira bahwa Luke akan benar-benar menghisap darahnya. Hingga membuat Airin dengan spontan menutup matanya karena takut akan hal tersebut.
Luke yang mengetahui hal tersebut lantas langsung kembali tersenyum dan menghentikan gerakannya tepat di sebelah telinga Airin kemudian membisikkannya sesuatu.
__ADS_1
"Apa kau takut? Bukankah kau tadi sedang menantang ku?" ucap Luke dengan nada yang berbisik membuat Airin langsung membuka matanya dengan lebar.
"Apa yang sebenarnya telah kau lakukan hah?" ucap Airin kemudian sambil mendorong tubuh Luke dengan kuat namun sayangnya sama sekali tidak membuat tubuh Luke bergeser dari hadapannya.
Luke yang terus merasakan pemberontakan yang berasal dari Airin, lantas langsung melangkahkan kakinya mundur secara perlahan dan melepaskan tubuh Airin dari cengkraman nya. Ditatapnya Airin dengan tetapan yang menelisik, membuat Airin lantas menjadi salah tingkah dan sedikit merasa khawatir akan tatapan dari Luke barusan.
"Aku memanglah seorang Vampir, apa kau puas?" ucap Luke dengan nada yang terdengar datar namun berhasil membuat Airin terkejut dengan seketika.
"Apa?" ucap Airin yang seakan tidak terlalu percaya meski ia tadi juga menuduhkan hal yang sama kepada Luke.
"Tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku tidak menghabisi nyawa siapapun! Kau kira Vampir di masa ini sama dengan Vampir di masa lalu?" ucap Luke dengan nada yang kesal.
"Bukankah Vampir memang menghisap darah untuk bertahan hidup?" ucap Airin dengan raut wajah yang bingung.
Di saat rasa kebingungan sedang melanda dirinya saat ini karena perkataan Luke barusan. Sebuah deringan ponsel miliknya lantas langsung membuyarkan segala pembicaraan yang terjadi diantara keduanya. Airin yang melihat nomor polisi tertera dengan jelas di layar ponselnya, setelah sebelumnya ia sempat melapor tentang seseorang yang berkemungkinan menjadi pembunuh dari mayat yang ada di berita pagi hari ini. Lantas langsung membuat Airin menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya dan langsung menerima panggilan tersebut.
"Maaf kami ingin memberitahukan bahwa setelah hasil otopsi keluar beberapa menit yang lalu, kematian wanita itu disebabkan oleh gigitan ular berbisa jadi tentang pembunuh yang kamu katakan, apa kamu sudah benar-benar memastikannya? Jika ia maka kami akan langsung meluncur kesana dan melakukan penangkapan." ucap polisi tersebut di seberang sana.
"Se...sepertinya tidak perlu Pak, maaf jika saya telah menimbulkan kekacauan." ucap Airin kemudian sambil menurunkan ponsel miliknya secara perlahan.
"Bagaimana? Apa kamu mau menjadi korban ku selanjutnya?" ucap Luke dengan senyum yang menyeringai.
__ADS_1
"Aaaaa"
Bersambung.