Tetangga Baruku Vampir?

Tetangga Baruku Vampir?
Sebuah darah!


__ADS_3

Ruang rapat


Di dalam sebuah ruangan, terlihat Bella tengah sibuk memperhatikan setiap hal yang di bahas dalam rapat tersebut. Sebuah notifikasi ponsel yang berasal dari miliknya lantas langsung membuyarkan diskusi rapat saat itu, membuat Bella tentu saja dengan spontan mendapat tatapan tajam dari Direktur. Bella menundukkan kepalanya memberi hormat kemudian mengaktifkan mode silent di ponselnya, tanpa tahu jika pesan tersebut berasal dari Airin yang meminta tolong untuk menelpon polisi saat itu juga.


"Saya minta maaf atas ketidaknyamanannya.." ucap Bella dengan raut wajah yang bersalah.


"Kita kembali ke topik pembahasan!" ucap moderator saat itu.


***


Kediaman Asti


Fahri yang tidak jadi berangkat pergi untuk bekerja, lantas memutuskan untuk kembali ke kediaman Asti. Ia benar-benar merindukan sosok kekasihnya yang saat ini sudah berada di dalam lemari pendingin, Fahri yang baru saja sampai dengan mengendarai ojek lantas langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu utama rumah tersebut. Ada sedikit perasaan bertanya-tanya sekaligus terkejut ketika ia mendapati pintu rumah tersebut sedikit terbuka meski tidak lebar, namun Fahri yakin ini bukanlah ulah darinya.


"Aku benar-benar yakin jika sebelum berangkat aku mengunci pintu rumah, apa aku melupakannya?" ucap Fahri pada diri sendiri sambil mengingat-ingatnya.


Fahri yang merasa telah mengunci pintu rumah lantas memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan mengabaikan pertanyaan yang terus berputar di kepalanya saat itu. Sampai kemudian ketika Fahri baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam kakinya tanpa sengaja menginjak sesuatu yang lantas membuat langkah kakinya terhenti seketika.


Fahri kemudian mengambil posisi berjongkok untuk melihat apa yang baru saja ia injak, sampai ketika disaat ia melihat sebuah jepit rambut di bawah kakinya tentu saja membuat Fahri langsung bertanya-tanya.


"Jepit rambut? Sialan!" ucap Fahri ketika menyadari ada yang tidak beres saat ini.


Fahri yang merasa ada yang mencoba masuk ke dalam rumahnya, lantas langsung bergegas menuju ke arah dapur untuk melihat ke lemari pendingin dan memastikan bahwa Asti masih ada di sana. Sampai kemudian pandangannya terhenti kepada sosok seorang wanita yang hanya terlihat bagian punggungnya saja, seulas senyum terlihat terbit dari wajah Fahri ketika melihat sosok perempuan tersebut tengah menatap ke arah lemari pendingin yang tentu saja terdapat mayat Asti di dalamnya.

__ADS_1


"Apa kau sudah puas melihat mayat kekasih ku?" ucap sebuah suara yang berasal dari Fahri.


Mendengar sebuah suara yang tiba-tiba menyapa telinganya, membuat Airin langsung mencoba untuk menyelamatkan ponselnya dan bangkit berdiri dari sana.


"Kau... Apa yang kau lakukan kepada Asti?" ucap Airin begitu mengenali dengan jelas raut wajah Fahri yang saat ini berdiri tak jauh dari tempatnya berada.


"Em entahlah, aku juga tidak terlalu yakin. Tapi jika kau mau aku bisa melakukan reka adegan bersama dengan mu." ucap Fahri dengan senyum yang menyeringai.


Bagaimanapun juga tindakannya sudah tercium oleh seseorang dan jika Fahri ingin semuanya tetap aman dan tidak di ketahui oleh orang-orang, jalan satu-satunya adalah dengan melenyapkan saksi kunci agar tidak ada siapapun yang mengetahuinya.


"Berhenti dan jangan mendekat atau aku akan..." ucap Airin namun terpotong ketika baru menyadari ponselnya tadi ia lempar di kolong lemari pendingin. "Ah sial!" ucap Airin dengan nada yang lirih.


"Akan apa? Apa kau akan berteriak? Coba saja kalau kau bisa!" ucap Fahri kemudian berlari mendekat ke arah dimana Airin berada.


Airin lari dan terus berlarian memutari area rumah milik Asti, sampai kemudian ketika ia melihat pintu sebuah ruangan terbuka dengan lebar tanpa berpikir panjang lagi Airin langsung masuk ke dalamnya dan menutup pintu tersebut dengan rapat.


"Luke tolong aku... Apakah kamu mendengar ku? Arg sial! Bagaimana aku bisa memanggilnya?" ucap Airin kemudian dengan nada yang lirih.


Airin bahkan baru menyadari jika ia tidak tahu bagaimana cara untuk memanggil Luke agar datang untuk menolongnya. Beberapa kali di tolong selalu Luke yang datang dengan sendirinya tanpa diminta. Jika saat ini Airin membutuhkan bantuan Luke, lalu apa yang harus ia lakukan?


"Apakah pertolongan Luke hanya berlaku untuk sosok-sosok tak kasat mata saja? Lalu bagaimana dengan manusia?" ucap Airin pada diri sendiri.


Airin benar-benar merutuki kebodohannya yang mengide begitu saja tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Sepertinya Airin sudah mulai bergantung kepada Luke, itu sebabnya ia tidak memikirkannya lagi secara berulang dan malah memutuskan untuk mengusut segalanya sendiri.

__ADS_1


Disaat Airin tengah kebingungan akan bagaimana cara untuk memanggil Luke datang. Suara seretan benda tajam terdengar dengan jelas di luar ruangan tempatnya bersembunyi, membuat Airin langsung menelan salivanya dengan kasar begitu mendengar suara seretan tersebut.


"Bersembunyi lah sebisa mu karena aku pasti akan menangkap mu, bukankah begitu?" ucap Fahri dengan tawa yang menggema.


Mendengar suara Fahri yang jelas-jelas terdengar menggema di telinganya saat itu, lantas membuat Airin langsung menutup mulutnya dengan erat. Airin sebisa mungkin memutar otaknya agar bisa kabur sekaligus menunggu kedatangan Luke untuk menolongnya.


"Ayo Ai berpikir... Jangan hanya pasrah dan menunggu Luke datang!" ucap Airin dengan nada yang lirih.


Sampai kemudian ketika Airin tengah sibuk mencari jalan keluar sebuah benda tajam mendadak menancap di pintu ruangan dimana Airin bersembunyi, yang tentu saja langsung mengejutkan Airin dengan seketika hingga membuatnya menabrak beberapa benda yang tertata rapi di sana.


Bruk...


"Ah sial..." ucap Airin dalam hati sambil merutuki kebodohannya.


"Aku menemukan mu hahahaha, buka pintunya sekarang!" pekik Fahri yang dengan yakin jika Airin ada di dalam sana sekarang.


Airin yang mendengar perkataan dari Fahri barusan tentu saja terkejut kemudian langsung menarik meja di dalam ruangan tersebut dan memindahkannya tepat di depan pintu agar Fahri tidak bisa masuk ke dalam.


"Luke.. Bagaimana caraku untuk memanggil mu? Mengapa aku tidak tanya sekalian sih?" ucap Airin dengan nada yang kesal sambil melangkahkan kakinya mundur ke arah belakang di saat Fahri yang terus berusaha untuk membuka pintu tersebut.


Airin menggigit bibir bagian bawahnya tanpa sadar sambil terus berpikir cara apa yang bisa mendatangkan Luke agar datang dan membantunya. Sampai kemudian ingatannya terhenti pada setiap kejadian yang ia alami dan membuat Luke datang untuk menolongnya saat itu.


"Darah! Ya sebuah darah..." ucap Airin dengan nada yang yakin.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2