The Assassing Queen Traveled Time : Liang Feng Xiao

The Assassing Queen Traveled Time : Liang Feng Xiao
31. Teka-Teki Perlahan Terungkap


__ADS_3

Typo (s) bertebaran Amatir maklumkan


Happy Reading gaes~


.


.


.


"Aish Anak ini!!" Gerutuan kesal dilayangkan oleh Tabib Liang kepada Permaisuri yang ternyata adalah pamannya dari pihak ayah.


Ayahnya sendiri adalah anak ke dua dari tiga bersaudara. Yang pertama adalah bibinya yang bernama Liang Bin Hua yang sekarang sudah menikah dan dikaruniai 3 orang putra dan 1 orang putri yang tinggal di dadaratan barat atau negri barat yang amat jauh dari daratan tempatnya tinggal.


Kedua adalah ayahnya sendiri yang bernama Liang Bin Zhu seorang perdana mentri dengan kekuasaan yang amat berpengaruh seperti yang kalian ketahui tentang ayahnya serta keluarganya.


Dan yang ketiga juga terakhir adalah Liang Bin Ziu seorang tabib muda yang sudah berkeluarga dan memiliki dua orang anak kembar laki laki dan perempuan berusia 20 tahun. Mereka adalah kakak kesayangan Putra Mahkota Han.


"Paman"


"Hmm"


"Paman. Ish"


"Aish apa. Kau ini kenapa jadi cerewet begini. Istirahatlah kau sedang sakit"


"Ih paman gk asik males ih. Sudah sembuh juga. Aku tak selemah yang paman fikirkan tau"


"Hah sudah lah. Sekarang paman ingin bertanya kepadamu"


"Apa" ketusnya


"Sejak kapan kau bisa memahami tentang obat obatan dan jenis tanaman herbal? Setau paman kau tak pernah memengang buku tentang obat dan tanaman herbal sebelumnya?"


"Hah. Akan kuberi tau paman sekarang. ." Jedanya.


"Sebenarnya aku sudah lama mempelajari tentang obat obatan dan tanaman herbal untuk berjaga jaga."


"Berjaga-jaga? Untuk apa?"


"Paman kau ini memang sudah tua ya, bodoh atau apa sih. Paman tidak ingat dikediaman Liang ada sepasang ibu dan anak yang licik mengalahkan kancil itu huh!"


"Ahaha maafkan pamanmu ini. Pamanmu ini juga manusia yang kadang kala bisa lupa dan hilaf akan dosa eh maksudnya akan sesuatu ehe" Cengegesnya dengan wajah tak berdosanya.


"Lupa memang manusiawi tapi kita juga harus ingat satu hal. Lupakan yang tidak penting dan selalu ingat apa yang memang harus diingat dan penting. Memang sih mereka tak penting tapi mereka ikut adil dalam penimbunan racun dalam tubuhku"


"APA!!"


"Tak usah berteriak heboh seperti itu paman! Aku tak tuli"


"Apa maksudmu dengan ikut serta dalam menimbun racun dalam tubuhmu itu?"


"Ya. Mereka ikut andil dalam hal menimbun racun ditubuhku. Sejak kematian kakek dan nenek,mereka semakin gencar memberiku racun yang tak terdeteksi oleh siapapun termasuk tabib kecuali Alchemist Profesional dan itu memudahkan mereka. Tak sampai disana mereka juga selalu membully diriku dan para pelayan pengikutnya ikut serta dalam pembullyan itu. Ayah dan ibu tak pernah tau jika aku dibully dan diperlakukan seperti itu karena mereka melakukannya dengan sangat rapi sehingga tak ada yang menyadarinya. Dan jika ada seseorang yang akan melaporkannya pada ayah dan ibu maka besoknya orang itu sudah tiada." Ujarnya acuh tak acuh seakan menagatakan hal yang biasa.


"KURANG AJAR.ereka harus diberi pelajaran yang setimpal. Kau tenang saja paman akan membuat mereka merasakan hal yang sama dengan yang kau rasakan dulu tapi, akan paman buat mereka lebih menderita.Kkk~" Ujarnya disertai kekehan menggerikan dan jangan lupakan pula seringaian kejam yang semakin menambah ngeri. Namun tak berlaku untuk Permaisuri. Bagi Permaisuri seringaian kejam pamannya adalah hal yang ia suka.

__ADS_1


"Dan paman masih ada lagi orang yang memperparah kondisi tubuhku. Saat dekrit dibacakan dan mengharuskan aku menjadi Permaisuri disitulah awal bertambah menderitanya aku. Mungkin bagi kebanyakan orang menjadi Permaisuri akan bahagia dan dihormati tapi orang luar tak tau bahwa menjadi Permaisuri adalah hal yang sangat menyakitkan."


"Siapa? Siapa orang itu biar paman yang akan memberinya pelajaran. Katakan pada paman Xiao'er"


"Jika waktunya tiba akan aku beritahu semuanya pada paman, bibi, ayah, dan ibu."


"Baiklah. Kapan waktu itu tiba?"


"Tak lama lagi. Paman bersabarlah dulu dan persiapkan diri paman. Jika bibi sudah datang disitulah awal kehancuran mereka."


"Kenapa dengan Jie-jie?"


"Paman kau ini sungguh bodoh. Bibi sudah tau segalanya sebelum paman mengetahui semuanya dariku. Karna bibi mengirim orangnya untuk mengawasiku dan bibi juga menunggu aku yang memintanya langsung. Maka dari itu aku akan meminta bantuan bibi pasti bibi menyetujuinya aku yakin itu"


"Kenapa kau begitu yakin jika bibimu akan mendukungmu?"


"Karna bibi sendiri yang mengatakan bahwa apapun yang terjadi bibi akan membantuku. Paman apa kau lupa bahwa aku keponakan kesayangannya itu huh" ujarnya main-main dan jangan lupakan senyum miringnya yang ditunjukkan pada pamannya. Tentu saja hahaha.


"Lalu kenapa kau tak meminta bantuan pada paman huh? Selalu saja bibimu yang kau utamakan. Paman kan juga ingin membantumu huh" Dengusnya sebal merasa cemburu karena dinomer duakan oleh keponakannya yang memang dari dulu selalu begitu.


"Aku memang berencana meminta bantuanmu paman jangan cemburu seperti itu. Tapi aku menunggu waktu yang pas untuk menemuimu agar musuh tak mencurigai pergerakan kita dan hari ini waktu yang pas kurasa."


"Ya memang pas. Pas kau saki begitu maksudmu?"


"Ehehe. Berarti Tuhan masih sayang padaku contohnya saja aku diberikan sakit dan dosaku sedikit demi sedikit dikurangi"


"Ya ya ya terserahmu saja. Intinya jika terjadi apapun terhadapmu kedepannya langsung kabari paman mengerti"


"Siap paman"


"Iya aku mengerti paman"


"Mereka segera datang" Tak berselang lama setelah mengucapkan kata itu para dayang yang disuruh membawakan bahan yang dimintapun datang dengan beberapa wadah ditangannya.


"Salam Permaisuri. Ini yang tadi diminta oleh anda"


"Letakkan dimeja samping tempat tidurku" Pelayan itupun melakukan seperti yang diperintahkan padanya.


"Emm seperti ada yang kurang. Tapi apa?" Gumamnya sambil memikirkan bahan apa yang kurang.


"Aha aku memang jenius. Xue Jie minta tolong ambilkan mentimun dan tumbuk hingga halus lalu bawa kemari."


"Baik"


15 menit berlalu~


"Salam Permaisuri. Ini mentimun yang sudah dihaluskan yang diminta oleh anda"


"Letakkan bersama yang lainnya."


"Baik Permaisuri"


Setelah itu bahan yang sudah halus dicampur menjadi beberapa bagian. Dan mereka semua mualai melakukan sesuai intruksi dari Permaisuri. Hari semakin larut namun tak menyurutkan mereka untuk melakukan tugasnya dangan senang hati demi kesembuhan sang jungjungan tercinta.


Flashback Off

__ADS_1


Mendengar penjelasan dari pelayan Permaisuri Kaisarpun menyuruh pelayan lain menyiapkan bahan yang sama untuk meredakan rasa perih, panas, dan gatal pada tubuh Permaisuri.


Author ingatkan bahwa Rong Xue tak menceritakan secara detail namun hanya pada bagian awal dan akhir. Dimulai dari "Awal munculnya alergi yang dialami Permaisuri" sampai "Aish anak ini!" Dan "Mereka segera datang" hingga akhir agar tak menimbulkan kecurigaan bagi orang lain.


Sebenarnya Rong Xue mengetahui apa yang dibicarakan oleh Permaisuri dan Tabib Liang namun Rong Xue tak ingin ada pihak lain yang mengetahui sebelum Permaisuri sendiri yang memberitahukan pada publik.


Bukan lancang menguping atau apa namun Permaisuri sendiri yang memberi tahukan pada Rong Xue dan Rong Xue ddngan senang hati mendengarkan apa saja rencana Permaisuri.


Yang Mulia Kaisar tak peduli lagi akan pandangan semua orang padanya yang merasa heran. Sekarang yang menjadi prioritas utamanya adalah keselamatan Permaisuri biarlah urusan lain nanti saja menyusul. Hahaha.


"Salam Yang Mulia Kaisar, Pangeran Mahkota dan Jedral Wei"


"Hn" jawab Kaisar.


"Ada apa?" Tanya Jendral Wei.


"Bahan yang diminta oleh Yang Mulia Kaisar sudah kami siapkan. Akan diletakkan dimana semua bahan ini?"


"Letakkan di meja dekat tempat tidur" ujar Jendral Wei.


"Baik"


Setelah itu semua bahan dicampur menjadi beberapa bagian dan tabib Liang menyuruh semuanya menunggu diluar agar memudahkan untuk membaluri semua bahan pada seluruh tubuh Permaisuri.


Awalnya Kaisar menolak dan ingin tetap didalam namun karena paksaan Rong Xue yang mengatakan bahwa jika Permaisuri tau Kaisar ada didalam kediamannya makan Permaisuri akan marah besar.


Karena tak mau Permaisuri semakin membencinya dengan Terpaksa Kaisar menuruti permintaan ah bukan tapi perintah dari pelayan setia Permaisuri Rong Xue.


Kini tinggalah Tabib Liang, Roang Xue dan jangan lupakan ekor Permaisuri yaitu Pangeran Mahkota Han yang tak mau meninggalkan ibunda tercintanya dan mengancam akan mengadukannya pada ibundanya jika ia dilarang masuk.


Dengan terpaksa mereka berdua mengijinkan dsngan syarat tak boleh berbuat ulah dan Pangeran Mahkota Han menyanggupinya denga senang hati tentu saja.


.


.


.


.


.


Bersambung~


.


.


*Assalamu'alaikum Readers


jangan lupa Vote sebanyak banyaknya


Like dan Coment ditunggu


juga klik ♡ dan tunggu kelanjutannya

__ADS_1


**wassalamu'alaikum Readers***


__ADS_2