
...Typo (s) bertebaran Amatir maklumkan...
...Happy Reading gaes~...
“Ibunda? Apakah ibunda sudah tidur?” Tanya sebuah suara yang mengagetkan keduanya.
“Sepertinya jagoan kita mencarimu hem. Lain kali aku akan menjawab pertanyaanmu itu hem” kata Axe dengan mencium kening Permaisuri sayang dan bergeas meninggalkan Permaisuri yang masih penasaran dan bingung itu.
“Axe, hey Axe kau belum menjawab pertanyaanku” kata Pemaisuri kepada Axe yang kelihatannya akan segera pergi
Cup
“Lain waktu aku akan menjawabmu hem. Sekarang aku pergi jaga diri baik-baik” katanya dan pergi dalam sekejapan mata dari hadapan Permaisuri.
“Cih enak sekali dia itu sudah menciumkan malah pergi melarikan diri. Awas saja jika nanti kita bertemu kembali aku akan mengebirimu. Lihat saja” kata Permaisuri dengan senyum mengerikannya itu.
Dilain tempat
“Aish siapa yang berbicara buruk dibelakangku ini” umpatnya karena merasakan dingin yang tiba-tiba dipunggungnya.
Kembali ketempat Permaisuri.
“Masuk saja sayang, tidak ibunda kunci nak” seru Permaisuri.
Clek
“Ibunda” panggilnya dengan kepala yang masuk terlebih dahulu, seperti memastikan apakah ibundanya sudah tidur ataukah belum.
Ternyata ibundanya masih terjaga dan sedang duduk manis dibalkon kamar. Sepertinya ibundanya itu sedang melihat suasana malam hari atau mungkin sedang memikirkan sesuatu yang tak diketahui olehnya.
“Ibunda sedang apa disini?” Tanya Zhang Feng. Yao rang yang mengetuk pintu kamar Permaisuri adalah putranya yaitu Han Zhang Feng.
“Ibunda hanya ingin menikmati suasana malam yang saat ini sangatlah sejuk” Tak seperti di duniaku dulu, menikmati malam dengan tenang saja itu mustahi, apalagi bersantai tanpa menurunkan kewaspadaan. Lanjutnya dalam hati.
Tentu saja kalimat terakhir hanya dapat Permaisuri katakana dalam hati tak mungkin dirinya mengatakan secara gambling apa yang dialaminya atau berasal dari dunia mana ia. Biarlah menjadi rahasia yang mungkin suatu saat akan terbongkar juga.
“Feng’er ada apa kau kemari mlam-malam begini hem?” Tanya Permaisuri penasaran.
“Tadi Feng’er tak sengaja mendengar nyanyian yang berasal dari kamaribunda, jadinya Feng’er mengikuti nyanyian itu ehe” katanya dengan senyu konyol khas dirinya.
“Oh tadi itu memang suara nyanyian ibunda Feng’er. Ibunda hanya ingi bernyanyi untuk menghilangkan beban yang hinggap dibahu ibunda” kata Permaisuri dengan mengendikkan bahunya acuh.
“Beban? Beban apa itu ibunda?” Tanyanya penasaran.
“Beban karena rasa lelah nak” katanya berbohong.
Jika Permaisuri memberitahukan masalahnya saat ini dtakutnya akan menentang takdir. Jadi untuk sementara waktu Permaisuri hanya bisa menyimpan seorang diri, jika waaktunya telah tiba pasti Permaisuri akan memberitahukan masalah yang dipikulnya saat ini.
__ADS_1
“Ibunda lelah? Jika begitu bergegaslah istirahat biar Feng’er pijat kaki ibunda sampai ibunda dapat tidur dengan nyenyak” katanya lembut.
“Baiklah nak” kata Permaisuri dengan senyum merekahnya.
Permaisuri dan Zhang Feng beranjak dari duduknya dan bergegas menuju kearah ranjang untuk melakukan rencana yang mereka rencanakan tadi. Setelah sampai di bibir ranjang Permaisuri langsung merebahkan tubuhnya keatas kasur empuknya dan Zhang Feng segera memposisikan duduknya yang berhadapan dengan kedua kaki sang ibu.
Memijit kaki Permaisuri dari bagian bawah lutut hingga ke ujung jari kaki. Memijit dengan penuh kelembutan bak telur ayam yang takut pecah, Dengan segenap hati Zhang Feng melakukan tugasnya dengan sangat baik hingga tak terasa Permaisuri sudah terlelap dengan begitu damainya dan Zhang Feng menyudahi aksi pijit memijit kaki Permaisuri.
“Selamat malam ibunda. Sweet dreams mom” katanya dengan mengecup kening Permaisuri sayang.
Membenarkan selimut Permaisuri hingga sebatas dada dengan tujuan agar Permaisuri tak kedinginan karena udara malam yang makin malam semakin dingin itu. Menutup pintu balkon dan jendela untuk mencegah masuknya angin nakal yang akan mengganggu ibunda tersayangnya.
Mematikan lampu dan menghidupkan lampu tidur disebelah Permaisuri untuk membuat tidur Permaisuri lebih nyaman lagi. Memang pavilliun yang berasal dari ruang ilahinya akan otomatis dialiri energy listrik dengan bersumberkan mansion yang ada diruang ilahi itu. Dengan barang-barang yang modern tapi tak seluruhnya, Zhang Feng memang sudah diajari sejak awal oleh Permaisuri. Tapi, jika yang lainnya memang sudah diajari oleh Permaisuri dan Zhang Feng sejak pavilliun yang pertama kali Permaisuri keluarkan.
Meninggalkan kamar Permaisuri setelah memastikan keamanan dan kenyamanan Permaisuri barulah Zhang Feng pergi menuju kearah dimana kamarnya berada untuk mengistirahatkan tubuhnya yang juga kelelahan itu. Mempersiapkan diri dengan energy yang terisi dengan beristirahat untuk menghadapi hari esok yang mungkin saja akan sangat melelahkan. Siapa yang tau apa yang akan terjadi pada sedetik kemudia, esok maupun nanti?
Maka dari itu mereka mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya hari esok yang penuh dengan kejutan dan juga misteri yang acak itu.
Setelah kepergian Zhang Feng, ternyata sejak tadi sepasang mata bak elang mengawasi keduanya dari jarak yang bisa dibilang dekat. Tapi, tak ada yang menyadari kehadiran orang itu, mungkin saja orang itu memiliki skill bersembunyi atau yang lainnya hanya dia yang tau.
“Huft, kukira kau tak akan tertidur jadinya aku kembali kesini lagi” sesalnya melihat bahwa Permaisuri sudah tertidur dengan lelapnya.
Ternyata orang yang mengawasi Permaisuri dan Zhang Feng tak lain tak bukan adalah Axe, orang yang tadi berbicara bersama Permaisuri.
“Ternyata putra kita sangatlah bertanggung jawab. Tak heran ayahnya saja seperti aku yang tampan, gagah, baik, bertanggung jawab, disiplin dan masih banyak lagi sifatku yang menurut padanya” katanya dengan senyum konyol membayangkan tingkah anaknya itu.
Axe dengan hati senang merangkak keatas ranjang untuk merebahkan tubuhnya yang lumayan lelah itu. Membenarkan posisi tidur Permaisuri agar nanti ketika bangun dipagi hati tubuhnya tak merasakan pegal melainkan segar.
Setelah merasa posisinya sudah benar dan nyaman Axe segara menyusul Permaisuri menuju alam mimpi, melepaskan sejenak lelah, letih, dan beban pada pundaknya agar beristirahat dan merilekskan tubuhnya uantuk mengisi energy agar besok pagi tubuhnya bisa siap menerima semua rintangan yang akan kapan saja bisa menerjangnya.
Keesokan harinya~
Pagi yang cerah dengan suasana yang mendukung ditambah dengan udara sejuk khas pepohonan menyapa indra penciuman Permaisuri. Burung-burung yang sedang melakukan tugasnya untuk membangunkan mahluk hidup dengan nyanyian-nyanyian merdunya mampu membuat siapa aja terlena akan melodi yang memabukkan itu.
Permaisuri mulai mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan dengan cahaya yang dilihatnya, setelah menyesuaikan pengelihatannya Permaisuri merasaka sesuatu yang berat diatas perutnya. Sesuatu yang tampak keras dan lembu disaat bersamaan, jika diingat-ingat sesuatu yang dipegangnya itu tampak seperti tangan. Tunggu tangan? Tanyanya dalam hati menyadari hal aneh.
“Loh ini tangan siapa?” Tanyanya entah pada siapa.
“Morning baby” kata suara itu dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Permaisuri yang mendengar sebuah suara langsung mengalihkan pandangannya kearah siempu, dirinya ingin melihat siapa yang dengan berani tidur satu ranjang dengannya apalagi dengan memeluk dirinya jangan lupakan
sapaan yang sangat intim itu menurutnya.
“Kau!!”
“Ada apa, baby?” Tanya Axe kepada Permaisuri.
__ADS_1
“Kau bilang ada apa hah!! Sedang apa kau dikamarku?” Permaisuri menyembur Axe dengan begitu banyak pertanyaan.
“Hey bagaimana aku bisa bisa menjawab jika kau marah-marah begitu hem?” Tanya Axe.
“Jawab saja jangan berkelit” sungut Permaisuri.
“Baiklah baby. Tadi malam aku kembali kesini tepat setelah kau tertidur” katanya.
“Benarkah?” Telisik Permaisuri.
“Benar baby” kata Axe penuh dengan kelembutan.
“Tapi, kenapa kau kembali lagi?” Tanya Permaisuri.
“Sebenarnya aku ingin menemuimu dan ingin membahas sesuatu hal yang penting. Tapi, karena kau sudah tertidur jadinya aku ikut berbaring tak taunya malah ikur terlelap ehe” katanya dengan cengegesan konyol.
“…..” Permaisuri hanya memandang datar pada Axe.
Axe itu adalah tipekal orang yang sangat susah diajak bercanda tapi, jika berhadapan dengan Permaisuri Axe akan menjadi orang bodoh yang ingin selalu mendapat perhatian penuh darinya. Bahkan para pengikut setianya saja sampai tercengang tak percaya dengan sikap bodoh yang ditampilkan oleh tuannya itu.
“Oh ayolah baby, jangan diamkan pangeranmu ini hem” katanya dengan nada memohon jangan lupakan pula binar polos menggemaskan bak seekor an*ing yang sedang merayu tuannya agar diberikan makanan.
Permaisuri yang memang tak kuat dengan hal-hal berbau menggemaskan langsung saja luluh dengan mencubit dan mengunyel-unyel pipi Axe hingga memerah.
Biarlah pipiku menjadi korbannya asal dia tak mendiamiku dengan wajah datar sialannya itu. Hilang sudah wibawaku yang menakutkan ini inner Axe dalam hati merutuki kesialannya.
“Jangan menggerutu dalam hati. Aku tau kau pasti megutukku kan?” Tanya Permaisuri dengan wajah garangnya.
“Tidak baby, kau salah paham” katanya panic.
“Salah paham apa hah!!” Kata Permaisuri.
“Baby, maafkan aku hem. Janji deh akan menuruti semua permintaanmu” katanya dengan penuh kepanikan.
“Benarkah?” Tanya Permaisuri.
Kenapa perasaanku tak enak ya? Aku merasa akan terjadi sesuatu yang tak baik nanti gumamnya dalam hati merutuki perkataannya yang nanti akan merepotkan dirinya.
“Tentu saja kapan aku tak menepati perkataanku” kata Axe penuh percaya diri meskipun keringat sebesar biji jangung disekitar pelipisnya.
“Tapi, waktu itu…” perkataan Permaisuri terpotong karena tindakan Axe yang tiba-tiba menciumnya.
Cup~
“Sudah, jangan diingat lagi” kata Axe.
“Heft!!” dengus Permaisuri.
__ADS_1
...Bersambung~...
^^^Assalamualaikum Hay semua Jangan lupa Like, Vote, komen, dan rate 5 ya^^^