Tetangga Baruku Vampir?

Tetangga Baruku Vampir?
Kembali gagal


__ADS_3

Unit Apartment Luke


Di area ruang tengah terlihat Luke tengah duduk termenung sambil menatap kosong ke arah depan. Pikirannya kali ini benar-benar terisi dengan satu nama yaitu Airin. Bagaimana pun juga Luke berusaha memutar otaknya untuk membuat Airin cepat mencintainya dalam beberapa waktu dekat ini. Luke sungguh tidak bisa jika harus menunggu terlalu lama lagi karena belakangan ini energinya seperti cepat sekali menurun dan membuatnya harus memilih lebih banyak mangsa untuk ia ambil darahnya melalui sebuah ciuman.


Sambil mengetuk-ketukan jari tangannya pada sebuah pegangan sofa, Luke mencoba untuk memutar otaknya berusaha mencari cara agar bisa mempercepat segala prosesnya.


"Mengapa jika soal cinta kepala ku menjadi buntu? Akh benar-benar menyebalkan..." ucap Luke dengan nada yang kesal karena tak kunjung menemukan jalan keluar dari permasalahannya.


Luke terlihat bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan-jalan sebentar sambil mencari ide segar di kepalanya. Hingga beberapa menit kemudian sebuah ide yang mungkin saja akan berhasil, lantas membuat seulas senyuman terbit dari wajah tampan Luke saat ini.


"Tidak ada salahnya untuk mencoba bukan?" ucap Luke dengan tersenyum simpul.


Luke yang yakin jika idenya kali ini akan benar-benar berhasil lantas menarik napasnya dalam-dalam kemudian mulai menjentikkan jari tangannya.


"Satu... Dua... Ti...ga..." ucap Luke kemudian masih dengan senyum yang mengembang menantikan sebuah ketukan pintu hang berasal dari Airin.


Namun sayangnya, meski Luke sudah menghitung hingga hitungan ketiga sayangnya tidak ada tanda-tanda sedikit pun Airin mengetuk pintu unit Apartemennya, membuat Luke yang mengetahui hal tersebut lantas mengernyit dengan tatapan yang bingung.


Luke yang tidak tahu apa yang salah, lantas mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu unit Apartment Airin dan menatapnya dengan tatapan yang bertanya-tanya. Luke sengaja membuat aliran listrik di unit Apartment Airin mati dan berharap dengan begitu Airin akan meminta tolong kepadanya. Namun meski Luke menjentikkan jari tangannya berkali-kali, entah mengapa tidak ada tanggapan apapun di dalam membuat Luke lantas berdecak dengan kesal karena rencananya harus gagal.


"Apa yang salah sebenarnya? Bukankah semua wanita takut gelap?" ucap Luke bertanya-tanya sambil menatap ke arah pintu unit Apartment Airin.


Luke yang sudah penasaran karena Airin tak bergeming meski lampu unit Apartemennya di buat berkedap-kedip, pada akhirnya membuat Luke memutuskan untuk memasuki unit Apartment Airin dengan cara berteleportasi.


***


Unit Apartment Airin

__ADS_1


Luke yang baru masuk ke dalam unit Apartment milik Airin, lantas terlihat mengedarkan pandangannya ke arah sekitar dimana suasana di dalamnya begitu gelap karena memang Luke yang sedari tadi sibuk memainkan aliran listrik ke unit Apartment Airin.


Luke kemudian lantas melangkahkan kakinya menyusuri setiap sudut di ruangan yang terletak di Apartment tersebut. Ketika langkah kaki Luke sampai tepat di depan pintu sebuah ruangan dimana sudah dipastikan bahwa itu adalah ruangan kamar Airin, lantas membuat Luke memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan kamar tersebut dan melihat apa yang sedang di lakukan oleh Airin di dalam hingga bersikap seakan tidak terjadi apa-apa walau Luke sudah bermain dengan aliran listrik di seluruh ruangan unit Apartment Airin.


Ketika Luke sampai di dalam ruangan tersebut, ada sedikit perasaan terkejut sekaligus kesal ketika melihat Airin malah dengan santainya tertidur lelap seakan tidak terjadi apapun, membuat helaan napas lantas terdengar dengan jelas berhembus dari mulut Luke saat itu.


"Pantas saja ia tidak bergeming sedikit pun jika tidurnya saja seperti kerbau begitu!" ucap Luke sambil memutar bola matanya dengan jengah menatap posisi tidur Airin yang seperti itu.


****


Keesokan harinya


Dari arah pintu unit Apartemennya terlihat Airin sudah bersiap dengan pakaian kantornya. Ditatapnya pintu unit Apartment sebelah yang saat ini sudah berpenghuni itu dengan tatapan yang menelisik.


"Mengapa susah sekali untuk mengucapkan terima kasih kepadanya? Apa dia benar-benar orang yang sama dengan yang menolong ku malam itu? Mengapa aku merasa mereka berdua adalah dua hal yang berbeda?" ucap Airin dengan raut wajah yang kecewa.


Baru setelah mengatakan hal tersebut Airin lantas melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana dengan langkah kaki yang perlahan. Hanya saja tanpa Airin sadari tepat ketika ia melangkahkan kakinya pergi dari sana, pintu unit Apartment Luke lantas terbuka dengan lebar menampilkan sosok Luke dengan pakaian kasual nya.


Keheningan mendadak terjadi di sana, ketika pintu lift terbuka dan manik mata antara Airin dan juga Luke bertemu saat itu.


"Ganteng banget! Tunggu sebentar.. Bukan itu yang penting saat ini, dasar bodoh!" ucap Airin dalam hati sambil merutuki pikirannya yang hanya terfokus pada visual saja.


"Apakah kamu ingin masuk? Jika tidak maka aku akan menutupnya." ucap Airin kemudian sambil memutus tatapan keduanya saat itu.


"Tentu" ucap Luke kemudian sambil mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift yang semakin membuat suasananya kian canggung ketika itu.


"Lantai berapa yang ingin kamu tuju? Biar aku sekalian menekannya untuk mu." ucap Aslin kemudian namun tanpa menengok ke arah Luke.

__ADS_1


"Basement" jawab Luke dengan nada yang singkat membuat Airin langsung dengan spontan mencet tombol tersebut.


.


.


.


.


.


Ting


Suara pintu lift yang terbuka lebar lantas membuat Airin mulai melangkahkan kakinya keluar dari lift. Beberapa detik berada di dalam lift bersama dengan Luke benar-benar membuatnya salah tingkah. Pada akhirnya ucapan terima kasih yang hendak ia sampaikan kepada Luke kembali gagal dan tidak tersampaikan kepada orangnya.


"Ah entahlah, bodo amat!" ucapnya kemudian yang baru menyadari bahwa ia kembali melupakan ucapan terima kasih kepada Luke.


**


Airin yang baru saja keluar dari lobi lantas melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke arah jalanan untuk menyetop taksi. Ditatapnya pergelangan tangannya dimana di sana terdapat jam tangan kecil yang melingkar ditangannya.


"Sudah hampir pukul 7, jika sampai aku telat... Pasti akan kembali mendapat omelan!" ucap Airin sambil berusaha menyetop taksi namun tak kunjung ada satupun yang berhenti di depannya.


Airin benar-benar frustasi ketika melihat waktunya begitu mepet namun ia sama sekali tidak menemukan taksi ataupun angkutan umum lainnya yang bisa ia gunakan menuju ke kantornya. Sampai kemudian disaat rasa frustasi dan juga khawatir tidak bisa sampai dengan tepat waktu di kantornya, sebuah mobil berwarna putih keluaran terbaru tahun itu nampak berhenti tepat di depan Airin, membuat Airin langsung mengernyit dengan seketika.


"Masuklah aku akan mengantar mu." ucap seseorang dari dalam mobil.

__ADS_1


"Tapi..."


Bersambung


__ADS_2