
"Karena kamu sudah mengetahuinya, maka aku punya tugas baru untuk mu!" ucap Lisa sambil bangkit dari tempat duduknya.
Mendengar sebuah perintah keluar dari mulut Lisa lantas membuat Luke mengernyit dengan seketika. Ini adalah pertama kalinya Lisa memberikan tugas untuknya setelah sekian lama Luke hidup dalam ketenangan.
"Tugas apa itu?" ucap Luke kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
"Musnahkan pengikut baru Arga, aku yakin ia masih berkeliaran di tempatnya saat ini. Sebelum semuanya menjadi terlambat dan memakan korban yang baru, aku ingin kamu segera memusnahkannya!" ucap Lisa kemudian.
***
Di sebuah rumah susun yang terletak di Ibukota, terlihat Airin dan juga Daniel mulai melangkahkan kakinya turun dari dalam mobil menuju ke arah lobi rumah susun tersebut.
Sebuah hawa yang tidak enak mendadak terasa dan menimbulkan situasi yang berbeda dalam diri Daniel saat itu, membuatnya sedikit berjaga jika nantinya ada sesuatu yang terjadi tanpa ia diinginkan.
"Ada yang aneh di tempat ini, hanya saja aku belum bisa memastikannya." ucap Daniel sambil mengedarkan pandangannya ke area sekitar.
Airin yang sedari tadi melangkahkan kakinya sambil mencari ponsel miliknya di tas, lantas langsung menghentikan langkah kakinya begitu tidak melihat keberadaan Daniel di sampingnya. Airin yang tak mendapati Daniel berjalan di sebelahnya lantas langsung berbalik badan untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh Daniel saat ini.
"Apa yang kamu lakukan pak? Tidakkah kita harus cepat? Atau anda ingin pulang kembali ke kantor saja?" ucap Airin dengan nada yang menyindir, lagi pula ikut dengannya ke lapangan adalah ide dari Daniel, jadi sudah menjadi konsekuensinya sendiri bukan?
Daniel yang mendengar perkataan dari Airin barusan langsung tersadar dari konsentrasinya. Aura yang baru saja ia cium, mendadak menghilang dengan seketika tertutup dengan aroma darah suci yang begitu pekat walau ia sama sekali tak tergores apapun.
"Baiklah.. Baiklah aku datang..." ucap Daniel kemudian dengan raut wajah yang malas sambil mulai membawa langkah kakinya untuk berlalu pergi dari sana.
Keduanya kemudian lantas mulai melangkahkan kakinya memasuki area rumah susun tersebut. Airin dan juga Daniel nampak melangkahkan kakinya menaiki satu persatu anak tangga menuju ke arah unit rumah susun dimana Kia berada.
__ADS_1
Keduanya kemudian menghentikan langkah kaki mereka setelah melewati beberapa pintu yang berjajar di lantai tersebut.
"Apa kamu yakin ini tempatnya?" tanya Daniel kemudian sambil menunjuk ke arah pintu unit rumah susun yang berada di hadapannya.
"Harusnya sih iya, aku yakin tidak salah nomer. Tapi tunggu dulu.. Dimana naskahnya?" ucap Airin kemudian yang baru sadar jika naskah tersebut tidak berada di tangannya.
Mendengar perkataan Airin yang mencari naskah tentu saja membuat Daniel langsung mengernyit dengan seketika.
"Bukankah sedari tadi ada bersama mu?" ucap Daniel kemudian.
"Ah.. Sepertinya tertinggal di dalam mobil, aku akan mengambilnya sebentar!" ucap Airin kemudian yang baru mengingat akan dokumen berisi naskah yang ia tinggalkan di mobil tadi.
Airin yang mengingat jika ia meninggalkan naskahnya di mobil, lantas langsung hendak melangkahkan kakinya menuju ke arah mobil untuk mengambil naskah tersebut. Hanya saja sebuah panggilan yang berasal dari Daniel saat itu, lantas langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika. Airin yang mendengar panggilan tersebut tentu saja langsung berbalik badan dan menatap ke arah Daniel dengan tatapan yang bertanya akan alasan mengapa Daniel memanggil namanya.
"Ada apa?" tanya Airin dengan raut wajah yang penasaran.
"Sungguh? Kau benar-benar ingin mengambilkannya untuk ku?" ucap Airin dengan senyuman yang lebar.
"Berhenti melakukan itu karena ekspresi wajah mu membuatkan enek!" ucap Daniel sambil mengacak-acak rambut Airin saat itu, sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan Airin yang masih tersenyum seperti orang yang bodoh.
"Dia lumayan juga, setidaknya masih berhati dan punya rasa kemanusiaan." ucap Airin pada diri sendiri sambil menatap kepergian Daniel dari sana.
Setelah melihat kepergian Daniel dari sana, Airin kemudian memutuskan untuk kembali menuju ke arah pintu rumah milik Kia. Diketuknya pintu rumah Kia secara perlahan namun dengan beraturan selama beberapa kali, hanya saja meski beberapa kali Airin mengetuk sayangnya sama sekali tidak ada jawaban apapun dari dalam rumah Kia. Airin berdecak dengan kesal ketika tak mendapati jawaban apapun dari dalam sana.
"Apakah Kia tengah tidur atau keluar ya? Mengapa tidak ada jawaban sama sekali?" ucap Airin pada diri sendiri sambil menatap ke arah pintu tersebut dengan tatapan yang menelisik.
__ADS_1
Airin yang tak mendapati jawaban apapun dari Kia kemudian langsung kembali mengetuk pintu rumah Kia, namun kali ini dengan ketukan yang lebih keras.
Sampai kemudian ketika Airin yang sedari tadi terus mengetuk pintu rumah Kia, perlahan-lahan pintu rumah tersebut mendadak terbuka dengan sendirinya, membuat Airin yang melihat hal tersebut lantas langsung menghentikan gerakannya dan menatap ke arah pintu yang terbuka dengan sendirinya itu.
"Permisi... Apakah kamu ada di dalam author Kia? Permisi..." ucap Airin kemudian sambil menyembulkan kepalanya melalui celah pintu.
Tak mendapat jawaban apapun dari Kia, lantas membuat Airin memutuskan untuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Airin takut jika sesuatu terjadi kepada Kia sehingga membuatnya tidak bisa menjawab panggilannya.
**
Suasana area dalam rumah Kia begitu gelap tanpa ada penerangan cahaya apapun, membuat Airin yang kesulitan untuk melihat bagian dalam rumah kemudian mulai meraba area tembok dan mencari saklar lampu di area tersebut.
Cetak...
Lampu ruangan tersebut menyala dengan terang, membuat Airin lantas tersenyum dengan simpul ketika berhasil menyalakan lampu ruangan tersebut yang padahal sedari tadi begitu sulit untuk Airin gapai.
"Permisi..." ucap Airin lagi sambil mulai mengedarkan pandangannya ke area sekitaran.
Airin yang tak kunjung menemukan Kia lantas hendak menelpon Kia di sana. Hanya saja pandangannya terhenti pada sosok seseorang yang nampak berjongkok di sudut ruangan tersebut yang tentu saja mengejutkan Airin saat itu juga.
"Siapa di sana!" pekik Airin yang terkejut akan sosok seseorang di sudut ruangan tersebut.
Mendengar sebuah suara yang mengganggu dirinya lantas sosok tersebut perlahan-lahan mulai bangkit dari posisinya, membuat Airin semakin merasa penasaran akan sosok tersebut yang tak kunjung berbalik badan dan menatap ke arahnya. Sampai kemudian ketika tubuh sosok tersebut berbalik badan, betapa terkejutnya Airin dengan apa yang baru saja ia lihat tepat dihadapannya saat ini.
"Apa yang terjadi kepada mu?" pekik Airin dengan raut wajah yang terkejut sekaligus ngeri bercampur menjadi satu.
__ADS_1
Bersambung