
Typo (s) bertebaran Amatir maklumkan
Happy Reading gaes~
"Kau pasti bingung dengan apa yang kau alami selama ini. Apa aku benar?" Tanyanya.
"Pasti. Pasti saja aku bingung dengan semua yang aku alami" terang Permaisuri.
"Itulah takdir. Aku ingin memberitahu sesuatu padamu" kata Mantan Permaisuri.
"Apa?" Tanya Permaisuri
*Note : Liang Feng Xiao dari Masa depan aku pakekya Permaisuri dan yang dari masa Kuno aku pakek Mantan Permaisuri ok biar gk bingung.
"Sebenarnya masih banyak rahasia yang belum terungkap tentangmu. Aku tekankan lagi tentangmu bukan aku. Kita memang satu jiwa yang terpecah tapi kau lah jiwa yang sesungguhnya" jelas Mantan Permaisuri.
"Sebenarnya apa maksudmu?" Bingung Permaisuri.
"Rahasia yang menyangkut alam semesta ada dipundakmu" katanya lagi.
"Alam semesta?" Beonya.
"Ya. Bukan tanpa alasan kau berpindah dimensi kesini" jelas Mantan Permaisuri mengingat masa lalu.
"Maksudmu apa huh?" Bentak Permaisuri.
"Hahh" helaan nafas berat dilayangkan oleh Mantan Permaisuri.
"Katakan saja jangan berbelit-belit" bentak Permaisuri lagi.
"Baik akan aku katakan yang aku ketahui. Sisanya kau harus mencari tau sendiri" jelas Mantan Permaisuri.
"Biklah katakan" kata Permaisuri sedikit melunak.
"Tapi sebelum aku jelaskan, aku ingin bertanya padamu terlebih dahulu?" Tanyanya.
"Katakan saja jika akau bisa aku akan menjawab pertanyaanmu itu" jelas Permaisuri.
"Apakah kau pernah kedunia ini sebelumnya?" Tanya Mantan Permaisuri.
Permaisuri yang ditanya seperti itu hanya termenung memikirkan pertangaan yang menurutnya tak masuk akal itu.
"Kuras tidak pernah" katanya ragu.
Entah kenapa dia merasa bahwa jawaban yang diberikannya itu bukanlah kebenaran melainkan alasan. Tapi, dia sendiri tak tau kenapa hatinya merasa berat mengatakan itu.
"Benarkah?" Telisik Mantan Permaisuri. Bukan tanpa sebeb Mantan Permaisuri bertanya seperti itu tapi itulah awal mula kehidupannya dimulai ya meskipun penuh dengan penderitaan.
"Aku tak begitu yakin. Tapi hatiku terasa sakit pada saat aku mengatakan itu tapi, aku tak tau kerena apa" jelasnya.
Mantan Permaisuri hanya menampilkan senyum manisnya, ia tau ini akan terjadi dan dia sudah mengantisipasj akan hal ini.
Dengan sabar Mantan Permaisuri menyuruh Permaisuri untuk kembali mengingat apakah benar jika dia tak pernah kedunia ini ssbelumnya atau tidak.
"Ingatlah lagi" kata Mantan Permaisuri.
"Kenapa kau menyuruhku untuk mengigat apakah aku pernah kesini atau tidak?" Tanya Permaisuri.
"Semua jawaban yang ingin kau dapatkan berawal dari sana" jelasnya.
Dengan susah payah Permaisuri berusaha mengingat dan menggali lebih dalam lagi diotaknya apakah benar atau tidak.
Seperti ada sebuah array tak kasat mata menghalangi pikiran tentang masa lalunya. Lama menggali dengan kepala pening yang amat sangat sakit tapi semua usahanya membuahkan hasil tak lama sebuah percakapan terlintas diotaknya.
"Siapa kau?"
"Hei paman santai saja tak usah ngegas begitu"
"Sialan kau!! Cepet katakan sedang apa kau disini jika tidak akan kubunuh kau"
"Membunuhku? Jangan harap. Kau tak akan mampu membunuhku meaki dalam mimpimu sekalipun"
"Haih paman aku kira kekuatanmu besar seperti omonganmu tapi aish" keluhnya.
"Kau,,,kau bagaimana bisa?"
Slass
__ADS_1
Arggh
"Hai tampan"
"Ihh aku ingin membantu kalian tau. Kenapa malah seperti ini respon kalian huh"
"Nona apakah benar yang nona katakan tadi?"
"Tapi disini bukan tempatmu nona"
"Memang disini bukan tempatku. Tempatku sangatlah jauuuhhh dari sini"
"Nona,,,maafkan saya,,,saya tak bermaksud begitu. Hanya saja saya tak ingin jika kita berempat mendapatkan banyak musuh dan rintangan yang akan kami hadapi"
"Yang Mulia? Apakah anda baik-baik saja?"
"Oh astaga bagaimana mungkin kau bisa menahannya hah"
"Teman bodohmu ini tetkena racun"
"Hei kau siapa nama kalian?"
"Nama kami adalah-"
Cup
"Dasar mesum! Tak tau berterima kasih sudah ku tolong malah membalasku seperti ini dasar sialan"
"Heh kalian berikan obat itu pada pria mesum ini. Aku akn pergi dan semoga aku tak akan bertemu dengan dirimu lagi"
"Manis sekali meskipun tertutupi cadar"
"Kalian bawakan Benwang obat yang nona tadi katakan"
Sebuah cuplikan berputar dengan cepat membuat pusing dikepalanya semakin bertambah saja. Gambaran yang lama kelamaan perlahan memudar dan pening dikepalanya juga berangsur angsur berlalu menyisakan tubuh yang menegang dengan keringat yang bercucan diwajah cantiknya.
Tidak!! Tidak mungkin. Bagaimana ini bisa terjadi kenapa aku tak mengingatnya gumamnya dalam hati tak percaya.
"Bagaimana? Apakah kau sudah mengingatnya" tanya Mantan Permaisuri.
"Lalu bagaimana?" Tanya Permaisuri.
"Sekarang aku mengingatnya" katanya Lantang.
"Apa yang kau ingat?" Tanya Mantan Permaisuri.
"Aku ingat bahwa dulu aku pernah kedunia lain beberapa kali. Tapi, yang paling aku ingat adalah waktu bertemu dengan empat orang pria yang sedang dikepung oleh musuh" jelasnya.
"Lalu lanjutkan" kata Mantan Permaisuri antusias.
"Kenapa kau sangat antusias mendengar ceritaku?" Tanyanya datar.
"Ya karena aku penasaran" katanya malu.
"Bukankah kita satu jiwa seperti katamu itu? Lalu kenapa kau sangat penasaran dengan cerita yang akan aku ceritakan bukankah kau pasti juga tau?" Tanya Permaisuri yang dilanda kebingungan atas sikap Mantan Permaisuri.
"Kita memang satu tapi jika kau yang mengambil alih tubuhku maka aku akan tertidur dan tak akan mengetahui apa yang kau lakukan. Begitupun sebaliknya, tapi kau istimewa karena kau jiwa yang kuat. Kau bisa melihat apa yang aku lakukan dan orang lain lakukan padaku saat kau mengambil alih tubuhku" cicitnya sedih.
"Sudahlah tak apa. Mau aku ceritakan lagi tidak?" Tanya Permaisuri agar tak membuat orang didepannya ini merasa sedih.
"Baik cepat tanjutkan" kata Mantan Permaisuri antusias. Entah pergi kenama kesedihannya yang tadi.
"Baiklah. Aku memang mengingat bahwa keempat pria tadibdiserang oleh sekelompok pembunuh bayaran yang mengincar pria berhanfu hitam. Para pengikutnya memanggil pria berhanfu hitam itu yang mulia tapi aku tak tau siapabyang mulia itu. Dipikiranku terlintas bahwa Yang Mulia itu adalah anggota kerajaan tapi tak tau kerajaan mana" katanya mengingat-ngingat apa yang pernah terjadi padanya.
"Yang Mulia? Maksudmu?"
"Ya mereka memanggil Pria berhanfu hitam itu Yang Mulia dan aku juga melihat bahwa keempatnya bukan sepertibtuan dan majikan. Lebih pada seorang teman pada temannya yang lain" katanya lagi.
"Kenapa begitu?" Tanya Mantan Permaisuri bingung.
"Karena yang aku lihat perlakuan mereka, gaya bicaranya, dan tatapan mata mereka berbeda seperti kebanyakan tuan dan pelayan"
"Jelaskan secara singkat saja. Penjelasanmu terlalu bertele tele aku tak mengerti" keluhnya.
"Kakiku kram ngomong-ngomong" cetus Permaisuri.
"Oh astaga maafkan aku. Kita kesana saja duduk dubawah pohon lebih enak karena udara disini sangatlah sejuk" kata manran Permaisuri setelah menyadari kebosohannya.
__ADS_1
"Dasar bodoh" gumam Permaisuri pelan tapi mampu didengar oleh orang disampingnya.
"Hei aku tidak bodoh hanya lupa" teriaknya tak terima dikatakan bodoh.
"Huhh mana ada orang bodoh yang mengaku" dengus Permaisuri.
"Huhh mana ada orang bodoh yang mengaku. Jika aku bodoh kau pun sama bodihnya denganku ingat kita itu satu tau" katanya mengikuti perkataan Permaisuri dan mengingatkan Permaisuri bahwa mereka satu pada akhir kalimatnya.
"Kita memang sati tapi seperti katamu tadi aku jiwa yang kuat dan pikiranku jauh lebih luas karena berasal dari dunia Modern tidak sepertimu yang kolot itu" hina Permaisuri menyadarkan manusia yang disampingnya agar sadar.
"Hehehe maaf maafkan aku khilaf tadi" kekehnya sembari menggaruk kepala bagian belakang yang tak gatal.
"Sudahlah mau aku jelaskan lagi apa tidak? Jika tidak aku ingin beristirahat saja disini" kata Permaisuri.
"Baiklah baiklah lanjutkan saja" kata Mantan Permaisuri cemberut.
"Meskipun mereka memanggil pria berhanfu hitam itu Yang Mulia tapi terselip kata yang seperti memang panggilan biasa tanpa unsur jabatan" karanya
"....."
"Jika diduniaku dulu, banyak orang yang bergurau menggunakan Yang Mulia, Kaisar, Permaisuri, Pangeran dan masih banyak lagi sebagai panggilan. Disana tak ada kasta jika berteman semuanya sama rata. Meskipun dari keluarga kaya mereka kadang tak malu bermain atau bergabung bersama anak lainnya. Memang masih ada juga orang yang seperti disini menganggap bahwa kekuasaan adalah segalanya semua hal dapat dibeli dengan uang. Tapi untuk keempat orang itu termasuk dalam golongan yang memanggil Yang Mulia secara santai jika mereka bersama dan mungkin juga jika bersama dengan anggota kerajaan kara Yang Mulia lebih berat katanya dari biasanya"
"Oh begitu ya"
"Ya. Sekarang giliranmu kenapa kau menyuruhku unyuk mengingat apakah aku pernah kedunia ini sebelumya atau tidak?" Tanyanya.
"Oh iya hampir saja aku melupakan itu" katanya sembari menepuk keningnya pelan.
"......" Permaisuri hanya diam demgan wajah datarnya memandang orang disampingnya yang sedang cengegesan tak jelas.
"Baiklah dengarkan dengan sebaik-baiknya karena aku tak akan mengulanginya dua kali"
"Ya katakan"
"Apakah kau sudah tau bahwa Kaisar yang selama ini berada diKekaisaran Han bukanlah Kaisar yang sesungguhnya?" Tanyanya hati-hati.
Tak ada jawaban dari Permaisuri karena Permaisuri termenung mendengar apa yang dikatakan Mantan Permaisuri ini. Bagaimana ini bisa terjadi?.
"Apakah kau sudah tau sebelumnya?" Tanyanya lagi.
"Ya" tegasnya.
Mantan Permaisuri tak menyangkan bahwa Permaisuri sudah mengetahuinya mendahului dirinya yang sudah bertahun-tahun bersama dengan Kaisar.
"Bagaimana kau bisa mengetahui bahwa dia bukanlah Kaisar yang sesungguhnya?" Tanyan Mantan Permaisuri bingung.
"Awalnya aku tak tau tapi saat Zhang Feng mangetakan bahwa ingin menceritakan sesuatu saat aku tertidur disanalah akubmerasa ada yang janggal tapi aku berusahan untuk menyingkirkan pikiran negatifku" katanya.
"Memangnya apa yang dikatakan oleh Zhang Feng?"
"Aku tak terlalu jelas dia membisikkanku sesuatu pada saat aku setengah sadar dari tidurku"
"Apa yang dia katakan?"
"Dia mengatakan bahwa yang kau lihat bukanlah kebenaran, dia bukan orang yang ku anggap ada selama ini tapi,dia yang mengambil apa yang aku harapkan selama ini. Itulah yang dikatakan Zhang Feng padaku" jelasnya menerawang pada saat putranya membisikkan kata itu.
"Tapi kenapa kau bisa semudah itu mengetahui apa yang dimaksud oleh Zhang Feng?"
"Kau lupa aku berasal dari dunia Modern yang hidupnya kebih keras dibanding disini"
"Ya aku tau itu"
"Perkataan Zhang Feng seperyi mudah unyuk diartikan tapi sulit untuk difahami"
"Ck. Lansung keintinya saja jangan berbelit-belit" kata Mantan Permaisuri malas karena otaknya tak mampu untuk memahami perkataan Zhang Feng.
"Itu karena kau terlalu bodoh. Jika kau tak bodoh maka kau akan mengerti apa yang kau ucapkan oleh putraku" jelas Permaisuri.
"Dia juga Putraku tau"
"Oh benarkah?" Tanya Permaisuri dengan alis yang dinaikkan.
"Emm,,,aku tak yakin ehehe karena emm pada saat melakukan itu kau yang mengambil alih" kara Mantan Permaisuri dengan ringisannya.
"Hah yang benar saja kau!!"
Bersambung~
__ADS_1