The Assassing Queen Traveled Time : Liang Feng Xiao

The Assassing Queen Traveled Time : Liang Feng Xiao
87. Kapan akan kembali, Ma?


__ADS_3

...Typo (s) bertebaran Amatir maklumkan...


...Happy Reading gaes~...


“Tuan muda, ada hal apa mencari saya?” Tanya paman Zhu serius.


“Bukan hal penting, hanya untuk menanyakan sesuatu hal yang tidak terlalu penting.” Katanya santai.


“Apa itu?” Tanya paman Zhu penasaran.


“Apakah ada tanda-tanda dia akan kembali?” kini giliran tuan muda yang bertanya dengan pandangan kosong lurus kedepan.


“…..” paman Zhu tak langsung menjawab, karena bingung ingin menjawab apa.


“Paman? Jawab pertanyaanku, jangan hanya diam begitu.” Tegasnya menunggu jawaban paman Zhu.


“Mohon maaf tuan muda, hanya saja saya juga tak tau mengenai hal itu. Saya sudah berusaha sebisa mungkin untuk mengirim sinyak kepada dia, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Jika saya tetap memaksa, maka saya akan mendapatkan hukuman karena menantang alam.” Jelas paman Zhu.


“…..”


Inilah yang ditakutkan oleh paman Zhu, dimana keterdiaman tuan muda menyimpan begitu banyak tanda Tanya. Dengan keterdiamannya, tuan muda mampu melakukan apa saja tapi yang paling sering iyalah,,,


“Hiks…”


Menangis


Ya kalian benar tuan muda hanya mampu menangis, menangisi nasib buruknya yang tidak menguntungkan. Tuan muda tak ingin orang tua kandungnya, yang diinginkannya hanyalah dia seorang tidak dengan yang lainnya.


Dia yang selalu ada untuknya, yang melindunginya dari panasnya matahari, dari dinginnya malam dikala hujan, dan juga kerinduannya akan kasih sayang. Sejak kecil tuan muda diasuh oleh dia, dari tuan muda bayi merah yang dibuang dial ah yang memungutnya hingga sebesar sekarang.


“Tuan muda, ingatlah pesan yang pernah dia katakan dulu. Jangan membuang air mata tuan muda hanya untuk menangisi kepergiannya, karena dia sangat tak menyukai hal itu.” Jelas paman Zhu.


“Aku tau paman, aku sangat paham mengenai hal itu. Hanya saja aku sangat merindukan dia, kenapa dia tak membawaku ikut serta bersamanya. Kenapa paman?” jeritnya frustasi dengan tangis yang sudah pecah ditambah tangan yang menjambak rambutnya sarat akan keputusasaan.


“Tuan muda, sadarlah jangan seperti ini.” Cegahnya. Namun sepertinya tuan muda tak mendengarkan larangannya itu.


“DIAM!!”


“Tidak tuan muda, kau harus berhenti. Jika tidak kau sendiri yang akan tersiksa, tuan muda.” Peringatnya lagi.


“PERGI!! PERGI KAU DARI SINI!” Seru tuan muda mulai tak terkandali.


“Tuan muda, sadarlah. Jika dia mengetahui keadaan tuan muda yang kacau seperti saat ini, dia akan bersedih,” ucap paman Zhu lembut.


Hiks…hiks…


Benar saja tuan muda mulai sedikit tenang, meskipun tangannya tetap memengang rambutnya. Paman Zhu akhirnya bisa bernafas lega melihat tuan mudanya perlahan bisa mengendalikan dirinya. Memang benar dia adalah matahari yang dapat menyinari kegelapan, menembus gelapnya malam dan menebar kebahagiaan.


Mungkin itulah gambaran untuk dia yang sangat dibanggakan oleh mereka, dia yang tak pernah dilupakan oleh siapapun dan sampai kapanpun tak akan pernah tergantikan.

__ADS_1


“Tenanglah, tuan muda.” Kata paman Zhu lembut sembari menarik tangan tuan muda agar terlepas dari rambutnya.


Hiks…hiks…


Lagi, lagi hanya isakan tuan muda yang terdengar, tuan muda seakan tak peduli jika nanti dirinya dikatai cengeng atau apa. Terserang mau dibilang apapun, tuan muda tak peduli karena yang dipedulikan olehnya adalah dia. Ya, dia adalah hal yang sangat penting yang dia pedulikan, bahkan tidak ada seorangpun yang dapat membuatnya seceria dulu selain dia.


“Tenanglah, jangan bersedih aku selalu bersamamu, dimanapun aku berada akan tetap bersama denganmu, dihatimu. Pejamkan matamu, rasakan aku ada disekitarmu, berdoalah dan yakinlah aku akan kembali.” Sebuah bisikan lembut menggema ditelinganya hingga tak sadar isakan yang sedari tadi terdengar kini tak ada lagi.


Bisikan lembut yang terasa sangat familiar ditelinganya, suara lembut nan tegas itu mengingatkannya pada dia. Dengan tak sadar dirinya tersenyum lembut dengan binary bahagia seperti dirinya yang ceria, paman Zhu yang melihatnya tertegun dan terheran dengan sikap aneh tuan mudanya itu.


Ada apa dengan tuan muda? Tanyanya dalam hati dengan tanda Tanya besar.


Tuan muda tak menghiraukan paman Zhy malah dirinya memejamkan matanya mengikuti intruksi dari bisikan lembut tadi. Dengan tangan kanan yang meremat dadanya dan jangan lupakan senyum seribu wattnya mampu menimbulkan tanda Tanya besar diotak paman Zhu.


Dialam bawah sadar tuan muda, dirinya berada dibawah hamparan langit dengan bintang-bintang bertebaran dan bulan yang amat sangat cerah. Sedangkan dirinya saat ini berbaring dirumput yang lembut menyamai lembutnya karpet diruang santai dirumahnya, tak jauh darinya terdapat danau dengan air berwarna biru cerah seperti awan disiang hari begitu indah. Angin sepoi-sepoi dengan nyanyian pohon-pohon menambah pesonanya.


Tuan muda sendiri tak tau dia ada dimana, yang pasti tempat itu sangat mempesona bahkan lebih indah dari yang dia pernah dia lihat sebelumnya. Karena merasa diperhatikan, akhirnya tuan muda bangkit untuk duduk menyamankan posisinya. Dengan melihat kanan kirinya namun  tak mendapati siapapun selain dirinya seorang.


Tapi, tuan muda sangat yakin instingnya tak pernah salah bahwa ada seseorang yang memperhatikannya sejak tadi, namun dirinya tak tau siapa orang itu. Semakin lama tuan muda kesal karena diperhatikan, dengan tidak sabarannya tuan muda berteriak untuk menyalurkan kekesalannya itu.


“KELUAR!!” Serunya kesal dengan nafas yang terengah-engah.


Swinggg


Hanya hembusan angin yang menjawab teriakan kesal tuan nuda, hal itu malah membuat kekesalan tuan muda semakin menjadi hingga ingin menangis rasanya.


“AKU BILANG KELUAR!!” Serunya lagi dengan air mata yang sudah mengalir membentuk sungai kecil dipipi tirusnya.


“Sudah besar kenapa masih menangis?” tiba-tiba sebuah suara lembut nan tegas mengomentari sikap tuan muda yang kekanakan itu, dengan sedikit ejekan dikalimatnya.


Tuan muda berbalik ingin melihat siapa yang berani  mengejeknya, namun sedetik kemudia tubuhnya menegang tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Nafas yang terngah-engah, air mata yang malah semakin deras, entah reaksi amacam apa itu, yang pasti sangat menggelikan.


Dengan langkah yang terburu-buru, tuan muda berlari menghampiri orang yang telah berani mengejeknya tadi. Dengan tangan yang sesekali mengusap wajahnya menghalangi air mata sialannya untuk mengalir.


Greep


Hiks…hiks


Pelukan hangat tuan muda layangkan untuk orang itu dengan isak tangis yang setia mendampingi tuan muda. Dengan sayang orang itu mengelus punggung tuan muda untuk menyalurkan kehangatan dan sesekali mencium pucuk rambut tuan muda yang wangi bayi.


“Kkk~” orang itu tertawa geli tak menyangka bahwa tuan muda masihlah sama dan tak berubah sama sekali, hanya tubuhnya yang berubah menjadi agak kurus.


Menyadari tubuh tuan muda yang kurus membuatnya merasa bersalah, namun tak mampu melakukan apa-apa selain menunggu waktu. Ingin sekali dirinya membawa tuan muda disisinya, tapi itu tak mungkin. Mengingat bahwa sekarang mereka sudah berbeda dan tak bisa seperti duliu lagi.


“sudah jangan menangis lagi, kau sangat jelek jika menangis.” Katanya dengan nada ejekan tapi tuan muda tak memperdulikannya.


“Hei!! Kau sudah besar, tidak malu jika dilihat temanmu hem?” tanyanya lembut.


“Tidak akan pernah malu selagi bersama denganmu, Mama.” Jelas tuan muda mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


“Heh! Bocah nakal, aku bukan Mama mu aku kakak mu,” ucap orang itu  pura-pura kesal.


“Tapi, kau mamaku? Bukan kakakku, sampi kapanpun akan seperti itu.” Katanya serius.


“Aku kakakmu bukan mamamu, kau ini sejak kecil selalu saja begitu.” Keluh orang itu kesal namun tetap memeluk erat tuan muda.


“Karena kamu memang mamaku, sejak aku bayi kau sudah merawatku, tak peduli jika waktu itu kamu masihlah seorang anak kecil yang akan tumbuh remaja.” Jelas tuan muda.


Memang benar, waktu tuan muda diasuh olehnya, dirinya masihlah anak kecil berusia sebelah tahun baru pulang dari kelas militernya. Jika anak seusianya masih bermain dan bersenang-senang, maka tidak dengannya yang sudah lulus bahkan S2 pun sudah ia pijaki. Luar biasa bukan, dan diusianya yang kesebelah itu dia sudah diterima dan menjabat sebagai kapten dalam militer dengan pasukan khus.


“Baiklah, baiklah kau menang.” Kata orang itu pasrah.


“hehe,” kekehnya senang jangan lupakan deretan gigi putih dengan lesung pipi  yang sangat menawan.


“Kenapa kau sangat kurus? Apakah mereka tak merawatmu dengan baik? Hingga kau bisa begini?” tanyanya beruntun.


“Tidak, mereka sangat menyayangiku. Tapi, aku akan sangat bahagia jika mama berada disisiku.” Katanya dengan ceria.


“Hey! Dengarkan mama,” ucapnya memengang kedua pipi tuan muda untuk melihatnya.


“Mama akan pulang, tapi tidak sekarang. Akan ada waktunya mama pulang.” Katanya lembut.


“Tapi, kapan ma? Kapan mama akan pulang dan bersama denganku lagi? Kapan ma?” tanyanya sedih.


“Boy lihat mama, tak selamanya mama akan selalu bersamamu nak, akan ada saatnya kita berpisah oleh waktu atau dengan mau tapi tidak dengan hati kita, jangan bersedih dan putus asa pada keadaan. Mama tak menyukai sikapmu yang lemah itu,” ucap orang yang dipanggil mama oleh tuan muda.


“Aku sangat kesepian tanpa mama, aku sangat menrindukan kebersamaan kita, aku tak bisa hidap tanpa mama, jika mama ingin pergi bawa aku bersamamu. Jangan tinggalkan aku sendiri.” Cicitnya tak berani memandang wajah sang mama.


Sang mama sangat memahami kesedihan yang dirasakan oleh tuan muda, tak ada yang memahami tuan muda selain dirinya, jika boleh dirinya sangat ingin bersama dengan tuan muda. Tapi, apa boleh buat jika takdirnya harus melewati ujian terlebih dahulu untuk kembali bersama dengan tuan muda.


“Hei boy! Dengarkan mama, kau jangan bersedih, jangan menangisi kepergian mama, ubahlah hidupmu menjadi lebih baik dan berwarna. Jangan bersedih hati atau menyesali apa yang sudah terjadi, buktikan pada mama jika selama mama pergi kau jauh lebih dewasa. Mama akan merasa sangat bangga jika kau bisa mengubah hidupmu menjadi lebih baik lagi. Mama akan menangihnya jika nanti mama kembali, jangan sampai mama kecewa melihat ketidakberhasilanmu. Mengerti!” jelasnya tegas.


Seperti mendapat angin segar, tuab muda menganggung mengiyakan dengan mata berbinar mendengar penuturan sang mama padanya. Benar, jika nanti mamanya kembali tapi dirinya masaih dalam keadaan seperti ini, mau ditaruh dimana wajah tampannya yang sangar itu, bisa-bisa nanti dirinya akan kembali ditinggalkan atau mamanya akan kecewa padanya.


“Benar, mama selalu mengetahui bagaimana caranya memberikan motivasi padaku untuk kembali bangkit akan keterpurukan ini. Aaaa aku sangat mecintai mama,” ucapnya memeluk erat sang mama.


“Bagus, ini baru putra kebanggaan mama.” Katanya membalas pelukan tuan muda dengan tak kalah eratnya.


“Boy, sudah waktunya mama pergi. Jangan bersedih buktikan bahwa kau sudah dewasa, jangan kecewakan mama hem. Karena mama akan sangat sedih nanti, dan ya mama akan pulang tidak dengan seorang diri tapi membawa hadiah yang akan menemani kita nanti hem.” Jelasnya.


“Tapi mama…”


“Pergilah, jangan bersedih dan kecewakan mama, jadiah laki-laki yang bertanggung jawab akan kehidupannya. Jangan menyerah akan keadaan karena tak akan mengubah segalanya. Mengerti.”


“Baiklah, aku mengerti mama,” meskipun berat baginya tapi tuan muda dengan lapang dada menerima semuanya.


“Pergilah, tutup matamu dan kau akan sampai pada tempatmu. Ingatlah mama akan selalu menyayangimu dimanapun mama berada,” ucapnya mencium kening tuan muda penuh sayang.


“Sampai bertemu kembali nak, mama sangat menyayangimu.”

__ADS_1


...Bersambung~...


__ADS_2