The Assassing Queen Traveled Time : Liang Feng Xiao

The Assassing Queen Traveled Time : Liang Feng Xiao
41. Awal Mula Pertemuan


__ADS_3

Typo (s) bertebaran Amatir maklumkan


Happy Reading gaes~


Benar saja saat sampai didepan pintu ternyata pembukaan acara Festival tahunan sudah dimulai beberapa menit yang lalu dan itu berhasil membuat perempatan siku muncul didahi mulus Permaisuri. Apalagi melihat kursi kebesarannya diduduki oleh Selir An dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Jangan lupakan Kaisar yang sepertinya tak mempermasalahkan tentang itu.


Saat kasim penjaga pintu akan melaporkan kedarangannya serta rombongan, Permaisuri menyuruh untuk diam jangan menimbulkan suara apapun. Karena Permaisuri ingin memgetahui tanggapan apa yang akan para tamu katakan melihat bahwa kursi kebesaran seorang Permaisuri diduduki oleh seorang Selir yang lebih rendah posisinya dari seorang Permaisuri sendiri.


Seharusnya secinta apapun seorang Kaisar pada Selirnya jika sang Permaisuri masihlah sehat jangan sampai membiarkan posisi itu diduduki oleh orang lain tanpa adanya ritual pengangkatan.


Jika hal itu dilakukan secara sengaja maka sama saja Kaisar dan Selirnya tak menghormati para leluhur yang telah mendirikan dan memperjuangkan Kerajaannya dan itu melanggar peraturan yang ada.


Tentu hukumannya pun tak main-main tapi, jika tak ada protes dari para petinggi dan mereka hanya mengamati dan melihat saja sudah dipastikan bahwa ada skema licik dibaliknya. Peperangan diharem tak akan terelakkan lagi. Meraka juga akan mendapatkan hukuman yang setimpal juga.


Kaisar terdahulu dan ibu suri yang notabennya adalah orang tua Kaisar saat ini yaitu Kaisan Han Dong Yu, merasa heran dan tak menyangkat bahwa sifat anaknya seperti ini. Dulu anaknya tak seprti ini, ananknya tak pernah berfikir untuk menikah yang difikirkan anaknya dulu hanyalah bagaimana Kekaisaran Han ini maju dan lebih berkembang pesat mengalahkan Kekaisaran dan kerajaan lainnya.


Menikah dengan Permaisuri itu memang karena dijodohkan tapi harus digaris bawahi bahwa keduanya sempat bertemu secara tidak sengaja saat Permaisuri pergi kehutan dan Kaisar berburu dihitan. Pada saat itulah keduanya bertemu.


Baiklah biar kujelaskan sesikit saja pertemuan keduanya.


Flasback On


Pagi hari yang cerah dengan embun yang masih melekat tampaklah perempuan cantik dengan cadar diwajahnya sedang menggerutu tak jelas. Sumpah serapah tak lepas dari bibir cantiknya, seperti bukan dirinya saja yang biasanya lemah lembut sekarang malah sebaliknya.


"Sialan kenapa harus seperti ini sih. Tidur dikamarku bangun-bangun eh malah disini sialan sekali. Ini juga dimana sih astaga, hutannya lebah banget gak kayak disana" kata siperempuan.


Tak terasa dirinya sudah terlalu dalam memasuki hutan yang katanya banyak binatang buas. Tapi sedari tadi tak ada satupun hewan yang menampakkan dirinya dihadapan siperempuan itu.


Dengan perasaan dongkolnya siperempuan yang tak lain adalah Permaisuri Liang Feng Xiao yang sebelum menjadi Seorang Permaisuri.


Sepertinya jiwa yang berada dalam cangkang itu bukanlah jiwa yang sesungguhnya sebab seorang Liang Feng Xiao putri dari perdana mentri yang sangat terkemuka tak pernah sekalipun mengumpat atau mengatakan hal yang berbau kasar. Jika ayah dan ibunya tau tamat sudah riwayatnya saat itu juga.


"Woahh" decakan kagum dilontarkan oleh Feng Xiao tak kala melihat pemandangan yang amat sangat indah dengan sinar matahari yang memantul didanau itu.


Ya danau, pemandangan didepannya adalah damau yang terbentang sangat indah dengan cahaya matahari sebagai lampu penerangnya. Kekesalam dihatinya entah pergi kemana saat ini, disugukan pemandangan yang begitu indah dan memanjakan mata. Siapa yang tak akan terkagum? Didunianya memang ada danau seperti ini dan juga tak kalah cantik tapi danau didepannya bukan hanya cantik tapi juga sangatlah asri tanpa ada campur tangan dari manusia.


Liang Feng Xiao berjalan maju mendekati danau, sesaat sampai ditepi danu lagi-lagi ia tak bisa untuk tak terkagum.


Bagaimana ada danau dengan air yng sejernih ini sampai ikanpun mampu untuk dilihat dengan mata telanjang.


Membuka sepatu yang dipakainya lalu mencelupkan kakinya kedalam air danau yang dingin membuat suasana hatinya bertambah sejuk. Namun ketenangannya tak bertahan lama saat sebuah suara dentingan pedang saling beradu jangan lupakan anak panah yang hampir mengenainya. Sepertinya ada peperangan kecil disekitar danau dan panah tadi mungkin meleset dari sasaran.


Karena penasaran Liang Feng Xiao mencari asal suara dentingan pedang itu.


Ternyata jarak anatar dirinya dan peperangan itu tak terlalu jauh hanya perlu memasuki hutan tepi danau sampailah ditempat peperangan kecil itu.


Terlihat empat orang berhanfu yang sepertinya bukan orang dari kalangan bawah melawan duapuluh atau lebih orang berhanfu hitam legam yang diyakininya adalah seorang pembunuh bayaran. Tak heran didunia ini mungkin membunuh adalah hal wajar atau keseharian beberapa orang untuk memusnahkan musuh-musuhnya tanpa takut mendapat hukum.

__ADS_1


Ingatlah hukum rimba berlaku dimana saja, sama dengan istilah kekinian 'Senggol bacok' yang artinya jika salah memilih lawan atau tak sengaja maupun sengaja menyinggung orang yang seharuanya tak disinggung maka ucapkan selamat tinggal untuk hari esok.


Didunia manapun Hukum rimba berlaku, mau dizaman kuno atau Modern sekalipun. Jadi jagalah lisan kita sebab kisan lebih tajam dari sebilah pedang. Lisan mampu membunuh ratusn bahkan ribuan manusia sekali ucap dari pada pedang yang masih menunggu sang tuan mengayunkannya.


Pertempuran sengit tak bisa dielakkan, dengan musuh yang semakin bertambah dan keempat orang itu semakin melemah.


Liang Feng Xiao awalnya tak peduli dengan mereka, dia menghampiri suara dentingan pedang karena rasa penasarannya tapi, melihat keempat orang itu sudah merasa kelelahan dirinyapun tak tega. Dia juga manusia yang memiliki hati nurani dan rasa iba pada makluk lainnya.


Liang Feng Xiao adalah pembela kebenaran seperti papa zola, jiwa kemanusian dan kaptennya bergelonjak ingin menumpas kejahatan yang tersaji didepan matanya. Liang Feng Xiao tak akan membiarkan ketidak adilan merajalela, meskipun dirinya dikatakan tak sopan karena ikut campur urusan orang lain. Biarlah itu menjadi urusan nanti.


Sekarang yang menjadi fokus utamanya adalah membantu keempat orang yang sudah memiliki banyak luka disekujur tubuhnya. Karena melamun sampai tak menyadari bahwa ada sebuah anak panah yang melesat dan akan mengenainya. Mendapat sinyal bahaya dalam otaknya Liang Feng Xiao langsung tanggap dengan bahaya yang nengintainya.


Posisinya sekarang adalah dudui duatas dahan pohon dengan sebuah apel ditangannya yang sempat dipetiknya tadi sebelum naik keatas. Merasa kelompok pembunuh bayaran sudah merasakan kehadirannya membuat dirinya maresa tambah senang karena sang mainan sudah mengenali tuannya.


"Kkk~ rupanya kalian sudah menyadari keberadaanku ya" kekehnya menyeramkan yang mampu membuat ular yang melilit didahan pohon menciut ketakutan.


Merasa bosan dengan pertempuran yang tak seimbang Liang Feng Xiao langsung loncat dari dahan pohon yang lumayan tinggi ke bawah tanah dan mendarat dengan sangat baik. Sepertinya siular tadi merasa lega karena kepergian Liang Feng Xiao.


"Hay hay kalian semua" sapanya girang seperti berada didisebuah panghung dan bukan ditengah-tengah pertempuran.


Mereka yang mendengar sebuah suara yang lembut dan halus namun mematukan langsung waspada. Karena mereka tak mampu mendeteksi ditingkat apa perempuan ini.


"Siapa kau?" Tanya salah satu pria berbaju hitan yang diduga sebagai ketua kelompok pembunuh bayaran.


"Aku?" Tanyanya polos dengan kepala yang dimiringkan kekiri sedikit jangan lupakan jari yang diangkatnya.


"Ya kau siapa lagi hah" kata si ketua kesal.


"Sialan kau!! Cepet katakan sedang apa kau disini jika tidak akan kubunuh kau" kata siketua marah.


"Membunuhku? Jangan harap. Kau tak akan mampu membunuhku meski dalam mimpimu sekalipun" katanya dingin dan menyeramkan. Berbeda sekali dengan tadi yang girang seperti bocah polos.


"Wah wah rupaya kau menantang diriku. Maka matilah kau" kata siketua melemparkan pedang yang dipegangnya kepada LiangFeng Xiao. Namun siketua harus menelan kekecewaan yang mendalam. Sebab bukannya membunuh malah pedang itu menjadi senjata pembunuh untuknya sendiri.


Mereka terkaget dengan mata yang hampir keluar. Bagaimana tidak pedang yang dilemparkan tadi memiliki kecepatan yang tinggi tapi perempuan ini mampu menahannya dan menjadikan pedang itu sebagai senjatanya.


"Haih paman aku kira kekuatanmu besar seperti omonganmu tapi aish" keluhnya.


"Kau,,,kau bagaimana bisa?" Tanyanya ketakutan.


"Bisa dong. Sekarang giliranku paman hihihi" katanya dengan kekeham menggerikan.


Slass


Argg


Mereka yang tadi terkejut sampai tak menyadari pergerakan yang dilakukan oleh Liang Feng Xiao, karena gerakannya yang cepat dan begitu ringan mampu menghipnotis siapa saja.

__ADS_1


"Hai tampan" sapa Liang Feng Xiao pada keempat lelaki tadi.


Memdengar sebuah suara halus nan lembut didepannya mereka berempat berubah waspada. Takut perempuan itu menyerangnya. Sedangkan Liang Feng Xiao yang mendapat respon seperti itu langsung cemberut karena niatnyakan menolong mereka tapi mereka malah melemparkan kewaspadaan padanya.


"Ihh aku ini hanya ingin membantu kalian tau. Kenapa malah seperti ini respon kalian huh" secara tak sadar Liang Feng Xiao merengek pada keempatnya.


Memang jika dirinya merasa siacuhkan dia akan merengek sampai orang itu tak mengacuhkannya lagi.


"Nona apakah benar yang nona katakan tadi?" Tanya sipria berbaju merah ragu ragu.


"Huum. Jika bukan karena ingin membantu kalian mana mau nona ini disini" katanya.


"Tapi disini bukan tempatmu nona" kata pria satunya yang berhanfu biru.


"Memang disini bukan tempatku. Tempatku sangatlah jauuuhhh dari sini" katanya yang seperti orang curhat.


"Kalau begitu nona segeralah oergi tinggalkan kami disini. Nona adalah perempuan mana bisa membantu kami yang ada nona menyusahkan kami" kata pria berhanfu hijau lumut dengan ketus.


"Jika nona ini bisa membunuh semuanya dalam sekejap kau akan nona ini cincang menjadi makanan tikus" kata Liang Feng Xiao dingin dan menyeramkan karena dirinya paling tak suka diremehkan.


Pria berhangu hijau lumut menelan ludah kasar karena ancaman yang sepertinya tak main-main itu dilontarkan pada dirinya.


Srekk


Liang Feng Xiao menangkis anak panah yang dilesatoan menuju salah satu dari keempat pria itu. Melihat kelincahan dan ketangkasan Liang Feng Xiao dalam berpedang membust mereka berempat tak bisa untuk tak terkagum.


"Wah wah rupanya kaliam masih tak menyerah heh" katanya seraya berbalik mengahadap kelompok pembunuh bayaran itu.


"Jangan banyak omong kosong kau. Kalian semua serang j****g itu jangan biarkan dia hidup" kata siketua murka.


"Jika nona ini bisa membunuh mereka semua nona ini akan meminta bayarannya dimasa deoan pada kau" katanya lagi sambil menunjuk pria berhanfu hijau lumut dengan nada rendahnya.


Sedangkan ketiganya menelan ludah kasar apalagi sipria berhanfu hijau lumut tapu sepertinya tidak dengan pria berhanfu hitam dengan gradiasi emansnya yang seperti tertarik dengan siperempuan didepannya ini.


Tak lama pertenpuran antara Liang Feng Xiao dengan kelompok pembunuh bayaran tak bisa terelakkan dan sangatlah sengit. Sedang keempat oria tadi mengamati bagaimana perempuan itu membunuh semua musuh mereka dengan keji.


Sekitat lima menit lamanya pertempuran usai dengan siketua yang tersysuk lemas. Jangan lupakan kedua tangannya yang sudah hilang entah kemana, kaki kanan yang hampir putus dan kaki kirinya yang masih utuh.


"Bagaimana apakah nona ini mampu atau tidak?" Tanyanya pada keempat pria itu.


"Nona,,,maafkan saya,,,saya tak bermaksud begitu. Hanya saja saya tak ingin jika kita berempat mendapatkan banyak musuh dan rintangan yang akan kami hadapi" jelas si pria berhanfu hijau lumut memberikan alasan.


"Tapi apapun alasannya, lain kali jangan menilai orang dari kuarnya saja. Karena-" ucapannya terpotong tak kala sebuah erangan dari salah satu dari keempay pria itu.


Argg


"Yang Mulia" seru ketiganya. Mendengar panggilan yang tak biasa Liang Feng Xiao mengernyitkan kening. Yang Mulia? Oh shitt jangan bilang jika aku berurusan dengan kekuarga kerajaan umpatnya dalam hati.

__ADS_1


Bersambung~


Kayaknya Like sama Votenya makin nurun deh:(( ayolah Like gratis kok Vote juga seiklasnya aja


__ADS_2