Tetangga Baruku Vampir?

Tetangga Baruku Vampir?
Cicak


__ADS_3

"Bagaimana? Apa kamu mau menjadi korban ku selanjutnya?" ucap Luke dengan senyum yang menyeringai.


"Aaaaa" teriak Airin begitu melihat dua buah taring terlihat muncul dari dalam mulut Luke saat ini.


Hening sesaat tepat setelah teriakan dari Airin terdengar menggema di ruangan tersebut, sampai kemudian suara tawa yang menggema lantas berasal dari mulut Luke saat itu kemudian langsung membuat situasinya semakin aneh dan terasa canggung. Airin yang tadinya takut akan Luke yang semula hendak menggigitnya, lantas langsung menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya seakan mencoba mencari tahu akan maksud dari tawa Luke barusan.


"Apa yang sedang kamu tertawakan?" ucap Airin kemudian dengan raut wajah penasaran.


Mendengar pertanyaan tersebut kemudian membuat Luke mulai menghilangkan kedua taringnya dan mengusap perutnya yang terasa kram saat ini karena terlalu banyak tertawa. Melihat raut wajah penuh ketakutan dari Airin barusan, benar-benar membuatnya geli dan tidak bisa menahan tawanya sama sekali.


Diusapnya sudut mata Luke yang sedikit basah tersebut lalu menatap ke arah Airin sambil berdehem mencoba untuk mencairkan suasananya saat itu.


"Kau pikir kami bangsa Vampir selalu menghisap banyak darah manusia dengan sembarangan? Ayolah dunia ini bahkan sudah berkembang jadi jangan terlalu kolot." ucap Luke sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam unit Apartemennya.


Airin yang mendengar perkataan tersebut manik matanya tentu saja langsung membulat seketika. Luke memang tidak membahas spesifikasinya namun dengan Luke mengatakan hal tersebut itu tandanya Luke memanglah berasal dari kalangan Vampir.


Airin melangkahkan kakinya secara cepat menyusul langkah kaki Luke yang sudah terlihat berada di dapur dan mengambil satu gelas kosong kemudian mengisinya dengan air.


"Jadi kamu sungguh-sungguh seorang Vampir? Tunggu sebentar.. Apa Vampir juga meminum air putih?" ucap Airin yabg terkejut ketika melihat Luke hendak meneguk air di gelas tersebut.


Luke memutar bola matanya dengan jengah ketika mendengar pertanyaan dari Airin barusan, membuat Luke yang mulai kesal akan pertanyaan aneh yang terus keluar dari mulut Airin lantas langsung meminum airnya hingga tandas tanpa menjawab pertanyaan dari Airin terlebih dahulu. Membuat Airin yang melihat hal tersebut hanya bisa menatap ke arah Luke yang saat itu tengah meminum air di gelasnya.


Tak...


Suara gelas yang di letakkan cukup kasar lantas membuat Airin terkejut seketika.


"Kau bahkan membuat ku makan kemarin, apa kau kira seorang Vampir juga tidak merasa haus?" ucap Luke dengan nada yang kesal.

__ADS_1


"Wah gila... Benar-benar gila, aku sungguh tidak menyangka jika kamu benar-benar seorang Vampir. Tapi.. Bukankah Vampir anti terhadap bawang putih? Lalu bagaimana bisa kamu kemarin..." ucap Airin dengan raut wajah yang bingung membuat Luke lantas menghela napasnya dengan panjang.


"Kami memang tidak bisa memakan bawang putih, tapi kami tidak langsung mati ketika memakannya. Mungkin akan ada perasaan seperti terbakar dan juga meradang di area leher kami ketika bawang putih itu melewati area kerongkongan. Dan kau tahu? Karena ulah mu kemarin aku harus merasakan hal itu? Apa kau tidak melihat jika leher ku masih memerah saat ini?" ucap Luke menjelaskan panjang kali lebar dan di akhiri dengan tatapan tajam ke arah Airin.


Airin yang mendapat tatapan tajam dari Luke barusan, lantas langsung tersenyum dengan garing sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Airin terlihat mulai memasang senyuman polos dan menatap ke arah Luke, membuat Luke yang menyadari hal tersebut hanya memutar bola matanya dengan jengah ketika melihat ekspresi dari Airin barusan.


"Setidaknya kau tidak mati bukan? Jadi jangan terlalu marah kepada ku." ucap Airin dengan nada yang santai.


"Apa katamu!" ucap Luke dengan kesal.


"Well karena kamu memanglah seorang Vampir jadi aku sudah bisa tidur dengan tenang malam ini. Terima kasih banyak karena sudah mengaku, tapi boleh aku tahu nama mu siapa?" ucap Airin kemudian yang semakin membuat Luke mengernyit akan respon santai yang di tunjukkan oleh Airin saat ini.


"Kau tidak takut pada ku?" tanya Luke dengan raut wajah yang penasaran.


"Katakan dulu siapa nama mu?" ucap Airin malah balik bertanya.


"Baiklah Luke, asal kamu tau? Aku sama sekali tidak takut kepadamu karena aku pernah bertemu dengan makhluk yang lebih abstrak dari mu, jadi.. Kamu masih bisa di terima lah... Justru aku malah ingin meminta sesuatu kepadamu." ucap Airin kemudian sambil menaik turunkan alisnya membuat Luke lantas menatapnya dengan tatapan yang bingung.


"Meminta apa?" tanya Luke kemudian dengan menatap penuh penasaran ke arah Airin saat ini.


"Jadilah pelindung ku!" ucap Airin kemudian dengan senyuman yang lebar.


"Apa? Kau benar-benar sudah gila! Kau pikir seorang Vampir bisa diajak berteman? Aku tidak memakan mu saja sudah untung." ucap Luke dengan nada yang kesal.


"Ayolah.. Kau bahkan sudah menolongku sebanyak dua kali, apa susahnya untuk melakukannya lagi ya ya ya?" ucap Airin dengan nada yang menggoda.


***

__ADS_1


Keesokan harinya


Ting


Suara pintu lift yang terbuka lantas langsung membuyarkan lamunan Airin dengan seketika. Airin lantas melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift dimana di sana sudah berjajar beberapa orang yang juga hendak naik ke atas.


"Bukankah dia adalah orang yang ada di CCTV? Menurut mu mengapa dia di kejar-kejar banyak makhluk penunggu sini? Apakah dia seorang Indigo?" ucap salah seorang mereka dengan nada yang berbisik.


"Sepertinya memang ia, lihatlah raut wajahnya yang sangat lesu itu.. Aku yakin dia tidak akan pernah tidur ketika malam hari." ucap yang lainnya lagi dengan nada yang berbisik.


Airin yang tidak terlalu jelas mendengar pembicaraan keduanya, lantas hanya menoleh ke arah sekitar kemudian kembali menatap ke arah depan. Jangankan untuk mendengarkan pembicaraan mereka, pikirannya kini melayang membayangkan kembali bagaimana Luke menolak permintaannya kemarin dan mengusirnya keluar dari unit Apartemennya.


Helaan napas terdengar dengan jelas berhembus dari mulut Airin, membuatnya lantas dengan spontan langsung mendongak ke arah atas. Hanya saja sayangnya ketika ia melihat seekor cicak yang sedang menempel di atap, tentu saja langsung membuat Airin terkejut dengan seketika karena ia memang memiliki ketakutan pada hewan tersebut.


"Aaa..." pekiknya dengan nada yang terkejut ketika mendapati cicak tersebut berada tepat di atasnya.


Mendengar teriakan dari Airin barusan tentu saja membuat karyawan lainnya yang satu lift dengannya terkejut dan langsung berusaha untuk berdiri di sudut lift, sedangkan beberapa karyawan Pria menekan tombol darurat beberapa kali agar lift segera berhenti.


"Aaa"


"Aaa"


Teriakan dari karyawan perempuan lainnya yang ikut menggema lantas langsung membuat situasinya semakin kacau, Airin yang mengira semua orang memiliki fobia yang sama lantas ikut melipur ke arah sudut lift. Padahal karyawan lainnya bukanlah berteriak karena cicak melainkan mengira bahwa saat ini Airin tengah melihat sebuah sosok penampakan.


Tingg...


"Apa yang terjadi?" ucap Bella dengan raut wajah yang terkejut.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2