
Typo (s) bertebaran Amatir maklumkan
Happy Reading gaes~
Matahari mulai meninggalkan tempatnya dan digantikan oleh sang rembulan menggantikan tugas sang surya.
Begitu pun dengan pengobatan yang dilakukan untuk Permaisuri yang kini telah usai dari satu jam yang lalu. Kini Pavillium yang ditempati oleh Ibu negara kekaisaran Han itu sepi menyisakan ketiga orang yang sedari tadi tak beranjak walau untuk membersihkan diri sendiri,mereka enggan meninggalkan orang terkasihnya sendirii.
Jika kalian bertanya kemana perginya Kaisar dan yang lain? Maka jawabannya sudah meninggalkan Pavillium Permaisuri dengan paksaan dan ancaman. Para pengikut Permaisuri pergi dengan perasaan cemas dan khawatir namun mereka tetap menjalankan perintah yang diberi untuk mereka.Tentu saja bagi orang lain itu merugikan diri sendiri jika tak segera meninggalkan tempat.
Namun tidak untuk Kaisar sang penguasa Kekaisaran Han yang disegani oleh semua orang bahkan oleh kekaisaran tetangga, jika bukan karena ancaman Pangeran Mahkota Sang Kaisar tak kan pergi begitu saja.
"Eughh" leguhan seseorang membuyarkan lamunan ketiga orang berbeda generasi itu.
"Xiao'er agaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Tabib Liang.
"Ugh paman keadaanku sudah membaik. Jangan khawatir" jawabnya.
"Syukurlah jika begitu paman lega mendengarnya"
"Kalian kembalialah dan bersihkan badan kalian" ucapnya yang menyadari bahwa penampilan mereka masih sama dengan tadi sore hanya saja saat ini lebih berantakan.
"Tidak" sarkas ketiganya.
"Kenapa? Apa kalian tak merasa bahwa tubuh kalian sudah bau dan lengket oleh keringat" sengitnya dengan nada sinis tak terbantahkan.
"Ampun Permaisuri tapi hamba akan menjaga anda biarlah hamba seperti ini"
"Bener ibunda aku akan tetap disini menemani ibunda saja"
"Tapi aku tak menerima PENOLAKAN kalian pastu mengetahui bahwa aku paling tidak suka dibantah. Apalagi jika menyangkut orang terdwkatku dan juga perhatikan kesehatan kalian dulu baru merawatku dengan bener" ucapan dingin mereka terima dan mereka menyadari bahwa mereka belum membersihkan diri mereka dan belum makan dari sore hingga menjelang makan malam pantas saja Permaisuri begitu marah pada mereka.
"Huft baiklah. Baiklah! Ibunda Feng'er akan pergi membersihkan diri terlebih dahulu. Tapi, ibunda Feng'er akan makan malam bersama ibunda apakah boleh?"tanyanya.
"Tentu. Kenapa tidak sayang" jawaban Permaisuri membuat Pangeran Mahkota pergi meninggalkan pavilliun sang ibunda dengan berlari diikuti sang pengawal pribadinya dengan suasana hati yang riang atas jawaban ibunda tercintanya.
"Dan kalian berdua kenapa masih disini apakah kalaian tak ada niatan pergi membersihkan tubuh kotor dan bau kalian itu huh!" Dengusan sebal dilayangkan Permaisuri pada kedua orang yang masih betah berada didalam kamarnya membuat Permaisuri kesal krena kedua orang itu tak mau menuruti permintaannya atau lebih tepatnya perintah mutlak itu.
"Haih dasar keponakan durhaka. Baiklah paman akan memnersihlan diri terlebih dahulu tapi setelah itu paman akan kembali lagi kesini." Katanya seraya berlalu pergi.
"Dan tak menerima penolakan"tanpa melihat kearah Permasuri Tabib Liang menjawab dengan naga tegas karena ia mendengar nafas dan decakan mulut seperti akan mengatakan seauatu maka dari itu Tabib Liang langsung mengatakan hal itu agar tak dibantah oleh keponakannya.
Sedangkan Permaisuri yang ucapannya dipotong sebelum mengeluarkan perlataan hanya berdecak sebal karena kalah cepat oleh paman menyebalkannya itu.
"Hamba permisi Yang mulia Permaiasuri.Kkk~" ucapan salam dari pelayan setianya yang diikuti oleh kekehan geli menambah kekesalan Permaisuri. Dan tanpa menunggu jawaban Permasuri Rong Xue langsung melenggang pergi denganperasaan geli menahan tawanya.
"Sialan! Mereka membuat aku tambah kesal saja. Sudah tau aku kesal karen selir sialan itu malah ditambah dengan mereka. Huh menyebalkan sekalia" gumamnya kesal dan tak berhenti menggrutu menyumpah serapahi mereka dan Selir An serta Kaisar. Tentu saja hahaha.
~o0o~
Disisi lain waktu yang sama namun tempat yang berbeda. Jauh dari keramaian namun gelap gulita hanya diterangi sang rembulan yang hanya mengintip disela sela pohon menjulang tinggi. Disebuah bangun mewah nan megah terdapat seorang pemuda tampan hidung mancung dengan bibir yang lumayan berisi dibagian bawahnya jangan lupakan mata tajam setajam mata elang dan wajah tampannya sedang meminum cairan berwarna merah jangan lupakan senyum yang sangat menawan itu. Namun sangat disayangkan wajah tampannya harus ditutupi oleh topeng hitam dan sedikit gradiasi merah serta emas menambah keagungannya. Juga aura yang menguar dari tubuhnya membuat siapa saja merasa terintimidasi dan merasa terancam serta tertekan. Aura agung yang begitu mulia namun sangat dingin dan hangat secara bersamaan itu dapat membuat siapa saja merasa terlindingi juga terancam.
__ADS_1
Tak lama terdengar suara gesekan antara kain dengan udara yang semakin lama aemakin mendekat dan tak lama munculai sesosok mahkluk entah itu manusia atau apa karena tak terlalu jelas.
"Hormat Yang Mulia Kaisar yang agung semoga selalu bahagia dan hidup beribu tahun lagi" kata seorang lelaki berbaju serba hitan dan topeng setengah wajahnya namun tak menutup ketampanannya namun kalah tampan dari lelaki yang duduk tenang meminun cairan berwarna merahnya.yang ternyata sesosok makluk tadi.
"Hn" lelaki tampan itu hanya menjawab dengan gumaman tak jelas dan jangan lupakan tampang bosannya dan terus meneguk minuman merah itu tanpa menghiraukan siapa yang baru saja mendatanginya.
"Lapor Yang Mulia hamba mendapatkan kabar tentang dia" ucapnya menahan diri agar tak terbatuk dan berdiri kokoh.
"Katakan" singkat padat dan jelas tanpa melihat sipelapor.
"Ampun.Beribu ampun Yang mulia hari ini dia mengalami hal sulit yang diakibatkan oleh 'mereka' namun sekarang Yang Mulia harap bersantai karena semua sudah hamba atasi dan aman terkendali" ucap orang berpakaian serba hitam itu gugup namun dia mengusahakan supaya tak berbata jika tidak maka orang yang dipanggilnya Yang Mulia itu akan marah besar.
Prang
"Kau bilang si sialan itu berbuat ulah pada wanitaku lagi dan kau juga mengatakan Zhen harus bersantai huh!" Nada rendahnya saat menekankan kata 'wanitaku' menggema diseluruh ruangan yang sunyi sepi tanpa pencahayaan namun hanya cahaya sang rembulan yang menerangi singga sana lelaki bertopeng hitan dan bergardiasi merah serta emas itu dengan nada marah tak terbantahka.
"A,,,ampun yang mulia.Ini salah hamba membuat mereka berbuat ulah lagi dan tak membantu dia karena banyaknya orang. Saya berjanji akan lebih berusaha lagi lain kali"
"Huh karena Zhen dalam suasana hati yang baik saat ini kau Zhen maafkan namun tidak untuk lain kali. Ah maksud Zhen ini tak ada kata lain kali kau mengerti Jun bei"
"Hamba mengerti Yang Mulia. Hamba mengerti" kata lelaki nerpakaian serba hitam yang kita ketahui bernama Jun bei berlutut demgan tubuh gemertar tak kuat menahan aura sang tuan.
"Baik. Baiklah kau boleh pergi sekarang"
"Terima kasih Yang Mulia. Terima kasih banyak." Setelah itu Jun bei pergi menyisakan kegelapan.
"You are mine, only mine and forever mine. No one can touch you but me. I will repay those who hurt you more and more than they did to you that was my promise. The promise of a real man" katanya dengan seringaian penuh dengan ambisi.
~o0o~
"Hachim...Hachim!" Terdengar suara bersin seorang wanita cantik.
"Sialan!! Siapa yang berani membicarakanku jika bertemu nanti akan kutendang bokongnya itu. Dasar sialan!" Ancaman dan umpatan tak luput dari bibir mungil seperti chery itu.
Skip~
Makan malam
Waktu berjalan begitu cepat dan waktu makan malam telah tiba. Pangeran Mahkota Han mungkin sebentar lagi akan tiba dan ikut serta makan malam bersama ibunda tercintanya didalam pavilliun sang Permaisuri tanpa bergabung dengan anggota kerajaan lainnya didalam ruang makan khusus yang sudah disediakan itu.
Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang bersarang dalam otak cantik Permaisuri saat ini. Tentang apakah yang selama ini ia rasakan apakah itu benar? Dan apa yang sebenarnya terjadi saat ini? Gambaran buram penuh teka-teki seperti potongan pazel membuat pening pada kepalanya makin hari kian bertambah. Ada apa ini dan apa hubungannya dia dengan potongan pazel itu. Ah sudahlah memikirkan ini semua membuat kepalaku pusing sstt~ innernya.
Tak lama terdengar langkah kaki bersautan satu sama lain dapat Permaisuri pastikan bahwa langkah kaki itu berasal dari ketiga orang tadi atau lebih tepatnya Tabib Liang, Pangeran Mahkota Han, dan juga Rong Xue.Namun tak membuatnya bergerak barang sebentar saja.
Klek~
"Salam Ibunda/Permaisuri" hormat yang diberikan oleh Ketiga orang berbeda gender dan generasi itu tak mendapatkan jawaban karena Sang Permaisuri masih tenggelam dalam lamunanannya.
Karena tak mendapatkan jawabakan mereka bertiga memutuskan untuk lebih mendekat pada Permaisuri hanya sekedar melihat apa yang dilakukan Permaisuri sampai - sampai tak mendengar salam mereka.
Ternyata Permaisuri hanya duduk melamun menatap kosong pada depannya tanpa menyadari bahwa orang yang dirinya tunggu sudah berada didepannya.
__ADS_1
"Ibunda" ucapan lembut serta belaian pada wajahnya membuat Permaisuri tersadar dari lamunannya dan segera kembali pada dunia nyata.
Setelah tersadar Permaiasuri mendapati Putra kesayangannya menatap dirinya khawatir dengan tangan yang masih setia membelai wajah wanita tercintanya.
"Eh. Kalian sudah datang ternyata. Maafkan aku yang tak menyadari kedatangan kalian" ucapnya penuh sesal.
"Tak apa ibunda kami mengerti"
"Terima kasih" senyum cerah Permaisuri gerikan pada ketiganya membuat pipi serta telingan mereka memerah karna ulah Permaisuri.
"Eh,,,kaliam kenapa? Muka kalian memerah" tanyanya polos dan jangan lupakan kepala yang dimiringkan sedikit kekiri karena bingung menambah keblusingan mereka.
"Ah...anu itu- Khem kami tak apa Ibunda" kara Pangeran Mahkota terbara karena gugup.
Andai didepanku ini bukan ibundaku sudah dari dulu aku menjadikannya Permaisuriku inner Pangeran Mahkota dalam hati.
"Permaisuri maaf tapi waktunya makan malam" kata Rong Xue menyela pembicaraan ibu dan anak itu agar tak lupa pada makan malam yang sudah direncanakan.
"Ah iya hampir saja aku melupakannya" katanya sambil menepuk dahinya pelan. Tentu saja.
Setelah itu mereka bersiap untuk memulai makan malamnya. Tak ada jabatan,kasta dan tahta dalam makan malam mereka karena mereka makan bersama dengan semua dayang yang berada dikediaman Permaisuri hanya saja tempat mereka tak bersama Permaisuri tapi di sekitar Permaisuri.
Tak ada suara dalam makan malam itu hanya dentingan alat makan saja. Sekirar 20 menit mereka makan malam akhirnya selesai juga dan rencananya Permaisuri akan membicarakan sesuatu dan membutuhkan mereka semua dalam rencananya kali ini.
"Khem maaf semuanya. Perhatiannya sebentar" kata Permaisuri yang langsung diikuti oleh semuanya.
"Jadi begini aku mengumpulkan kalian semua karena aku membutuhkan bantuan kalian"
"Apa itu Xiao'er" tanya Tabib Liang.
.
.
.
*Bersambung~
《》_《》 《》_《》《》_《》
Assalamualaikum Readers
mohon maaf karena keterlambatannya. mohon dimaklumi ada beberapa hal yang menghambat proses Update.
jangan lupa vote,like serta komentnya
juga jangan lupa klik tombol favorit
wassalamu'alaikum Readers*
《》_《》《》_《》《》_《》
__ADS_1