Tetangga Baruku Vampir?

Tetangga Baruku Vampir?
Ada sesuatu yang aneh


__ADS_3

Ruangan Dr. Natan


Di ruangannya, saat ini terlihat Natan tengah menatap kosong ke arah dinding bercat warna putih di sana. Pikiran Natan benar-benar melayang membayangkan segala hal yang telah terjadi kepadanya hari ini. Natan benar-benar yakin jika Airin saat itu tengah dalam kondisi yang kritis dan membutuhkan transfusi darah dengan segera, namun dalam beberapa menit setelahnya ketika ia berbalik untuk kembali memeriksa keadaan Airin saat itu. Anehnya Airin sudah dalam posisi yang sadar dan dengan keadaan kondisi tubuh yang sehat seakan tidak ada apapun yang terjadi kepadanya saat itu, membuat Natan lantas menjadi kebingungan akan apa yang sebenarnya terjadi.


Natan mengetuk-ketukan jari tangannya beberapa kali ke meja baru setelah itu menghela napasnya dengan panjang. Entah mengapa dipikirkan sebagaimana pun nyatanya apa yang terjadi pada Airin sama sekali tidak masuk akal baginya.


"Tidak mungkin aku salah mendiagnosa saat itu, aku benar-benar yakin akan diagnosa ku. Lagi pula ini bukanlah pertama kalinya aku mendapat pasien dan baru kali ini aku mengalami kejadian seperti ini. Dimana letak salahnya sebenarnya, mengapa aku merasa ini aneh sekali?" ucap Natan kemudian dengan raut wajah yang penuh kebingungan.


Tok tok tok


Suara pintu yang di ketuk dari luar lantas membuyarkan lamunan Natan dengan seketika.


"Masuk" ucap Natan kemudian yang mendengar pintu ruangannya di ketuk oleh seseorang dari luar.


Tak berapa lama terlihat seorang suster mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Natan dan menghentikan langkah kakinya tepat di meja Natan.


"Ini adalah laporan data pasien Airin yang anda minta rekapannya, apakah ada sesuatu Dok?" ucap seorang perawat tersebut dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah Natan saat ini.


Ini adalah pertama kalinya Natan meminta data rekapan pasien yang sudah keluar dari Rumah sakit ini, sehingga membuat perawat tersebut sedikit bertanya-tanya apa yang ingin Natan lakukan dengan data tersebut. Sedangkan Natan yang mendengar perkataan perawat itu, lantas langsung menerima dokumen yang di bawa oleh perawat tersebut kemudian membukanya dengan segera.

__ADS_1


"Tidak ada, aku hanya ingin mempelajari sesuatu.. Terima kasih banyak kamu sudah boleh pergi sekarang." ucap Natan kemudian yang lantas membuat perawat tersebut menghela napasnya dengan panjang karena tidak mendapat jawaban yang jelas dari pertanyaannya barusan.


"Baiklah" ucap perawat tersebut pada akhirnya sebelum kemudian melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana meninggalkan Natan di ruangannya.


Setelah perawat tersebut meninggalkan ruangan Dr. Natan, Natan nampak mulai mempelajari setiap grafik dan juga tanda vital milik Airin sebelum dan sesudah Airin sadar. Dibaca dari sudut pandang manapun dan dari hal apapun tetap saja diagnosisnya tetap sama seperti sebelumnya, namun ketika Natan kembali menelisik grafik dan juga tanda vital milik Airin sesudah sadar. Benar-benar terlihat perubahan yang sangat drastis seakan-akan seperti sel-sel di dalam tubuh Airin bisa meregenerasi sel baru dan memperbaiki beberapa kerusakan yang terjadi dalam tubuh Airin saat itu. Membuat Natan benar-benar tidak tahu akan apa yang tengah terjadi saat ini.


Natan kembali mengetuk-ketukan jari tangannya ke meja selama beberapa kali sambil terus memikirkan segala kemungkinannya. Sampai beberapa menit kemudian Natan nampak menghela napasnya dengan panjang kemudian meletakkan lembaran kertas tersebut ke atas meja kerjanya.


"Sepertinya ada yang spesial dari gadis itu, sayang sekali aku tidak bisa mengetahui detailnya." ucap Natan kemudian sambil menghela napasnya dengan panjang.


**


Terlihat Bella tengah melangkahkan kakinya sambil memapah tubuh Airin masuk ke dalam kamarnya. Bella membatu Airin untuk bersandar di tempat tidurnya kemudian memasangkan selimut untuk Airin. Sambil memasang wajah yang sendu namun juga khawatir Bella nampak terdiam sedari tadi tanpa bertanya ataupun mengatakan hal lainnya. Membuat Airin yang menyadari akan ekspresi wajah Bella lantas menghela napasnya dengan panjang.


"Aku sungguh baik-baik saja Bel, jangan menatap ku seperti orang yang penyakitan." ucap Airin dengan nada yang sedikit kesal karena terus mendapat tatapan aneh dari Bella sedari tadi.


Mendengar hal tersebut Bella lantas mendudukkan tubuhnya di tepi kasur kemudian menatap ke arah Airin dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Apa kamu sungguh tidak apa-apa? Dokter bahkan tadi mengatakan jika... Ah sudahlah, tapi kamu benar baik-baik saja bukan? Kamu sedang tidak menipu ku saat ini bukan?" ucap Bella kemudian dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.

__ADS_1


"Ayolah Bell aku sungguh baik-baik saja, apa kamu puas?" ucap Airin sekali lagi mencoba untuk meyakinkan Bella jika dia sungguh baik-baik saja saat ini.


Bella yang kembali mendengar kata-kata tersebut keluar dari mulut Airin pada akhirnya hanya bisa mempercayai Airin. Lagi pula saat ini Bella sudah kembali melihat Airin seperti sedia kala, jadi ia rasa Airin tidak sedang membohonginya saat ini.


"Baiklah jika begitu hubungi aku apabila sesuatu terjadi kepadamu? Aku akan langsung datang ke sini. Aku minta maaf karena tidak bisa menemani mu malam ini ada beberapa hal yang harus aku urus terlebih dahulu." ucap Bella kemudian dengan raut wajah yang menyesal.


"Tak perlu khawatirkan akan hal tersebut Bel, berkendara lah dengan hati-hati dan kabari aku ketika kamu sampai di rumah." ucap Airin kemudian sambil menggenggam tangan Bella dengan erat.


"Tentu saja, aku pergi dulu." ucap Bella kemudian yang di balas Airin dengan senyuman sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan Airin agar bisa beristirahat.


Setelah kepergian Bella dari kamarnya Airin nampak terdiam sejenak. Pikirannya melayang memikirkan segala hal yang terjadi di kediaman Asti. Airin jelas tahu apa yang di lakukan oleh Luke kepadanya, namun entah mengapa Airin sama sekali tidak marah atau bahkan merasa takut akan sosok Luke. Baginya Luke tetaplah seorang penyelamat, Airin memaklumi apa yang di lakukan oleh Luke saat ini. Mengingat bahwa Luke adalah seorang Vampir jadi wajar jika ia melakukan hal tersebut ketika melihat darah dari tangannya, bukan? Lagi pula Luke hanya mengambil darahnya sedikit dan tidak menghisapnya hingga habis. Jadi tidak ada alasan untuk Airin marah kepadanya.


"Lagi pula Luke hanya mengambilnya sedikit hitung-hitung seperti donor darah, Luke bahkan sudah menolong ku beberapa kali. Masak hanya karena perkara darah yang tak seberapa aku marah kepadanya?" ucap Airin pada diri sendiri.


Entah bodoh atau apa, Airin benar-benar tidak bisa melihat maksud dan tujuan Luke kepadanya. Bukankah semuanya sudah terlihat sangat jelas? Sesosok Vampir yang notabennya adalah makhluk penghisap darah mendadak menjadi baik dan juga perduli pada manusia, bukankah itu artinya ia memiliki maksud tersendiri?


Entah apa yang ada dipikiran Airin saat ini sampai ia sebegitu santainya terhadap Luke.


"Sepertinya aku harus menemui Luke saat ini!" ucap Airin kemudian sambil bangkit dari posisinya kemudian bergegas pergi menuju Apartment milik Luke.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2